REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI

TESIS
REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
PADA ERA GLOBALISASI
DARWAN SARI
NIM 0990261032
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KAJIAN BUDAYA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
ii
REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
PADA ERA GLOBALISASI
Tesis untuk memperoleh Gelar Magister
pada Program Magister, Progam Studi Kajian Budaya
Program Pascasarjana Universitas Udayana
DARWAN SARI
NIM 0990261032
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI KAJIAN BUDAYA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011
iii
LEMBAR PENGESAHAN
TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL 26 AGUSTUS 2011
Pembimbing I, Pembimbing II,
Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. Dr. Sutamat Arybowo, M.A.
NIP. 19570113 198003 1 001 NIP. 1955 0721 1983 03 1
003
Mengetahui:
Ketua Program Studi Magister (S2) Direktur
Kajian Budaya Program Pascasarjana Program Pascasarjana
Universitas Udayana, Universitas Udayana
Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S. Prof. Dr.dr.A.A.Raka
Sudewi,Sp.S(K)
NIP. 19430521 198303 2 001 NIP. 19590215 1985 10 2 001
iv
Tesis ini Telah Diuji pada
Tanggal, 26 Agustus 2011
Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana
Nomor: 1442/UN.14.4/HK/2011, Tanggal 19 Agustus 2011
Ketua : Prof. Dr. I Made Suastika, S.U.
Anggota:
1. Dr. Sutamat Arybowo, M.A.
2. Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S.
3. Prof. Dr.I Gde Semadi Astra
4. Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum.
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Rasa syukur tanpa batas penulis panjatkan atas kekuasaan dan keridhaan
Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penelitian
dan penulisan tesis yang berjudul Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Masyarakat
Muna Sulawesi Tenggara pada Era Globalisasi dapat diselesaikan.
Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, memiliki banyak kekurangan di
sana sini namun hal tersebut sangatlah wajar karena terkait dengan proses dalam
menuntut ilmu. Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan selesai, tanpa
bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, seyogyanyalah penulis mengucapkan
terima kasih yang setulus-tulusnya kepada yang terhormat:
Pertama, Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. selaku pembimbing I yang
penuh perhatian telah memberikan bimbingan serta dorongan dalam
menyelesaikan penulisan tesis ini. Kepada Dr. Sutamat Arybowo, M.A. selaku
pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan kepada penulis selama ini.
Kedua, kepada Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S, Prof. Dr. I Gde Semadi Astra,
Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., sebagai tim penguji juga banyak
memberikan bantuan baik berupa komentar, kritik maupun saran atas bagianbagian
tertentu atau keseluruhan naskah tesis ini.
Ketiga, Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan
Ardika, M.A., juga pada Ketua dan Sekretaris Program Magister (S2) Kajian
Budaya Universitas Udayana Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S., dan Dr. I Wayan
Redig, serta seluruh staf pengajar Program Magister (S2) Kajian Budaya, yang
telah banyak mentransformasikan ilmu pengetahuan dan membantu penulis dalam
melaksanakan studi selama ini.
Keempat, kepada seluruh staf administrasi Program Magister (S2) Kajian
Budaya Universitas Udayana, yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu
yang selama ini telah banyak memberikan kemudahan kepada penulis dalam hal
administrasi perkuliahan. Serta Direktorat Jendral Perguruan Tinggi yang
vi
bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang telah memberikan
bantuan beasiswa (BPPS KTL) Kelima, kepada rekan-rekan Program Magister
(S2) Kajian Budaya Universitas Udayana, khususnya angkatan 2009 sebagai
teman-teman diskusi dalam mengasah ketajaman analisis dan memperluas
wawasan keilmuan. Keenam, kepada kedua sahabatku Rahmat Sewa Suraya dan
Muh. Al Kausar telah bersama suka maupun duka. Juga ucapan terima kasih
banyak kepada para informan yang telah bersedia meluangkan waktunya dan
memberikan informasi.
Ketujuh, kepada pihak keluarga dan juga pihak lain yang sangat membantu
penulis dalam menyelesaikan studi dan penulisan tesis ini, yang namanya saya
tidak bisa sebut satu demi satu. Jasa baik mereka akan selalu penulis kenang.
Paling teristimewa kepada ibuku tercinta, penulis mengucapkan terima kasih
banyak atas semua motivasi, dan do’anya untuk kesuksesan penulis dari sejak
kecil hingga saat ini. Semoga setiap derap langkah kaki, ayunan tangan beliau
selalu mendapat imbalan kebaikan dari Allah SWT, amin.
Kedelapan, kepada Rektor Universitas Haluoleo di Sulawesi Tenggara
Bapak Prof. Dr. Ir. Usman Rianse, M,S, dan Ketua ATL Pusat Dr. Pudentia
MPPS, M.Hum. serta Ketua ATL Sulawesi Tenggara Dr. La Niampe, M.Hum.
yang telah memberikan kesempatan dan membukakan jalan penulis untuk
mendapatkan beasiswa, serta tak lupa penulis mengucapkan salam perjuangan
kepada teman-teman dari Kajian Tradisi Lisan yang sekarang ini sementara
melanjutkan studi.
Kesembilan, Kepada keluarga besar Bapak Soedjiwo yang telah
memberikan nasehat, dukungan, bantuan, serta doanya kepada penulis, dan
kepada orang yang saya tuakan Dr. La Taena, M.Si., serta Kakanda saya
Hadirman, S.Pd., M.Hum., Briptu Ismail Story, Hamirudin Udu, S.Pd.,M.Hum.,
Hardin Arin, S.Pd., juga penulis ucapkan terima kasih banyak atas segala do’a dan
bantuannya demi tercapainya studi penulis. Kepada kakak saya Yani, S.Pd.
terimakasih atas bantuan dan dukungannya dan ketiga adik saya, Awal Maulid
vii
Sari, S.Pt., Siti Kadri Yanti Sari, S.Sos., Putri Suswani Sari, penulis ucapkan
terima kasih banyak atas dukungannya semoga mereka juga lebih termotivasi
untuk melanjutkan studi. Semoga semua amal kebaikan mereka mendapatkan
balasan kebaikan pula dari Allah SWT, amin.
Walaupun dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan
dari berbagai pihak berupa pemikiran melalui komentar, kritik maupun saran,
tanggung jawab terakhir tetap berada kepada penulis sendiri. Banyak atau
sedikitnya kekurangan dan kesalahan dalam tesis ini sepenuhnya menjadi
tanggungjawab penulis.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri dan mohon
ampunan atas segala kesalahan. Kepada-Nya jugalah penulis menyerahkan semua
amal kebaikan pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
tesis ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya pada
kita semua, amin.
Denpasar, Agustus 2011
Penulis,
viii
ABSTRAK
Penelitian ini membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna
pada era globalisasi. Pada dasarnya, tradisi lisan kantola, sebagai bentuk warisan
budaya masyarakat Muna, telah menuju ambang kepunahan. Selain dampak
negatif dari globalisasi, kemunduran nilai-nilai budaya lokal tidak lepas dari
masyarakat Muna yang sudah makin jauh meninggalkan tradisi ini. Tiadanya
dukungan pemerintah terhadap tradisi ini juga membuka celah kehancuran
warisan budaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami upaya-upaya
revitalisai tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Pemahaman terhadap
aktivitas kultural ini dapat memberikan arah bagi pembentukan kembali ikatan
sosial dan identitas masyarakat lokal.
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bentuk revitalisasi
tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (2)
fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada
era globalisasi, (3) makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna
Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Dalam pembahasan ini digunakan teori
hegemoni, teori resepsi, teori dekontruksi, dan teori semiotika. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Pengumpulan
data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi
dokumen dan pustaka.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertunjukan tradisi lisan kantola
yang dilaksanakan secara periodik merupakan media pengenalan dalam
menumbuhkan kesadaran masyarakat sehingga membuka peluang bagi
pertumbuhan, dan perkembangan tradisi lisan, termasuk tradisi lisan yang
semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan yang sarat
dengan nilai-nilai estetika berfungsi untuk menyebarkan aspek-aspek moral dan
etika kepada masyarakat. Kantola merupakan pernyataan perasaan dan pendapat
seseorang, disampaikan secara santun sehingga mudah dihayati dan dipahami.
Segala aturan yang bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat
dalam membangun ikatan sosial masyarakat.
Penghargaan terhadap warisan budaya lokal bermakna pada
pengembangan identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan kantola berkaitan dengan
nilai-nilai dan sikap serta keyakinan-keyakinan yang tetap diyakini
keberadaannya. Edukasi dalam tradisi lisan kantola sejalan dengan proses
regenerasi dalam masyarakat Muna, yang mengarah pada peran-peran baru bagi
generasi muda untuk tetap mempertahankan warisan budayanya. Kantola
memiliki makna yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat
Muna. Inovasi membuka pelung terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu
yang mampu menjawab persoalan kekinian. Inovasi dapat pula memberikan
wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika. Pelestarian budaya dapat
dirumuskan sebagai rasa memiliki jatidiri dan kekuatan budaya sendiri, kesadaran
budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya
lokal, yang mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud
melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal.
Kata kunci: budaya global, budaya lokal, tradisi lisan kantola, revitalisasi.
ix
ABSTRACT
This research concerns with traditional revitalization of kantola is
Munaness society in globalization era. Principally oral tradition of kantola as a
cultural heritage of Munaness society has been being threaten of extinction.
Besides as the negative impact of globalisation, the decline of local cultural values
is not separated from Munaness people who had neglected this tradition. Less
attention of government on this tradition supports the decline of this cultural
heritage. The research aims with to understand the real efforts of revitalisation the
oral tradition of kantola in Munaness society. The knowledge of this cultural
activity can contributes to reform of social emotion and local society identity.
The problems of the research are (1) the form of local tradition of kantola
revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisation era, (2) the
function of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east
Sulawesi in globalisasi era, (3) the meaning of local tradition of kantola
revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisasi era. In
discussion, the writer uses the theories of hegemony, receptive, deconstruction,
and semiotics. The research applies qualitative method with hermeneutic
approach. Collecting was done through participative observation, indept
interview, also library and document study.
Results of the research shows that the presentation of kantola local
tradition which done periodically functions as a social medium in raising people
awareness in society that inspire them to maintain and develop kantola as an oral
tradition, includes the other ones which had been eliminated by global cultural
products. The oral tradition that contains full esthetic values functions to
strengthen moral and ethic aspects in the society. Kantola is an emotional
statemen and individual expression of people that uttered politely so the meaning
of kantola lyrics can be easily recognized and anderstood. All social norms taken
from traditional values can be a solidarity instrument to create the unity is the
society.
The appreciation to local culture heritage has certain meaning to the
development on local people identity. The local tradition of kantola is close
related to values and attitude also doctrines that people treat as a true. The
education exists is local tradition of kantola is suitable with regeneration process
is Munaness society, towards to new roles of young generation to maintain their
cultural heritage. Kantola has a pragmatic meaning in daily life of Munaness
society. Inovation gives upportunity to the understanding of past time tradition
heritage that able to answer present problems. The inovation can also give the
medium of moral and ethic socialization. The maintaining of culture can be
viewed as self posessive of identity and the force of own culture, the awareness of
culture must be raised to give appreciation on local culture, towards cultural
sustainability. This phenomenon can happens through local culture revitalization
based on local context.
Key Words: global culture, local culture, oral tradition of kantola, revitalization.
x
RINGKASAN
Penelitian ini, membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat
Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Pada dasarnya tradisi lisan
kantola, sebagai bentuk warisan budaya masyarakat Muna, telah menuju
kepunahan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh negatif globalisasi yang
berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya lokal. Masyarakat Muna, sebagai
pendukung utama warisan budaya lokal ini, sudah makin jauh meninggalkan
tradisi ini. Selain itu, tiadanya dukungan pemerintah terhadap keberadaan dan
keberlanjutan tradisi lisan ini membuka celah kehancuran warisan budaya
masyarakat Muna. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman
terhadap upaya-upaya revitalisasi tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna.
Pemahaman terhadap aktivitas kultural ini dapat memberikan arah bagi
pembentukan kembali ikatan sosial dan identitas masyarakat lokal.
Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bentuk revitalisasi
tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era
globalisasi, (2) fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara pada era globalisasi, (3) makna revitalisasi tradisi lisan kantola
masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Dalam pembahasan ini
digunakan teori hegemoni, teori resepsi, teori dekontruksi, dan teori semiotika.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam,
dan studi dokumen dan pustaka.
Tradisi lisan selalu berkembang di dalam suatu proses seiring dengan
perkembangan masyarakat pendukungnya. Masyarakat pemilik budaya tersebut,
termasuk pemerintah, harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan
antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan senantiasa
terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-pengaruh
globalisasi yang mengancam eksistensinya. Untuk itu diperlukan berbagai upaya
mendorong pelestarian kesenian tradisional. Bab V dalam penelitian ini
memaparkan bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola.
xi
Pertunjukan tradisi lisan kantola secara periodik merupakan media
pengenalan dalam menumbuhkan kesadaran dan apresiasi masyarakat sehingga
membuka peluang bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan yang
semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Pertunjukan tradisi lisan
kantola, bukan hanya menampilkan aspek keindahan, tetapi juga pemaknaan yang
arif pada semua disiplin. Di dalam pertunjukan ini terdapat nilai-nilai moral,
pendidikan, dan sosial.
Tradisi lisan kantola merupakan refleksi atau cerminan dari kondisi
masyarakat Muna. Menghidupkan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi lisan
berarti memberikan pandangan kepada mereka dalam memandang dunia dengan
lebih manusiawi berlandaskan nilai-nilai budaya lokal. Pemberian pandangan ini
menyangkut tanggapan mereka tentang makna dan tujuan hidup selama ini
dibentuk oleh sistem kapitalisme. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran melalui
pembelajaran sosial. Salah satu proses pembelajaran sosial yang sangat penting
adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang perlunya mengadakan
perubahan dari pandangan dunia kapitalisme global ke arah pandangan yang
sesuai dengan nilai-nilai lokal.
Revitalisasi berarti nilai-nilai budaya lokal harus terus diperbaharui,
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Hal ini berarti bahwa
budaya lokal harus diberi nafas baru dalam menghadapi gelombang pengaruh
kapitalisme dan budaya global. Tradisi lisan telah menjadi korban perubahan dari
budaya global yang berdampak pada keterpurukan dan kepunahan berbagai
warisan budaya lokal. Globalisasi memberi ruang terhadap penciptaan produkproduk
budaya yang universal, sehingga produk-produk budaya lokal akan
terserap didalamnya. Globalisasi menjadikan universalitas sebagai tujuan
utamanya sehingga menciptakan hegemonisasi budaya. Kemorosatan budaya
lokal juga dipengaruhi oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat sekarang
hanya tampil sebagai penikmat budaya ketimbang menjadi pelaku aktif,
memandang tradisi lisan dari segi pragmatisme saja. Sikap pragmatis ini lebih
jauh lagi memandang bahwa tradisi lisan ini bukan menjadi bagian dari hidup
xii
mereka. Tradisi lisan berfungsi sebagai alat komunikasi semata dengan
mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya yang melekat pada tradisi lisan tersebut.
Sebagai aktivitas kultural yang mengandung aspek estetika dan moral,
tradisi lisan berfungsi berdasarkan atas kemampuan tradisi lisan tersebut dalam
menyebarkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya. Fungsi
revitalisasi tradisi lisan kantola yang dipaparkan dalam bab VI menggambarkan
keterkaitan totalitas fungsi tradisi lisan dengan kehidupan masyarakat. Tradisi
memiliki muatan normatif atau moral, yang merupakan pembentukan karakter
pengikat masyarakat lokal. Tradisi terkait erat dengan proses interpretatif, di mana
masa lalu dan masa sekarang saling terkait serta terhubungkan.
Tradisi lisan kantola berkaitan erat dengan pemahaman nilai-nilai moral
yang diselenggaran berdasarkan aturan-aturan yang bersumber dari ajaran-ajaran
adat masyarakat setempat, terkait dengan struktur dan dinamika sosial masyarakat
Muna. Tradisi ini berfungsi untuk tetap menjaga nilai-nilai yang terkandung
dalam adat istiadat ataupun tradisi yang melekat pada masyarakat.
Kantola merupakan pernyataan perasaan dan pendapat seseorang, yang
disampaikan secara santun, sesuai dengan budaya masyarakat setempat.
Komunikasi dengan menggunakan kantola lebih berkesan mudah dihayati,
dipahami maksud serta pendapat seseorang. Kantola berfungsi sebagai alat untuk
mempertahankan kecermatan berbahasa. Hal ini akan menumbuhkan sikap
penghargaan terhadap orang lain dan sikap malu untuk berbuat kesalahan. Dalam
masyarakat tradisional, yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat yang
berlandaskan pada tradisi, sikap malu merupakan dasar yang paling hakiki dalam
kehidupan masyarakat.
Komunikasi verbal dalam mengungkapkan masalah-masalah kebenaran
yang berlandaskan tradisi telah tergantikan dengan komunikasi yang sifatnya
trival, dengan tidak lagi mengindahkan kaidah kesantunan berbahasa. Komunikasi
kini berubah fungsi dari wacana penyampaian pesan dan makna menjadi semacam
wacana ekstase yang merupakan sebuah bentuk komunikasi yang berlangsung
begitu saja, tanpa memerlukan fondasi makna, kode, dan nilai moral. Padahal,
xiii
untuk menyampaikan perasaan dan pendapat, kesantunan berbahasa sangat mutlak
diperlukan untuk menangkap informasi yang ingin disampaikan.
Tradisi lisan kantola, sebagai produk budaya lokal, fungsi sosial tradisi
lisan ditujukan untuk membangun suasana kebersamaan yang berdampak positif
pada penguatannya ikatan batin di antara sesama anggota masyarakat. Dengan
demikian, bila dikatakan bahwa memudarnya tradisi lisan di masyarakat,
merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial diantara mereka,
dan sebaliknya.
Perwujudan dari sistem budaya yang melekat pada masyarakat tradisional
dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium), melalui upaya
pengendalian sosial (social control). Pentingnya lembaga-lembaga atau pun
sarana pengendalian sosial, bergantung pada konteks sosiokultur di mana
pengendalian sosial tersebut beroperasi. Efektifitas pengendalian sosial juga
bergantung pada perubahan-perubahan sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat.
Muna, dengan karakteristik masyarakat dan budayanya yang berbeda dengan
wilayah lain di nusantara, memiliki sturuktur adat yang bertumpu pada adat
damowanu liwu. Konsep adat ini merupakan kebiasaan yang berlaku secara turuntemurun
yang membentuk atau nilai-nilai yang dilaksanakan oleh masyarakat.
Berdasarkan aturan kultural, norma, dan nilai-nilai tradisional, kehidupan
sosial yang selaras dan harmonis dapat terwujud. Segala aturan yang bersumber
dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun ikatan
sosial masyarakat yang tercerai berai dalam alam perubahan yang ditimbulkan
oleh globalisasi. Tata nilai kehidupan masyarakat tradisional sifatnya mengikat,
bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dianut masyarakat modern yang
menuntut kompromistis dan kebebasan. Tata nilai ini bertujuan untuk
melestarikan dan memelihara tatanan moral yang kuat pada masyarakat dan
keberadaan kearifan lokal sebagai identitas masyarakat.
Budaya global telah memunculkan sikap yang kompromistis,
individualistik, dan konsumtif. Nilai tradisional, yang mengacu pada tradisi, mulai
tergantikan oleh sistem yang dihasilkan oleh budaya global. Melalui media massa,
perubahan masyarakat yang tanpa arah akan mengancam integritas sosial, sistem
xiv
normatif, dan keutuhan identitas lokal. Nilai-nilai tradisi lokal akan semakin jauh
dari masyarakat. Perubahan pola hidup masyarakat tradisional tampak nyata
dalam berbagai aspek kehidupan. Tata nilai yang bersumber dari adat istiadat
tidak lagi mampu membendung terciptanya pola-pola hidup yang dianggapnya
modern. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat tradisional akan berubah menjadi
museum hidup (the living museum).
Revitalisasi nilai-nilai budaya lokal merupakan langkah untuk
memberdayakan budaya lokal dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah
kehidupan masyarakat yang lebih baik, dalam arti tidak terikat dengan sifat
ketergantungan pada globalisasi. Makna revitalisasi dipaparkan pada Bab VII
menunjukan hubungan antara identitas, inovasi, dan edukasi terhadap
pembentukan ketahanan budaya. penghargaan terhadap lokalitas akan
memberikan ruang bagi pembentukan identitas lokal. Warisan budaya lokal harus
dilihat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Saat ini arus
kapitalisme global semakin kuat, maka saat ini pula dirasakan mengecilnya
peranan tradisi lisan di tengah masyarakat. Di balik proses pengerdilan itu
tentunya bahasa dan sastra daerah ikut pula menyertainya. Tak berlebihan apabila
dikemukakan bahwa akan terjadi pemudaran dan penghilangan seperangkat sistem
kebudayaan lokal yang menjadi identitas masyarakat lokal.
Tradisi lisan sarat dengan norma-norma yang mengatur tata hidup
masyarakat. Proses inovasi harus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang
terdapat didalamnya. Inovasi membuka peluang terhadap pemahaman warisan
tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian yang terus berubah
tanpa dapat dihindari. Inovasi ini menuntut perubahan, baik dimanfaatkan yang
lama atau dalam bentuk yang lain, tanpa menghilangkan tipikal tradisi lisan
tersebut. Proses inovasi tradisi lisan harus lebih berkembang dalam rangka
menanamkan sikap positif masyarakat dalam berprilaku. Inovasi dapat pula
memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika yang dapat
menuntun ke arah yang lebih bermakna. Warisan budaya lokal berupa tradisi lisan
mampu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai solusi alternatif, dalam
mengatasi persoalan-persoalan pelik yang melanda tanah air. Tradisi lisan terbukti
xv
mampu melintasi zaman dan terbukti mampu memberikan solusi berbagai
persoalan.
Sadar budaya harus ditumbuhkan kembali untuk menanamkan pemahaman
akan pentingnya kedudukan dan fungsi warisan budaya lokal. Kesadaran budaya
yang tinggi dapat menimbulkan pengaruh positif masyarakat dalam menilai
keberadaan warisan budaya yang dimilikinya. Penilaian itu berkaitan dengan
apresiasi, tanggapan ataupun penerimaan warisan budaya sehingga tidak mudah
tergiring oleh gelombang globalisasi. Masyarakat Muna mengalami perubahan
pola hidup dan gaya hidup, yang sudah meninggalkan nilai-nilai tradisional yang
dianut masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak akan lagi memiliki ketahanan
budaya jika tidak mencari solusi alternatif dalam membendung perubahan zaman
yang bergerak sangat dinamis. Ketahanan budaya dapat tercipta jika masyarakat
berperan aktif dalam segala aktivitas kultural.
Ketahanan budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jatidiri dan
kekuatan budaya sendiri, sehingga dengan begitu tidak perlu merasa rendah diri
jika berhadapan dengan kebudayaan lain. Untuk mencapai ketahanan budaya,
diperlukan pengetahuan untuk memahami serta menghayatinya, dan pengetahuan
itu perlu disampaikan dengan sengaja melalui upaya terarah dan terencana.
Dengan membangun ketahanan budaya, masyarakat akan mampu
mempertahankan budayanya sendiri dan merespon berbagai gejolak globalisasi.
Tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, masyarakat akan
kehilangan produk budaya lokal yang tak ternilai harganya. Kesadaran budaya
harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya lokal,
yang selanjutnya mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud
melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal.
xvi
GLOSARIUM
adhati : Mahar perkawinan atau mas kawin pada
masyarakat Muna, yang harus dibayar oleh pihak
laki-laki.
damowanu liwu : Membangun daerah.
daseise damowanu liwu : Bersatu membangun daerah.
doangka tewise : Biasa disebut kawin minta merupakan suatu
bentuk perkawinan pada masyarakat Muna yang
proses berlangsungnya ada kesepakatan antara
kedua belah pihak antara keluarga laki-laki dan
keluarga perempuan. Perkawinan seperti ini
biasanya ada pelamaran dari keluarga laki-laki
kepada keluarga perempuan.
equilibrium : Keseimbangan
facebook : Program dalam internet yang bisa
menghubungkan manusia di seluruh belahan dunia
untuk mencari teman atau sahabat.
gambusu : Sejenis kesenian rakyat yang melantunkan
pantun, yang pesertanya melantunkannya dalam
bentuk nyanyian dengan menggunakan iringan
musik tradisional (gambus, sejenis kecapi). Jenis
kesenian ini biasanya dilakukan oleh laki-laki
ataupun perempuan secara bersamaan, baik tua
maupun muda yang jumlah pesertanya 1 atau 2
orang.
handphone : Alat komunikasi jarak jauh yang menghubungkan
orang yang satu dengan yang lainnya.
kakawasano ompu : Tuhan yang Maha Esa
kaomu : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna,
yang paling tertinggi atau golongan bangsawan
(Ode), biasanya pada zaman dahulu orang yang
bergelar kaomu mereka yang berhak menjadi raja,
xvii
kapitalau (semacam adipati di Jawa) atau jabatan
lain yang menyangkut eksekutif.
lulo : Merupakan salah satu tarian yang ada di Sulawesi
Tenggara, Tarian ini milik etnik Tolaki hanya saja
sekarang sudah sering dilakukan oleh semua etnik
di Sulawesi Tenggara pada saat acara hajatan
seperti pesta pernikahan.
maradika : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna,
yang paling terendah
marginalisasi : Penyingkiran. Marginalisasi dan ketidakberdayaan
komunitas lokal dapat merupakan akibat dari
masalah yang bersifat struktural.
modero : Sejenis kesenian rakyat yang saling berbalas
pantun, namun pesertanya melantunkannya dalam
bentuk nyanyian. Jenis kesenian ini dilakukan oleh
laki-laki dan perempuan, baik tua maupun muda,
yang dilakukan dengan cara bergandengan tangan.
Mereka membentuk dua barisan, barisan laki-laki
dan barisan perempuan, yang membentuk sebuah
lingkaran.
pofeleigho : Biasa disebut kawin lari merupakan suatu bentuk
perkawinan pada masyarakat Muna yang
dipandang kurang baik dan tidak diinginkan oleh
keluarga perempuan.
sara : Pejabat Muna di Jaman Kerajaan
simulasi : Proses penciptaan bentuk nyata melalui modelmodel
yang tidak mempunyai asal-usul atau
referensi realitasnya, sehingga memampukan
manusia membuat yang supranatural, ilusi, fantasi,
khayali, menjadi tampak nyata
skizofrenia : Berasal dari dua kata, yaitu ‘skizo’ yang artinya
retak atau pecah (split) dan ‘frenia’ yang artinya
jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita
skizofrenia adalah seseorang yang mengalami
keretakan jiwa atau keretakan kepribadian.
xviii
video game : diuraikan per kata berdasarkan makna kamus
bahasa inggris, video berasal dari kata vide yang
berarti lihat. Game berarti permainan; binatang
liar; perburuan; mengadakan permainan;
memperolok-olokkan; bermain judi; berani;
lumpuh. Video game adalah permainan anak-anak
berupa benda elektronik yang disambungkan ke
televisi untuk bisa dimainkan. Biasanya
mengunakan tambahan kaset permainan yang
diinginkan.
walaka : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna,
yang golongan ke dua (biasanya dinamakan
golongan Sara). Pada zaman dahulu, golongan ini
adalah yang berhak menjadi perdana menteri,
mengatur adat, menetapkan hukum bersama Raja,
memilih dan mengangkat raja bahkan mencopot
raja dari jabatannya jika dianggap melanggar
hukum Negara dan adat serta agama.
xix
DAFTAR ISI
JUDUL.............................................................................................................i
PRASYARATAN GELAR.............................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN...........................................................................iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI...............................................................iv
UCAPAN TERIMAKASIH............................................................................v
ABSTRAK.....................................................................................................viii
ABSTRACT....................................................................................................ix
RINGKASAN..................................................................................................x
GLOSARIUM................................................................................................xvi
DAFTAR ISI..................................................................................................xix
DAFTAR GAMBAR....................................................................................xxiii
DAFTAR TABEL.........................................................................................xxiv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................xxv
BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................11
1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................11
1.3.1 Tujuan Umum .......................................................................................11
1.3.2 Tujuan Khusus ......................................................................................11
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................12
1.4.1 Manfaat Secara Teoretis .......................................................................12
xx
1.4.2 Manfaat Secara Praktis..........................................................................12
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI..........13
2.1 Kajian Pustaka .........................................................................................13
2.2 Konsep ....................................................................................................18
2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola ........................................................19
2.2.2 Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara...................................................26
2.2.3 Era Globalisasi.......................................................................................27
2.3 Landasan Teori.........................................................................................29
2.3.1 Teori Hegemoni ....................................................................................30
2.3.2 Teori Dekonstruksi................................................................................33
2.3.3 Teori Semiotika.....................................................................................35
2.3.4. Teori Resepsi........................................................................................38
2.4 Model Penelitian.......................................................................................43
BAB III METODE PENELITIAN.................................................................46
3.1 Rancangan Penelitian ...............................................................................46
3.2 Lokasi Penelitian .....................................................................................47
3.3 Jenis dan Sumber Data..............................................................................47
3.4 Penentuan Informan..................................................................................48
3.5 Instrumen Penelitian.................................................................................49
3.6 Teknik Pengumpulan Data.......................................................................49
3.6.1 Observasi Partisipasi .............................................................................49
3.6.2 Wawancara Mendalam .........................................................................50
3.6.3 Studi Dokumen dan Pustaka..................................................................51
xxi
3.7 Teknik Analisis Data ...............................................................................51
3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data .....................................................52
BAB IV GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DAN
KEBUDAYAAN DI KABUPATEN MUNA ...............................53
4.1 Sejarah Kabupaten Muna..........................................................................53
4.2 Letak Geografis........................................................................................61
4.3 Sistem Mata Pencaharian..........................................................................69
4.3.1 Pertanian dan Perkebunan......................................................................69
4.3.2 Pegawai Negeri Sipil.............................................................................73
4.3.3 Peternakan..............................................................................................74
4.3.4 Perikanan...............................................................................................74
4.4 Sistem Kekerabatan..................................................................................76
4.5 Sistem Religi dan Kepercayaan................................................................82
4.6 Bahasa dan Kesenian Tradisional.............................................................85
4.7 Keberadaan Tradisi Lisan.........................................................................87
BAB V BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA.............89
5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Secara Periodik.................................91
5.2 Aktualisasi Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna..................100
5.3 Pelestarian Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna...................113
BAB VI FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA......122
6.1 Fungsi Tradisi..........................................................................................122
6.2 Fungsi Komunikasi..................................................................................129
xxii
6.3 Fungsi Sosial............................................................................................132
6.3.1 Fungsi Pengendalian Sosial..................................................................134
6.3.2 Fungsi Kritik Sosial..............................................................................142
6.4 Fungsi Pelestarian....................................................................................150
BAB VII MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA..........160
7.1 Makna Identitas.......................................................................................160
7.2 Makna Edukasi........................................................................................172
7.3 Makna Inovasi.........................................................................................175
7.4 Makna Pelestarian Budaya......................................................................181
Refleksi..........................................................................................................186
BAB VIII PENUTUP....................................................................................189
8.1 Simpulan..................................................................................................189
8.2 Saran........................................................................................................191
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................193
xxiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Penelitian.........................................................................43
Gambar 4.1 Masjid Pertama Di Kabupaten Muna..........................................60
Gambar 4.2 Gua Liangkabori.........................................................................64
Gambar 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Laki_Laki.........95
Gambar 5.2 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Perempuan........95
Gambar 5.3 Masyarakat yang Menyaksikan Pertunjukan Tradisi lisan
Kantola Didominasi Generasi Tua.............................................104
xxiv
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan/Desa pada Tiap Kecamatan..............................63
Tabel 4.2 Hari Hujan dan Curah Hujan Di Kabupaten Muna........................66
Tabel 4.3 Penduduk, Rumah Tangga, Penduduk per Rumah Tangga dan
kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan......................................68
xxv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Pedoman Wawancara
Lampiran 2 : Daftar Informan
Lampiran 3 : Peta Lokasi Penelitian
Lampiran 4 : Surat Pernyataan Pembimbing dan Penguji
Lampiran 5 : Surat Keputusan Rektor Universitas Udayana
Lampiran 6 : Pernyataan Keaslian
xxvi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dewasa ini pola kehidupan sosial budaya sehari-hari masyarakat Muna
telah menunjukkan berbagai pengaruh yang sangat kuat, yang disebut sebagai
pola kehidupan global. Warga masyarakat mengalami berbagai perubahan cara
hidup, gaya hidup, bahkan pandangan hidup mereka. Maka, perubahan tersebut
telah mengancam keberadaan tradisi lokal, antara lain warisan budaya, kebiasaan,
nilai, identitas, dan simbol-simbol kehidupan masyarakatnya (Giddens 2003:
9-15).
Globalisasi telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal
dan global yang semakin tinggi intesitasnya. Sistem nilai budaya lokal yang
selama ini digunakan sebagai acuan atau panutan oleh masyarakat pendukungnya
tidak jarang mengalami perubahan karena nilai-nilai budaya global dengan
kemajuan teknologi informasi yang semakin mempercepat proses perubahan
tersebut (Nashir 1999:176).
Menurut Giddens (2003:67); Arivia, 2004:25), globalisasi membawa
prinsip budaya modernitas sehingga memunculkan segudang permasalahan sosial
dan mengancam peradaban manusia. Melalui ideologi kultural konsumerisme,
globalisasi telah banyak menimbulkan konflik, kesenjangan dan bentuk-bentuk
stratifikasi baru. Globalisasi telah membersihkan hampir semua tatanan sosial
tradisional dan mengiring umat manusia pada pola homogenitas kultural yang
1
menentang nilai-nilai dan identitas parochial. Hal ini mengancam keberadaan
budaya lokal yang mengantarkannnya menuju kepunahan.
Pengaruh globalisasi tidak hanya terkait dengan teknologi dan ekonomi,
tetapi juga mempengaruhi berbagai segi kehidupan. Pengaruh globalisasi ini,
disatu sisi membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, namun disisi
lain memberikan pengaruh negatif yang sangat signifikan pada aspek-aspek
kebudayaan. Bukan hanya berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya lokal
tetapi juga akan mengancam terjadinya kepunahan berbagai aspek kebudayaan,
seperti tradisi lisan yang berkembang secara turun-temurun sebagai bentuk
warisan budaya dari generasi sebelumnya.
Tradisi lisan sebagai bagian dari kearifan lokal yang dapat diperhitungkan
sebagai realitas nilai budaya alternatif dalam kehidupan global berada dalam dua
sistem budaya yang harus dipelihara dan dikembangkan, yakni sistem budaya
nasional dan sistem budaya lokal. Nilai budaya nasional berlaku secara umum
untuk seluruh bangsa, sekaligus berada diluar ikatan budaya lokal manapun. Nilainilai
kearifan lokal tertentu akan bercitra Indonesia karena dipadu dengan nilainilai
lain yang sesungguhnya diwariskan dari nilai-nilai budaya lokal.
Warisan budaya mempunyai cakupan pengertian yang luas, meliputi
budaya yang bersifat kebendaan yang dapat diraba (tangible) dan yang tidak dapat
diraba (intangible). Warisan budaya yang tak teraba (intangible) tercakup
didalamnya hal-hal yang tertangkap panca indera lain diluar perabaan, seperti
musik, pembacaan sastra maupun bahasa lisan (Sedyawati, 2008:207). Sastra
lisan, melalui kaidah-kaidah irama bunyinya, dapat berperan serta dalam
2
mendokumentasikan unsur-unsur kebudayaan tertentu sehingga dapat diwariskan
pada generasi berikutnya.
Tradisi lisan merupakan cikal bakal munculnya seni dan sastra dalam
komunitas kehidupan Masyarakat Muna. Cerita-cerita yang acapkali dituturkan
oleh orang tua kepada anak cucunya pada masa lalu merupakan bentuk tradisi
lisan yang dikemudian hari berkembang menjadi sastra lisan. Namun, dalam
proses selanjutnya perkembangan tradisi lisan cukup memprihatinkan. Hanya
sebagian kecil saja yang dapat didokumentasikan dalam lembaran-lembaran
kertas. Karya sastra yang berbau tradisi lisan tidak lagi sesuai dengan minat
generasi muda yang cenderung menaruh minat pada hal-hal yang mengandung
unsur budaya pop media elektronik.
Perkembangan tradisi lisan hanya menjadi bagian terkecil dari
perkembangan budaya pada satu komunitas. Hal itu tentu tidak lepas dari minat
para pelaku budaya itu sendiri yang sudah semakin jauh meninggalkan tradisi
tersebut. Hal ini diperparah lagi dengan tidak didukungnya tradisi lisan menjadi
bagian integral dari proses perkembangan budaya dalam satu komunitas yang
cenderung bergerak dinamis saat ini. Pemerintah sendiri seolah-olah mengabaikan
pengenalan ataupun pembelajaran sastra lisan.
Contoh yang paling kongkret dari ketiadaan dukungan tersebut adalah
pengenalan tentang sastra lisan di sekolah-sekolah. Kurikulum yang
dikembangkan hanyalah untuk mempelajari dan memberikan pemahaman umum
terhadap karya sastra tulis. Pembelajaran dan pemahaman terhadap sastra lisan
tidak memperoleh porsi yang seimbang. Inilah oposisi biner yang pertama
3
diterapkan terhadap sastra yang sekaligus mensubordinasi sastra lisan sebagai
sastra kelas dua (Ratna, 2006:328).
Pemerintah selama ini tampaknya hanya berusaha untuk memajukan
kebudayaan nasional. Padahal pemerintah diharapkan juga menggali dan
memperkenalkan kekayaan khasanah kebudayaan lokal. Kenyataan di masyarakat
terjadi frakmentasi antara satu produk budaya dengan produk budaya lainnya.
Produk budaya yang dianggap sebagai antibudaya itulah yang dianggap sebagai
kebudayaan nasional, walaupun kebudayaan nasional bersumber dari kolektivitas
budaya-budaya lokal. Akibatnya timbul diskriminasi terhadap produk budaya
lokal yang tersebar di seluruh wilayah pelosok nusantara. Terjadinya pemutusan
tradisi selama rezim Orde Baru yang sangat hegemonik sentralistik dan
menekankan keseragaman sehingga mengakibatkan keragaman budaya lokal
sering terabaikan. Tidak mengherankan, banyak budaya lokal yang kemudian
sedikit demi sedikit hilang, bahkan ada yang punah.
Tradisi lisan memiliki peranan penting dan strategis dalam kehidupan
masyarakat Indonesia karena tradisi lisan sebagai salah satu bentuk budaya lokal
memiliki hubungan batin dengan para pewarisnya dan diyakini dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pendukungnya.
Tradisi lisan memiliki peranan dan fungsi untuk menguatkan ketahanan budaya
bangsa. Hanya saja, seiring perkembangan zaman, kian banyak tradisi lisan yang
mulai raib dan untuk melestarikannya harus berkejaran dengan proses
perkembangan sastra tulisan.
4
Tradisi Lisan kantola merupakan salah satu sastra lisan yang berasal dari
daerah Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai produk kultural yang
dihasilkan bertatanan tradisional, yang pada prinsipnya kantola memiliki
karakteristik umum yang sama dengan sastra lisan daerah lain di tanah air.
Sebagai sastra lisan, keberadaan kantola pada masyarakat Muna merupakan
kristalisasi kultural dalam kehidupan sosial yang tumbuh dan berkembang seiring
dengan kemapanan tradisi masyarakatnya. Pada saat tradisi berproses secara alami
mengalami stagnasi akibat perubahan sosial, maka keberadaan kantola sebagai
tradisi lisan turut melemah. Hal semacam ini berakibat fatal terhadap
perkembangan tradisi lisan kantola yang semakin teralienasi dari masyarakat
Muna, akibat dampak dari modrnisasi.
Tradisi lisan kantola merupakan tradisi lisan yang diapresiasi oleh
masyarakat Muna sebagai media ekpresi yang lirik-liriknya bermuatan perasaan,
pengalaman pribadi, dan dimensi kemasyarakatan. Lirik kantola terdiri atas
beberapa baris yang jumlahnya tidak menentu; ada lirik yang panjang (sepuluh
sampai lima belas baris) dan ada lirik yang pendek (empat sampai lima baris).
Penyampaian lirik kantola tidak secara lugas, tetapi dikiaskan melalui simbolsimbol
yang ada. Oleh Karena itu, untuk mengetahui kandungan makna yang
terdapat dalam lirik kantola, seseorang harus memiliki kemampuan interpretatif
terhadap simbol-simbol tersebut (Aderlaepe, 2006:51).
Pada mulanya, tradisi lisan kantola ini sangat diminati oleh masyarakat
Muna, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan. Meskipun tidak
didokumentasikan dalam bentuk tulisan, tradisi lisan ini tetap dilestarikan secara
5
turun temurun, dari mulut kemulut. Akan tetapi, dengan semakin gencarnya arus
globalisasi di bidang teknologi dan informasi yang merasuki wilayah budaya
lokal, maka keberadaan tradisi kantola ini, sudah mulai terpinggirkan bahkan
sudah mulai menunjukan gejala-gejala terlupakan. Hal ini tercermin pada
pertunjukan tradisi kantola yang semakin jarang dijumpai pada masyarakat Muna,
karena semakin berkurangnya pelaku tradisi ini, dan juga tidak adanya regenerasi
dari gerasi tua kegenerasi muda untuk mempelajari dan memahami makna yang
terkandung dalam tradisi lisan kantola. Generasi muda sudah tidak menginginkan
lagi tradisi lisan kantola yang dianggap sebagai tradisi kuno. Maka bukan hal
mustahil tradisi lisan kantola berada di ambang kepunahan apabila tidak
dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal.
Hegemoni di bidang teknologi dan informasi dan bergulirnya suatu proses
transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial mengarah pada hegemoni budaya
kosmopolitan dengan mendesakkan uniformitas secara universal. Proses
universalisasi ini mengikis secara perlahan, namun pasti, identitas individu dan
budaya-budaya lokal melalui liberalisasi ekonomi ditingkat nasional dan lokal
sehingga berdampak pada kecenderungan menguatnya sikap konsumerisme dan
individualisme, serta mereduksi semangat kolektivitas masyarakat lokal. Dampak
yang lebih jauh akan terasa dengan semakin dilupakannya nilai-nilai budaya lokal,
maka perlu dilakukan revitalisasi kearifan lokal. Pudarnya sebuah tradisi atau
kebudayaan lisan ini disebabkan masyarakat menganggap tradisi lisan adalah
sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu. Stigma semacam itu menyebabkan
6
generasi sekarang enggan memelihara dan mempertahankan tradisi lisan tersebut.
(Gidden, 2005: 5; Steger, 2006: 54).
Harkat suatu masyarakat sangat ditentukan oleh budayanya sendiri.
Budaya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung oleh masyarakatnya
yang mejadi ahli waris sekaligus pelaku menuju tercipta dan terwujudnya situasi
yang disebut sadar budaya. Sadar budaya adalah kesadaran atau pemahaman
dikalangan masyarakat bahwa sebagai individu yang berada ditengah tatanan
pergaulan, posisinya tidak pernah bersifat singular, melainkan plural. Disamping
itu, suatu masyarakat tidak akan mampu menjaga eksistensi dan menghayati
budayanya sendiri apabila tidak bergaul dengan masyarakat lain. Persoalan hakiki
inipun menjadi sesuatu yang penting dan tak terhindarkan bagi budaya-budaya
lokal. Oleh karena itu, masalah pemahaman tradisi lisan tidak cukup hanya
diwacanakan, tetapi harus diaktualisasikan dengan cara apapun yang dipandang
baik (Sayuti, 2008: 25-26). Dengan demikian, merevitalisasi kembali nilai-nilai
yang terkandung dalam tradisi lisan sangatlah mendesak untuk dilakukan, sebagai
bagian dari sadar budaya agar tetap dapat menjaga dan mempertahankan
keberadaan tradisi lisan dalam budaya lokal.
Kebudayaan nasional ataupun budaya-budaya lokal selalu berada didalam
suatu proses, di dalam kancah hubungan antarabudaya yang selalu terjadi tanpa
dapat dihindari. Masyarakat pemilik budaya tersebut maupun pemerintah harus
selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan
perubahan yang terjadi sehingga jatidiri dan identitas bangsa atau suku bangsa
senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-
7
pengaruh globalisasi yang terus merambah dan berkecambah. Menghidupkan
kembali budaya lokal sama artinya dengan menghidupkan kembali identitas lokal,
oleh karena identitas merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari
kebudayaan (Piliang, 2004: 279). Identitas itu sendiri menjadi sebuah persoalan
saat warisan masa lalu diambil alih oleh pengaruh-pengaruh globalisasi yang
menciptakan hegemoni budaya. Krisis identitas muncul ketika warisan budaya
yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal tidak dapat
dipertahankan lagi karena ia telah direnggut oleh nilai-nilai lain yang berasal dari
luar.
Revitalisasi merupakan suatu proses menjadikan kebudayaan sebagai
suatu yang menjadi bagian terpenting di dalam kehidupan manusia sebelum
kehilangan maknanya. Proses revitalisasi tentunya dilakukan secara terorganisir
oleh individu pelaku budaya, kelompok komunitas bersama-sama pemerintah
yang dimemiliki kesadaran dan merasa begitu pentingnya warisan budaya.
Kesadaran akan pentingnya kebudayaan beserta kearifan lokal yang terkandung
didalamnya timbul sebagai akibat penemuan akan jatidiri, berlatar belakang dari
warisan leluhur yang khas dan tidak dapat ditemukan pada daerah lain.
Revitalisasi dilakukan untuk mempertahankan eksistensi budaya lokal
sebelum rantai pewarisnya terputus dan sebelum terjadinya profanisasi budaya
lokal yang dianggap bermakna oleh suatu komunitas budaya tertentu. Revitalisasi
budaya lokal, terutama kantola harus terus digali, diperkuat, dan dikembangkan
dalam rangka menangkal arus globalisasi yang begitu gencar mempengaruhi
eksistensi, legitimasi, dan keberlanjutan budaya lokal tersebut. Sosialisasi konsep-
8
konsep, kaidah-kaidah, pola-pola, dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus,
dari generasi ke generasi, agar keberadaan tradisi lisan dalam budaya lokal dapat
terus dipertahankan keberlanjutannya.
Menghidupkan kembali budaya lokal tidak dengan sendirinya disebut
revitalisasi. Revitalisasi sejatinya berfungsi untuk menjadikan budaya lokal
sebagai sesuatu yang sangat berguna, bermanfaat, dan berfungsi dalam kehidupan
masyarakat (Sibarani, 2004: 31). Menurut Sibarani, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam melakukan revitalisasi, antara lain: 1) mendorong setiap
kebudayan etnik hidup berkembang tanpa diskriminasi dengan menghindari
dominasi kebudayaan mayoritas, hegemoni kebudayaan mayoritas, dan
penyeragaman kebudayaan; 2) membangun perkampungan budaya (cultural
village) sebagai wadah transfer budaya, sosialisasi kebudayaan, dan sebagai
tujuan wisata budaya; 3) segala bentuk pembangunan harus dilandasi oleh
kebudayaan masyarakat setempat; 4) melibatkan masyarakat setempat sebagai
pemain, penentu prioritas, perencana, pelaksana, dan penerima untung dari
kegiatan kebudayaan termasuk kegiatan pembangunan; 5) melibatkan “orangorang
budaya” dalam penelitian, perencanaan, dan pelaksanaan setiap
pembangunan.
Untuk melakukan revitalisasi tradisi lisan dibutuhkan kepedulian berbagai
kalangan, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Namun, yang menjadi
persoalan utama dan kunci utama revitalisasi tradisi lisan kantola adalah
menyangkut sikap masyarakat pendukungnya. Apakah mereka mau melestarikan
budayanya atau tidak menganggap perlu lagi karena menjadi bagian dari masa
9
lalu. Dan tentu saja revitalisasi akan bisa dilaksanakan jika tradisi lisan itu masih
ada dan belum mati atau masih memiliki ahli waris.
Penelitian ini berusaha mengkaji keberadaan tradisi lisan kantola dalam
kaitannya dengan revitalisasi tradisi lisan. Kantola sangat berkaitan erat dengan
nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi dasar pijakan kehidupan bermasyarakat
dalam ruang lingkup masyarakat Muna. Penelitian ini merupakan penelitian
kualitatif berparadigma budaya dengan permasalahan menyangkut bentuk, fungsi
dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola, di mana kantola yang dalam syairsyairnya,
bermuatan multidimensional yang sarat makna.
10
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian akan dikemukakan tiga masalah yang berkaitan dengan
revitalisasi tradisi lisan kantola dan hubungannya dengan pelestarian dan
pengembangan tradisi lisan pada masyarakat Muna, yaitu:
1. Bagaimana bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara pada era globalisasi?
2. Apa fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara pada era globalisasi?
3. Bagaimana makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara pada era globalisasi?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami
serta mendeskripsikan tradisi lisan kantola dan menggali informasi tentang
revitalisasi terhadap tradisi lisan tersebut pada masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara.
1.3.1 Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna
Sulawesi Tenggara pada era globalisasi;
2. Untuk mengetahui fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna
Sulawesi Tenggara pada era globalisasi;
11
3. Untuk memahami dan menginterpretasikan makna revitalisasi tradisi lisan
kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoretis
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat: 1) menambah
khazanah pengetahuan tentang tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna dan
2) hasil penelitian ini dapat menambah referensi tentang tradisi lisan kantola
dalam masyarakat Muna ditinjau dari segi bentuk, fungsi, dan maknanya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Secara praktis, temuan penelitian ini dapat: 1) memberikan masukan dan
pertimbangan bagi penentu kebijakan terutama yang berkaitan dengan
kebudayaan daerah, 2) membuka wawasan masyarakat terhadap perkembangan
tradisi lisan kantola pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara sehingga dapat
memberikan sumbangsih dalam memperkaya khazanah kebudayaan nasional, dan
3) temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam
pengembangan tradisi lisan sehingga nantinya tidak lagi menjadi tradisi minoritas
yang tersubordinasi.
12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI
DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
Kajian pustaka yang dimaksud adalah membicarakan mengenai uraian
tentang konsep ataupun teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah
dalam penelitian. Dengan demikian, kajian pustaka secara tidak langsung dapat
memberikan inspirasi, membuka wawasan kerangka berpikir. Kajian pustaka
sekaligus dapat menjadi acuan dalam pemahaman yang sifatnya teoritis dan
konseptual yang berhubungan dengan penelitian.
Kajian pustaka juga memungkinkan peneliti untuk menentukan jangkauan
atau ruang lingkup penelitiaannya, mencermati teori dan menempatkan masalah
penelitiannya, memiliki gambaran mengenai pustaka yang relevan, menghindari
pengulangan terhadap penelitian terdahulu, menempatkan hasil penelitiannya pada
ranah yang berbeda dengan penelitian yang lainnya (Aziz, 2003: 193- dalam Ola,
2003: 53).
Maka perlu ditegaskan lebih dahulu bahwa kepustakaan utama yamg
menjadi pembanding sekaligus menjadi sumber inspirasi untuk melakukan kajian
terhadap revitalisasi tradisi lisan kantola pada masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara adalah hasil kajian Aderlaepe dkk (2006) tentang Analisis Semiotik Atas
Lirik Kantola: Sastra Lisan Daerah Muna, yang merupakan Proyek Pusat bahasa
Sulawesi Tenggara, dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 2006 oleh
Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara Departemen Pendidikan Nasional.
13
Penelitian Aderlaepe tersebut merupakan gambaran pola prilaku budaya secara
kolektif oleh suku Muna di Sulawesi Tenggara dengan mengambil objek kantola,
yaitu sastra lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna dengan cara
didendangkan.
Dalam penelitian tersebut menguraikan tentang lirik syair kantola
berbentuk soneta, tidak terikat oleh bentuk sajak maupun baris. Lirik syair-syair
kantola yang bermuatan multidimensional, sarat makna. Fokus kajian Aderlape
ini terletak pada kandungan maknanya, sedangkan peneliti difokuskan pada
bentuk tradisi lisan kantola, fungsi ttadisi lisan kantola makna tradisi lisan
kantola, Kajian Aderlaepe ini memiliki kesamaan objek dengan rencana
penelitian ini yakni tradisi lisan kantola, tetapi apabila dilihat dari: (a) lokasi
penelitian memiliki perbedaan yaitu penelitian Aderlaepe terdiri dari enam
kecamatan (Kecamatan Tongkuno, Tiworo kepulauan, Kabawo, Napabalano, dan
kecamatan Kusambi) sedangkan peneliti mengambil objek dua kecamatan, yaitu
kecamatan lawa dan Kontunaga dikabupaten Muna. (b)kajian Aderlaepe hanya
menggunakan Teori Semiotika, sedangkan peneliti menggunakan empat teori
diantaranya, teori Hegemoni, teori resepsi, teori semiotika dan teori dekontruksi.
Selain pustaka utama tersebut, penulis juga menyajikan beberapa kajian
ilmiah lainnya untuk menunjang pustaka utama dalam mempertajam dan
memperkaya khasanah penelitian ini. Bardia (2006) melakukan penelitian yang
berjudul “Wacana Kantola Di Kabupaten Muna Dalam Perspektif Linguistik
Kebudayaan”. Penelitian tersebut berfokus pada deskripsi mengenai struktur
14
linguistik, struktur tematik, struktur skematik, makna lingual-kultur, dan nilai
budaya. sedangkan peneliti mengkaji dari perspektif kajian budaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian Bardia adalah metode deskriptif
kualitatif. Untuk mengumpulkan data digunakan metode observasi dan
wawancara. Metode distribusional digunakan untuk menganalisis data. metode
formal dan informal digunakan dalam penyajian hasil analisis. Penetapan metode
ini berdasarkan paradigma naturalistik dan interpretatif dengan prinsip
kealamiahan data dan interpretasi data. Dari hasil analisis mengenai struktur
linguistik ditemukan bahwa dalam kantola ada kecenderungan penggunaan bunyibunyi
nyaring. Hasil penelitian Aderlaepe (2006) dan Bardia (2006) di atas,
semakin memperjelas keaslian atau pentingnya penelitian ini bahwa masyarakat
Muna memiliki tradisi lisan kantola yang belum dikembangkan secara optimal
dan masih jarang dikaji secara mendalam melalui kajian-kajian ilmiah. Oleh
karena itu, hasil penelitian tersebut oleh penelitian ini dijadikan pula sebagai
petunjuk awal atau rujukan untuk mengkaji lebih dalam tradisi-tradisi lisan
masyarakat Muna yang diwarisi secara turun-temurun baik dari ajaran nenek
moyang maupun dari hasil pengalaman hidup mereka berinteraksi dengan alam.
Penelitian Hadirman (2009) yang berjudul “Fungsi Sosial Budaya Bahasa
Muna dalam Konteks Katoba”. Merupakan penelitian sebagai tesis S2 di Program
Magister Linguistik Universitas Udayana Denpasar. Penelitian tersebut
menganalisis tentang tuturan ritual katoba sebagai penuntun etika moral dan
fungsi sosial bagi budaya masyarakat Muna, ungkapan-ungkapan dalam ritual
katoba, berupa ungkapan keagamaan, nasihat, dan permohonan ampun kepada
15
yang kuasa. Sedangkan ungkapan-ungkapan pada tradisi lisan kantola berupa
cinta kasih, nasihat, kekecewaan, kebencian, pelipur lara, kritikan moral, dan
kritikan sosial. Maka letak persamaan penelitian Hadirman dengan peneliti adalah
pada ungkapan nasehat, dimana ungkapan tersebut ada juga tradisi lisan kantola.
Hanya saja pada ritual katoba diungkapan secara langsung, sedangkan pada tradisi
kantola mengunakan bahasa metaforis. Penelitian ini juga dapat membantu
peneliti dalam mengkaji fenomena pada kebudayaan masyarakat Muna.
Arnailis (2004) yang berjudul “Kesenian Ilau Di Nagari Salayo Sumatera
Barat Suatu Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna” merupakan penelitian sebagai
tesis S2 di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar.
Penelitian tersebut merupakan pertunjukan kesenian ilau adalah untuk
mengupacarai saudara yang mati dirantau yang jasadnya tidak dibawa pulang
kekampung halaman. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pada kajian
ini ditelaah bentuk estetika pertunjukan kesenian ilau, fungsi pertunjukan kesenian
ilau, dan makna estetika pertunjukan kesenian ilau, dan makna estetika
pertunjukan kesenian ilau dalam masyarakat salayo dewasa ini. Data dikumpulkan
dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan kepustakaan, dan
dokumentasi. Penelitian ini telah memberikan gambaran mengenai aspek-aspek
kebudayaan, dan juga dapat menambah wawasan dalam mengkaji bentuk, fungsi,
dan maknanya.
Marafad, (2008) yang berjudul Seni Kantola dalam Konteks Bahasa
Muna. Merupakan makalah yang disampaikan pada seminar internasional tanggal
2 Desember 2008 di Wanci, Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara
16
Dalam makalahnya menguraikan kajiannya tentang Bentuk Kantola, Isi Kantola,
Pelaksanaan Kantola, Tujuan Pelaksanaan Kantola, Peserta Kantola, Waktu
Pelaksanaan Kantola, Tempat Pelaksanaan Kantola, Durasi Waktu Kantola,
Sasaran Kantola diadakan, sedangkan peneliti memfokuskan kajiannya pada
bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola, fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola,
dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola. Makalah tersebut memiliki kesamaan
objek dengan rencana penelitian ini yakni tradisi lisan kantola.
Selain penelitian tersebut di atas, pada penelitian ini juga mengambil
rujukan buku tentang Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya oleh Alo
Liliweri (2002). Pada buku itu dijelaskan pertumbuhan kesenian multikultural
yang sedang bergejolak dewasa ini. Menurut buku itu, “penyembuhannya” dapat
dilakukan dengan humanisme yang digali dari kearifan lokal sarat dengan nilainilai
humanistik. Buku tersebut dapat membantu penelitian ini, terutama untuk
menjelaskan bentuk tradisi lisan kantola dari perspektif ilmu sosial masyarakat
dan ilmu komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2002: 259).
Dari berbagai pendapat tersebut diatas, peneliti dapat memperoleh
gambaran yang berguna dan bermanfaat dalam pengembangan penelitian
selanjutnya. Hal ini akan memberikan kontribusi yang besar dalam menelusuri
keberadaan kantola beserta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap syairnya serta
bentuk dan fungsinya. Dengan demikian, revitalisasi dapat dilakukan setelah
mengetahui keberadaan bentuk tradisi lisan ini sehingga dapat menjalankan
fungsinya dan menghasilkan makna.
17
Hal-hal yang dikemukakan pada penelitian terdahulu umumnya berfokus
pada pembahasan stuktur dan aspek-aspek yang melingkupi tradisi lisan kantola.
Penelitian ini berusaha memanfaatkan ruang kosong hasil penelitian sebelumnya
dengan melakukan pembahasan dari segi bentuk, fungsi dan makna, revitalisasi
tradisi lisan kantola. Kelebihan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian
sebelumnya terletak pada pembahasan yang dihasilkan lebih kongkrit dan lebih
komprehensif. Penelitian ini tidak sekedar mengumpulkan data sebanyakbanyaknya
tetapi yang lebih utama menarik akar permasalahan berdasarkan
pernyataan teoritis.
2.2 Konsep
Konsep ialah penyederhanaan pemikiran dengan menggunakan satu istilah
untuk beberapa kajian. Konsep juga diartikan sebagai hasil abstraksi dan sintesis
teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi, disamping untuk
menjawab dan memecahkan masalah penelitian. Konsep dapat berfungsi untuk
menyederhanakan arti atau pemikiran, ide serta hal-hal atau gejala sosial yang
digunakan agar pembaca dapat memahami maksudnya sesuai dengan keinginan
peneliti dalam penggunaan konsep tersebut.
Konsep juga merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena yang
serupa kenyataanya konsep dapat mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda,
semakin dekat suatu konsep kepada realita maka semakin mudah konsep tersebut
diukur dan diartikan (Koentjaraningrat, 1994: 4). Konsep merupakan deskripsi
secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Maka dari itu, dalam penelitian
diuraikan konsep secara langsung berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
18
2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola
Pada bagian ini terdapat tiga satuan konsep yang harus dijelaskan terlebih
dahulu, yaitu pertama revitalisasi. Menurut Keesing (1999:257) revitalisasi
adalah perubahan komunitas karena kesadaran baru untuk mencapai suatu citacita
atau menempuh suatu cara hidup dengan sesuatu yang baru ataupun cara
hidup dan nilai-nilai dari zaman yang sudah lampau. Keesing lebih menekankan
pada kesadaran baru terhadap upaya-upaya perubahan kehidupan masyarakat yang
sudah menyimpang dari tradisi-tradisi lama. Revitalisasi dapat berupa cara hidup
yang sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap mengikuti aturan-aturan
yang diwariskan oleh para leluhur ataupun tetap mengikuti pola kehidupan lama
yang telah diturun-temurunkan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya.
Konsep revitalisasi juga diungkapkan oleh Sibarani (2004:30) yang
menyatakan bahwa revitalisasi kebudayaan adalah sebuah proses dan usaha
memvitalkan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat atau usaha untuk
membuat kebudayaan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat. Kebudayaan harus menjadi bagian dari masyarakat pendukungnya.
Budaya lokal harus diusahakan dapat bermanfaat dalam kehidupan manusia untuk
lebih menyejahterakan masyarakat.
Budaya lokal yang berkembang secara turun temurun dari zaman lampau
sudah semakin tergerus dan tertatih-tatih menghadapi pengaruh globalisasi yang
semakin luas daya jelajahnya. Untuk menangkal arus globalisasi yang begitu
gencar mempengaruhi keberadaan, legitimasi, dan keberlanjutan budaya lokal,
19
maka munculnya kekuatan yang disebut kearifan lokal, atau lebih tegasnya
revitalisasi kearifan lokal.
Astra (dalam Majid 2009:19) lebih lanjut menegaskan bahwa revitalisasi
itu difungsikan untuk memperkokoh jati diri bangsa, yang didalamnya meliputi
kesadaran sejarah memegang peranan penting dalam menumbuhkembangkan jati
diri dan identitas bangsa sehingga penghayatan kebersamaan dimasa lampau dapat
membangkitkan rasa kepemilikan terhadap kearifan lokal. Selain itu, kesatuan dan
persatuan akan terus terpelihara dalam mempersiapkan masa yang akan datang
tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh generasi pendahulu.
Gagasan revitalisasi mengandung pikiran jernih yang menyisaratkan adanya
pandangan positif tentang beberapa strateginya kekuatan kearifan lokal dalam
menghadapi derasnya arus globalisasi.
Ardana (2004:91-92) menilai kebijakan pelestarian nilai-nilai budaya lokal
terjebak pada persoalan idiom politik, tanpa aplikasi yang nyata, hal ini terlihat
ketika nilai-nilai budaya lokal yang sebenarnya masih relevan dalam menjawab
persoalan global akhirnya punah. Sentralisasi kekuasaan yang begitu besar
membuat pemerintah dimasa lalu mengidap “paranoia” terhadap segala sesuatu
yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan nasional. Pelestarian adat dan nilainilai
budaya lokal lebih bersifat top down berkaitan dengan upaya pelestarian
kekuasaan.
Untuk itu perlu kiranya ditinjau kembali tentang apa yang dikerjakan
dalam menghadapi perubahan-perubahan yang berlangsung dalam masyarakat
yang seringkali tanpa arah ketika berhadapan dengan berbagai persoalan global.
20
Berdasarkan pengalaman historis, seringkali pengalaman masa lalu menjadi
berharga dalam mempertahankan eksistensi kehidupan masyarakat. Maka dari itu,
di berbagai kesempatan telah seringkali dimunculkan wacana tentang upaya untuk
revitalisasi nilai-nilai budaya lokal yaitu sebagai langkah pemberdayaan budaya
lokal itu dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat
yang lebih baik. Dengan kata lain, perlunya untuk memulihkan dan
membangkitkan kembali ingatan dan kesatuan kolektif masyarakat lokal sehingga
tidak tercabut dari akarnya.
Berbagai tantangan yang muncul di masyarakat mulai dari ethnosentrisme
di tingkat lokal, munculnya berbagai konflik sosial, politik dan ekonomi yang
berkepanjangan sampai berkembangnya paham-paham separatisme. Tantangantantangan
ini harus dihadapi dengan membangkitkan kembali atau revitalisasi
nilai-nilai budaya lokal di era globalisasi ini. Kemunculan nilai-nilai budaya lokal
itu dapat diharapkan, apabila masih ada tradisi kebudayaan sendiri yang dapat
dihidupkan kembali.
Dalam era globalisasi, menurut Ardana, telah muncul upaya-upaya untuk
membangkitkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat
istiadat dan peran dari lembaga adat. Menggunakan nilai-nilai budaya lokal untuk
menjawab berbagai tantangan inilah sebagai wujud nyata dari revitalisasi budaya
lokal. Dalam hal ini perlunya lebih ditingkatkan peran lembaga adat dalam
menangani persoalan-persoalan konflik politik, krisis ekonomi, degradasi budaya
sebagai akibat pengaruh globalisme.
21
Kebudayaan nasional merupakan proses dari bawah, dengan bertumpu
pada dualistik antara kebudayaan lama dan kebudayaan baru. Namun pada
kenyataannya, kebudayaan baru terus menekan kebudayaan lama yang sarat
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dapat menangkal gelombang pasang
globalisasi dan bergulirnya proses transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial
yang mengarah pada satu pusat budaya kosmopolitan. Strategi kebudayaan
melalui revitalisasi, harus membuka akses partisipatif dan membangkitkan respon
mutualistik dari eksponen budaya yang beragam.
Revitalisasi, dengan demikian menjadi hal yang sangat urgen untuk
dilakukan dalam menangkal berbagai pengaruh globalisasi. Globalisasi yang
menimbulkan berbagai dampak. Salah satu dampak globalisasi adalah keengganan
untuk melanjutkan tradisi lama yang dianggap sebagai bagian dari masa lalu yang
telah usang dan tidak sesuai lagi dengan masa kekinian, harus sesegera mungkin
disikapi dan ditindak lanjuti. Revitalisasi meniscahayakan nilai-nilai budaya lokal
untuk menjawab berbagai tantangan globalisasi.
Kedua konsep tradisi lisan. Tradisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1995:1069) diartikan sebagai adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang)
yang masih dijalankan di masyarakat. Tradisi juga berarti penilaian atau anggapan
bahwa yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. Ini
menyiratkan bahwa warisan dari masa lalu mengandung nilai-nilai kebenaran
yang masih telah berlaku di dalam masyarakat dan harus terus dilestarikan.
Piliang (2005) mendefinisikan tradisi lisan sebagai setiap bentuk karya,
gaya yang dipresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu kemasa kini,
22
sehingga tradisi lisan adalah sesuatu yang tidak pernah berubah, dan dijalankan
sebagai sebuah pengulangan-pengulangan. Tradisi menurut Piliang adalah proses
repetisi dan reproduksi. Tradisi adalah reproduksi atau kelanjutan masa lalu, dan
ia akan kehilangan sifat tradisi bila ia berubah. Perubahan dianggap sebagai
musuh tradisi yang mengancam keaslian dan keberlanjutannya.
Konsep lain yang dikemukakan Piliang menyangkut tradisi lisan adalah
bentuk, prinsip, konsep, pranata tingkah laku, ekspresi, norma dan nilai yang telah
didefinisikan dimasa lalu secara kolektif, dan diwariskan secara turun temurun.
Karena didefinisikan secara kolektif, maka tradisi mampu mengendalikan dan
memberikan arah pada perkembangan budaya lokal yang dapat bertahan dalam
menumbuhkan kemampuannya, dalam arti tidak terikat dengan sifat
ketergantungan pada globalisasi. Dengan kata lain, tradisi harus mampu bergerak
secara aktif dalam menumbuhkan kemampuannya.
Ketiga, konsep kantola adalah dari sisi etimologinya berasal dari dua
morfem, yakni morfem ka- dan morfem tola 'panggil'. Morfem ka- pada verba
dalam bahasa Muna memiliki fungsi gramatikal derivasional atau penominal.
Adapun morfem ka- mengalami perubahan bentuk menjadi kan-, hal itu
sebenamya sebagai pengaruh nasalisasi bahasa seni dalam bahasa Muna. Dengan
demikian, kantola lebih bermakna 'panggilan', 'ajakan' atau 'seruan'. Kantola
merupakan nama prosa lirik dari daerah Muna yang didendangkan pada saat acara
berbalas pantun antara dua kelompok, yaitu kelompok pria dan kelompok wanita.
Secara ontologis, syair-syair kantola bermuatan multidimensional yang sarat
makna. Lirik kantola disusun dan digubah pada saat pementasan berlangsung. Hal
23
ini mempunyai tujuan agar tradisi kelisanannya tetap terjaga. Pengekspresian
makna dalam lirik kantola tidak secara lugas, tetapi melalui simbol-simbol yang
disertai dengan gaya estetis. Ini berarti bahwa kandungan makna syair-syair
kantola ada dibalik simbol-simbol yang ada. Oleh karena itu untuk mengetahui
kandungan makna syair-syair kantola, seseorang harus memiliki kemampuan
interpretatif terhadap simbol-simbol yang digunakan (Aderlaepe, 2006: 3-4).
Memperlihatkan keanekaragaman karya sastra sebagai perwujudan genre,
maka perlu adanya penekanan bentuk dan cara-cara pemahaman yang berbeda
pula. Untuk mewujudkan keseimbangan antara sastra tulisan dan sastra lisan.
Perlu diadakan pemetaan terhadap keberadaan sastra lisan dan dilakukan
penelitian secara mendalam. Di satu pihak perlu diperhatikan dengan
pertimbangan bahwa khazanan sastra lisan kaya dengan nilai-nilai kultur yang
pada dasarnya sangat diperlukan dalam rangka membina semangat persatuan dan
kesatuan bangsa. Namun, dipihak lain sastra lisan dianggap tidak memiliki
peranan dalam meningkatkan kualitas bermasyarakat.
Sudah pada saatnya kajian tentang karya sastra terutama karya sastra lisan
yang dikelompokkan ke dalam sastra lama dikaji oleh para peneliti lokal, yang
pada umumnya lebih tertarik mengkaji sastra modern. Hal ini akan berdampak
positif sehingga keberadaan sastra lama dapat diidentifikasi. Selain itu, dengan
hasil kajian ini dapat diperoleh gambaran mengenai kekayaan kehidupan bangsa.
Prioritas penelitian terhadap khazanah sastra lama. Selain dalam rangka
mengantisipasi proses kepunahannya, juga berfungsi untuk mengungkapkan nilainilai
kultur yang terkandung didalamnya (Ratna, 2008).
24
Kantola yang merupakan bagian dari khazanah sastra lisan Nusantara
tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat Muna. Apabila dilihat dari
kacamata historis, Muna adalah sebuah etnis besar yang berbentuk kerajaan dan
sekarang menjadi satu kabupaten. Sejak saat itu sastra lisan kantola muncul, yang
disebabkan masyarakat membutuhkan media untuk mengemukakan dan
mengapresiasikan ide-ide mereka.
Tradisi lisan kantola mencakup hasil ekspresi warga suatu kebudayaan
masyarakat Muna yang diwariskan secara turun temurun dan disebarluaskan
secara lisan, yang merupakan produk kreativitas yang mendalam terhadap segala
aspirasi, cita-cita, keinginan, dan ide bagi masyarakat lama yang bercorak
tradisional. Segala ekspresi masyarakat untuk menyampaikan pandangan mereka
terhadap fenomena sosial sangat intim dengan tradisi lisan (kantola).
Konsep-konsep tersebut di atas dapat memberikan gambaran bagaimana
suatu tradisi lisan yang berkembang dalam suatu masyarakat dapat terus bertahan
dengan memvitalkan kembali cara hidup dan nilai-nilai dari zaman yang sudah
lampau yang merupakan sumber kearifan lokal. Hal ini terutama disebabkan oleh
kuatnya pengaruh perilaku kolektif yang terdapat di dalamnya. Namun, pengaruh
tersebut dapat saja berkurang daya tariknya jika revitalisasi tradisi lisan tersebut
dibenturkan pada berbagai perubahan pola hidup yang terus berkembang seiring
dengan perubahan zaman yang bergerak dinamis.
Revitalisasi tradisi lisan melingkupi perubahan komunitas karena adanya
kesadaran baru untuk memperkokoh jati diri bangsa dengan memvalitkan kembali
norma dan nilai yang telah didefenisikan di masa lalu secara kolektif, dan
25
diwariskan secara turun-temurun yang merupakan sumber kearifan lokal dalam
kehidupan masyarakat.
2.2.2 Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara
Kata Masyarakat dan Muna terdiri tiga unsur: pertama, konsep masyarakat
mengacu pada suku bangsa atau kelompok etnik yang dicirikan berdasarkan
wujud kebudayaan dan corak tradisi yang digunakan dalam kapasitasnya sebagai
unsur budaya, indeks budaya, dan simbol budaya. Sejalan dengan itu,
Koentjaraningrat (Hadirman, 2009: 9) mengartikan suku bangsa sebagai suatu
golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas kesatuan kebudayaan,
yang seringkali dikuatkan oleh kesatuan tradisi. Kesatuan kebudayaan dan tradisi
dalam satu kelompok masyarakat tidak ditentukan oleh orang luar, tetapi
berdasarkan konvensi para anggotanya. Sosok kebudayaan suatu kelompok
masyarakat tercermin, antara lain dengan bentuk tradisi yang mereka gunakan
dalam konteks sosial dan konteks budaya. Adapun masyarakat Muna yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Muna yang bermukin
dikecamatan Lawa dan Kontunaga. Kedua, Muna merupakan nama salah satu
wilayah yang mana wilayahnya tersebut menjadi ibukota atau pusat pemerintahan
Daerah Tingkat II Muna. Ketiga, Sulawesi Tenggara adalah merupakan salah satu
wilayah di Pulau Sulawesi yang memiliki hak otonom dalam hal pemerintahan
sehingga memiliki status sebagai Provinsi Sulawesi Tenggara. Jadi masyarakat
Muna yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Muna yang
mengacu pada suatu suku bangsa atau kelompok etnik yang berada di kabupaten
muna, akan tetapi lokasi penelitian ini di pusatkan pada dua kecamatan yaitu
26
kecamatan Lawa dan kecamatan Kontunaga, bukan pada wilayah kabupaten Muna
secara keseluruhan.
2.2.3 Era Globalisasi
Kata era berarti ‘jaman, masa, tarikh’. Adapun kata globalisasi merupakan
kata yang diserap dari kata bahasa Inggris dari kata globe yang artinya ‘bola
dunia’ (Poerwarminta, 1988: 61). Dari kata globe muncul kata global yang
diartikan “sedunia, sejagat’ dan kata globalisasi yaitu gejala terbentuknya sistem
organisasi dan sistem komunikasi antara masyarakat-masyarakat di seluruh dunia
yang mengikuti sistem nilai dan kaidah yang sama. Sistem-sistem yang bersifat
global terbentuk sebagai akibat dari sistem transport udara yang makin lama
makin cepat, dan karena sistem komunikasi person-to-person serta komunikasi
massa yang mampu menyelenggarakan hubungan atas dasar hitungan waktu yang
diukur dengan jam, menit, detik ataupun dalam seketika (Sumardjan, 2007: 23).
Berdasarkan uraian tentang masing-masing bagian konsep tersebut di atas
maka dapat dirumuskan bahwa globalisasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini
adalah suatu jaman atau massa di mana sistem organisasi dan sistem komunikasi
antara masyarakat-masyarakat di seluruh dunia mengikuti sistem nilai dan kaidah
yang sama atau hampir sama.
Jadi defenisi oprasional Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Masyarakat
Muna Sulawesi Tenggara pada Era Globalisasi adalah merupakan pengokohan jati
diri yang menyiratkan adanya pandangan positif tentang betapa strateginya tradisi
lisan kantola, sebagai media ekspresi, dalam menghadapi derasnya arus
globalisasi. Selain itu, mampu mengendalikan dan memberikan arah pada
27
perkembangan budaya lokal tersebut, yang dipresentasikan sebagai kelanjutan
dari masa lalu ke masa kini, sehingga dapat bertahan dalam menumbuhkan
kemampuannya.
Revitalisasi merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan budaya
lokal sehingga dapat mengaktualisasi diri dalam konteks global. Pengembangan
budaya lokal dapat dilakukan melalui pengenalan dan pengajaran budaya lokal,
dengan menciptakan ruang bagi pengembangan kreativitas lokal sehingga mampu
menumbuhkan kesadaran kultural tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar budaya
lokal tersebut. Selain itu, revitalisasi harus menjadikan budaya lokal sebagai
kebutuhan dalam menyejahterakan masyarakat. Adapun indikator yang
menyangkut revitalisasi tradisi lisan antara lain:
1. Kesadaran untuk menanamkan cara hidup berdasarkan norma-norma dan
nilai-nilai budaya lokal dalam memperkokoh jadi diri masyarakat lokal.
2. Menumbuhkan kesadaran akan strategisnya kekuatan kearifan lokal dalam
menghadapi derasnya arus globalisasi.
3. Membangkitkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan
pengembangan adat istiadat dan peran dari lembaga adat.
4. Memulihkan dan membangkitkan kembali ingatan dan kesadaran kolektif
masyarakat lokal sehingga tidak tercabut dari akarnya.
5. Dorongan untuk menata ulang pengalaman kultural dan memberikan arah
pada perkembangan budaya lokal.
28
2.3 Landasan Teori
Pada hakikatnya, teori merupakan seperangkat konsep, defenisi dan
preposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk
menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena atas realitas sosial. Teori digunakan
baik untuk menggambarkan yang seharusnya maupun menjelaskan yang
senyatanya secara empirik (Cooper and Schindler, 2003, Sugiyono, 2009:41).
Untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi sebagai yang berlaku dalam
kenyataan, teori harus melaksanakan fungsi ganda. Pertama, menjelaskan fakta
yang sudah diketahui, dan kedua; membuka celah pandangan baru untuk
menemukan fakta baru pula. Bila kejadian yang sama ditafsirkan dalam konteks
teoritik berbeda, akan muncul jenis-jenis fakta yang berlainan pula (Kaplan,
2002:15).
Dengan demikian, diperlukan beberapa teori yang relevan dan
dipergunakan dalam penelitian ini dalam menjelaskan kenyataan empirik tersebut,
antara lain (1) teori hegemoni yang difokuskan pada pengaruh globalisasi
terhadap tradisi lisan kantola, (2) teori resepsi, penerima/penyambut ataupun
masyarakat dalam hal pemaksaan dan penilaian suatu karya sastra. (3) Teori
Dekontruksi, Dekonstruksi tentunya diikuti oleh penyusunan kembali
(rekontruksi) atau menata kembali struktur-struktur yang telah didekonstruksi. (4)
Teori Semiotika, berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda,
bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia.
29
2.3.1 Teori Hegemoni
Masyarakat Muna adalah salah satu etnis besar yang termaginalisasi dari
segi tradisi, yang diakibatkan oleh modernisasi. Proses pengikisan tradisi lisan
secara perlahan yang melupakan identitas individu dan budaya-budaya lokal,
sehingga berdampak pada kecenderungan sikap masyarakat yang konsumerisme.
Hal ini bisa berdampak dengan semakin dilupakannya nilai-nilai budaya lokal.
Pudarnya sebuah tradisi atau kebudayaan lisan disebabkan masyarakat
menganggap tradisi lisan adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu.
Oleh karena itu, problematika kehidupan masyarakat Muna dapat dikaji dengan
menerapkan teori hegemoni
Wacana hegemoni yang dapat diterapkan untuk menelaah masalah
mengapa mulai ditinggalkannya tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna
adalah analisis wacana hegemoni dari Foucault dan Gramsci. Analisis geneologi
Foucault tentang formasi diskursif mengetengahkan antara hubungan pengetahuan
dan kekuasaan. Tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan, sebaliknya tidak ada
pengetahuan tanpa ada kekuasaan yang mendukungnya (Foucault, 1977).
Selanjutnya Foucault menawarkan tiga konsep pendisiplinan, yaitu (1) ilmu-ilmu
pengetahuan yang menempatkan subjek sebagai objek penyelidikan; (2) praktikpraktik
pemisahan yang memilah antara yang waras dengan yang gila, antara yang
kriminal dengan warga yang taat hukum, dan antara kawan dengan lawan; (3)
teknologi-teknologi tentang diri yang digunakan individu untuk mengubah diri
mereka menjadi subjek (Barker, 2004: 107). Sesuai dengan formasi diskursif dan
30
praktik-praktik pemisahan yang dikemukan Foucault tersebut, masyarakat Muna
diwacanakan sebagai lawan yang harus ditaklukkan oleh pihak lain.
Menurut Simon (1999: 19) secara esensial hegemoni bukan merupakan
hubungan dominasi inherent dengan menggunakan kekuasaan, melainkan terjadi
kesepahaman dengan penggunaan kepemimpinan politik dan ideologi, sehingga
hegemoni merupakan organisasi konsensus. Dalam hegemoni kontrol sosial
dilakukan dengan cara membentuk keyakinan ke dalam. Namun demikian, yang
berlaku adalah supremasi kelompok dalam hegemoni yang diperoleh bukan atas
penindasan tetapi melalui konsensus menggiring cara pandang orang dalam
menyikapi problematik sesuai dengan cara pandang kelas sosial yang
menaklukkannya.
Hegemoni adalah sebuah rantai kemenangan yang dapat muncul melalui
mekanisme konsensus daripada melalui penindasan terhadap kelompok sosial
lainnya, yakni melalui institusi yang ada dalam masyarakat yang menentukan
secara langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyarakat
(Hendarto, 1993: 35). Itulah sebabnya hegemoni menurut Gramsci pada
hakikatnya adalah upaya untuk menggiring orang menilai dan memandang
problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan. Melalui hegemoni, cara
pandang dan keyakinan masyarakat akan dipengaruhi sehingga kehilangan
kesadaran kritis mereka terhadap sistem yang ada. Hal ini berimplikasi bahwa
seolah-olah kelompok penguasa memberikan kebebasan bagi kelompok yang
tertindas dalam berekspresi. Namun, sesungguhnya hal itu adalah strategi yang
diterapkan kelompok penguasa sehingga tidak terlihat adanya tekanan bagi kaum
31
tertindas. Hegemoni merupakan suatu tatanan atau cara hidup dan pemikiran
kelompok tertentu menjadi dominan, yakni suatu konsep realitas yang disebarkan
ke seluruh masyarakat dalam seluruh kelembagaan dan kehidupan pribadinya
yang mempengaruhi seluruh cita rasa, moralitas, kebiasaan, prinsip, agama dan
politik, serta seluruh hubungan sosial terutama dalam pengertian intelektual dan
moral (Fakih, 2000).
Dalam konteks konsensus, Gramsci mengajukan tiga kategori konformitas/
penyesuaian bagi masyarakat yang tidak mampu beroposisi, yaitu (1) orang akan
menyesuaikan diri mungkin karena takut akan konsekuensi-konsekuensi bila tidak
menyesuaikannya; (2) orang menyesuaikan diri mungkin karena terbiasa
mengikuti tujuan-tujuan tertentu; (3) konformitas yang muncul dari tingkahlaku
yang mempunyai tingkatan-tingkatan kesadaran dan persetujuan dengan unsurunsur
tertentu dalam masyarakat (Hendarto, 1993: 36). Dalam konteks ini
hegemoni terus-menerus diperbaharui. diciptakan dipertahankan dan dimodifikasi.
Hegemoni juga ditantang, dibatasi, diubah, dan dihadang oleh tekanan dari luar,
sehingga hegemoni selalu peka terhadap alternatif. Upaya revitalisasi tradisi lisan
dalam masyarakat Muna adalah bagian dari perlawanan terhadap hegemonik yang
sedang dialami oleh masyarakat Muna.
Teori di atas, digunakan untuk menganalisis permasalahan kedua dalam
penelitian ini yakni tentang fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat
Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, juga model rekonstruksi tradisi
lisan kantola sebagai kekayaan budaya masyarakat tersebut. Faktor penunjang dan
penghambat tersebut dicurigai berasal dari dalam masyarakat Muna itu sendiri dan
32
ada yang berasal dari luar masyarakat, seperti pemerintah daerah dan pihak-pihak
lain. Begitu pula dengan kemungkinan merekonstruksi tradisi lisan kantola
sebagai strategi dalam mengembangkan identitas tidak terlepas dari peranan
masyarakat, khususnya masyarakat Muna dan juga adanya campur tangan
pemerintah daerah. Sebab menurut Wibowo (2000: 45), pemerintah daerah dan
masyarakat saling berinteraksi.
Mengacu pada teori hegemoni di atas, dengan mulai ditinggalkanya nilainilai
tradisi lisan kantola yang diakibatkan oleh pengaruh budaya global terhadap
perkembangan budaya masyarakat Muna. Budaya global memberikan pengaruh
signifikan terhadap perkembangan budaya lokal, dalam hal ini tradisi lisan
kantola yang merupakan identitas masyarakat lokal Muna. Namun seiring dengan
gencarnya budaya global mempengaruhi keberadaan tradisi lisan dan identitas
masyarakat Muna. Budaya global dengan kekuasaan kapitalisme dan hegemoni
kultural melalui media terus mengancam keberadaan budaya lokal ini.
2.3.2 Teori Dekonstruksi
Pada penelitian ini digunakan juga teori Dekonstruksi Derrida untuk
membedah makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi
Tenggara pada era globalisasi. Upaya konstruksi yang dilakukan oleh masyarakat
Muna atas penolakan oposisi biner di mana telah dilekatkan kepada mereka
selama ini, terutama yang berkaitan dengan keberadaan tradisi lisan kantola.
Derrida memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma
modernisme dan senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan
pengertiannya. Dalam hal ini dekonstruksi hendak memunculkan dimensi-dimensi
33
yang tertindas di bawah totalitas modernisme (Padje, 2007: 97). Dekonstruksi
menolak otoritas sentral dalam pemaknaan budaya. Oleh karena makna budaya
tidak harus tunggal, tetapi dapat bersifat terbuka pada makna lainnya. Disamping
itu dekonstruksi juga menolak segala bentuk asumsi yang membelenggu.
Teori dekonstruksi dikemukakan oleh Derrida sebagai sebuah usaha untuk
menolak logosentrisme atau metafisika yang melahirkan oposisi biner (Lubis,
2006: 121; Al Fayyadl, 2006: 8). Dalam oposisi biner terdapat satu unsur yang
mendominasi unsur lainnya dan pada akhirnya menimbulkan kesenjangan,
sehingga kehadiran dekonstruksi memberi arti pada kelompok yang lemah atau
minoritas.
Menurut Ratna (2005: 252), dalam dekonstruksi dilakukan semacam
pembongkaran. Tujuan akhir yang hendak dicapai adalah penyusunan kembali ke
dalam tataran yang lebih signifikan, sesuai dengan hakikat objek sehingga dapat
dimanfaatkan secara maksimal. Lebih lanjut Ratna (2006:37) mangatakan bahwa
keberadaan teori Dekonstruksi adalah untuk membongkar, merakit ulang oposisi
biner dan kekuatan-kekuatan sosial lainnya. Jadi, dekonstruksi mengandung arti
mengurangi, membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu susunan dan
struktur yang dibangun bersama hingga intensitasnya berkurang. Agar
dekonstruksi dapat menciptakan dinamika, kreativitas serta produktivitas tafsir,
maka tentunya diperlukan perlakuan baru terhadap sesuatu yang hendak
didekonstruksi tersebut. Dekonstruksi tentunya diikuti oleh penyusunan kembali
atau menata kembali struktur-struktur yang telah didekonstruksi.
34
Penggunaan teori dekonstruksi dalam penelitian ini untuk mengungkap
proses dekontruksi dalam arti proses pembebasan dari modernitas yang dianggap
represif dan proses pembentukan kontruksi postmodernitas yang dilakukan tradisi
lisan kantola. Dalam hal ini membongkar dan menafsir kembali hal-hal yang
berhubungan dengan tradisi lisan kantola yang selama ini telah dicirikan
sebelumnya akan melahirkan makna baru terhadap keberadaan tradisi lisan itu
sendiri.
Sebagaimana telah diutarakan di atas, teori dekonstruksi dalam penelitian
ini digunakan untuk mengungkapkan proses dekonstruksi dalam arti proses
pembebasan dari modernitas yang dianggap represif dan proses pembentukan
konstruksi postmodernitas sebagai konstruksi baru yang dilakukan tradisi lisan
kantola. Pembebasan terhadap modernitas akan mengacu kepada pembebasan atas
hegemoni, sedangkan pembentukan konstruksi postmodernitas akan mengacu
pada konstruksi budaya, sosial, politik, estetika, dan seni pertunjukan yang baru
atau postmodern. Hal ini sesuai dengan cara kerja dekonstruksi yang dikenal
dengan “membongkar”, selanjutnya pembongkaran tersebut diikuti oleh
pembangunan kembali (Ratna, 2005: 26).
2.3.3 Teori Semiotika
Cassier membedakan antara tanda (sign) dengan simbol. Tanda adalah
bagian “dunia fisik” yang berfungsi sebagai operator yang memiliki substansial.
Sementara simbol tidak memiliki kenyataan fisik atau substansial, tetapi hanya
memiliki nilai fungsional (Triguna, 2000: 8).
Menafsirkan sarana tanda sebagai suatu tanda dalam penelitian ini akan
35
digunakan teori semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan
interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan
manusia (Cobley dan Jans dalam Ratna, 2004: 71) sebagai ilmu tanda, semiotika
sosial mesti dipahami dengan konteks dimana tanda-tanda tersebut difungsikan.
Pendekatan semiotik atau semiologi didasarkan pada asumsi bahwa
tindakan manusia atau hal yang dihasilkannya menunjukan makna asalkan
tindakan tersebut berfungsi sebagai tanda, tentu ada sistem konvensi dan
pembedaan yang mendasarinya dan yang memungkinkan adanya makna tersebut.
Dimana ada tanda disitulah ada sistem. Hal inilah yang sama-sama ada dalam
berbagai kegiatan yang menjadi penanda (Culler, 1996: 74).
Menurut Levi Straus untuk menganalisis fenomena yang menjadi penanda,
meneliti tindakan atau objek yang membawa makna, seorang peneliti harus
mendalilkan (mengandaikan) adanya sistem hubungan yang mendasari hal yang
ditelitinya, dan harus mencoba melihat apakah makna unsur atau objek individual,
bukan merupakan akibat dari kontrasnya dengan unsur dan objek lain dalam suatu
sistem hubungan yang tidak disadari adanya oleh anggota suatu budaya. Makna
yang diberikan kepada objek atau tindakan oleh para anggota suatu budaya
bukanlah fenomena yang benar-benar acak, pasti ada sistem pembedaan,
penggolongan yang merupakan semiologi, pasti ada kaidah penggabungan yang
dapat digambarkan. Jadi yang dapat dimasukan kedalam semiologi adalah suatu
bidang kajian yang amat luas. Segala ranah kegiatan manusia, apakah itu musik,
arsitektur memasak, etiket, periklanan, mode dan sastra dapat dikaji (dibedakan)
menurut pendekatan semiologi. Meskipun kebanyakan objek dan kegiatan
36
masyarakat adalah tanda, objek dan kegiatan tersebut bukanlah tanda yang
jenisnya sama. Untuk membedakan antara jenis-jenis tanda yang berbeda perlu
dikaji dengan cara yang berbeda. Ada tiga golongan tanda yang mendasar dan
(yang kadang-kadang secara keliru disebut ‘simbol’). Semua tanda terdiri atas
suatu penanda (signifier) dan petanda (konsep atau singnifified), yakni bentuk
dengan makna atau makna-makna terkait. Hubungan antara penanda dan konsep
(ditanda) akan berbeda bagi masing-masing dari ketiga jenis tanda ini (Culler,
1996: 80-83).
Sebagai suatu ilmu, semiotika memiliki jangkauan yang relatif luas.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sobur (2003: V, XIX) ada tiga aliran
pemikiran yang terdapat dalam semiotika, (1) Semiotika segnifikasi, (2) Semotika
Komunikasi, (3) Semiotika exstra-komunikasi. Semiotika signifikasi merupakan
suatu aliran semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure beserta
pengikutnya. Semiotika komunikasi yang dikembangkan oleh Charles Sanders
Pierce beserta pengikutnya. Sedangkan semiotika extra-komunikasi merupakan
aliran pemikiran baru dalam semiotika yang melampaui kontraversi antar dua
semiotika tersebut diatas, merupakan kritik maupun pengembangan terhadap
semiotika signifikasi.
Hubungan dengan permasalahan penelitian ini, semiotika signifikasi
relevan untuk digunakan, semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh
Ferdinand de Saususure, menempatkan bahasa sebagai suatu sistem tanda yang
mengungkapkan ide-ide dan dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad, tuna
rungu, bentuk sopan santun, isyarat militer, dan seterusnya (Krampen, 1996: 56).
37
Semiotika signifikasi pada lingkup penanda tersebut terkait dengan permasalahan
penelitian ini, khususnya tentang tradisi lisan kantola. Pada tradisi lisan kantola
dapat dipandang sebagai salah satu formulasi atau ragam budaya, yaitu sebagai
simbol, ungkapan ataupun pribahasa. Dengan demikian tradisi lisan kantola dapat
dikatakan sebagai salah satu objek semiotika dalam lingkup penanda. Dalam
kaitan ini, pendekatan semiotika terhadap tradisi lisan kantola meliputi analisis
penanda, untuk mengindentifikasi pelibat tradisi lisan kantola¸ petanda untuk
memahami isi dari pelibat tradisi lisan kantola tersebut.
Kenyataan yang ada dalam tradisi lisan kantola sebagai elemen daya tarik,
untuk digunakan sebagai bentuk estetis yang indah pada saat tradisi lisan kantola
terjadi. Keadaan seperti ini merefleksikan terjadinya komunikasi yang terintegrasi
sebagai kesatuan emosi.
Penyampaian lirik kantola diungkapkan tidak secara lugas, tetapi
dikiaskan melalui simbol-simbol. Disini juga kelihatan bahwa peserta pertunjukan
tradisi lisan kantola mempunyai kemampuan intpretatif dan menguasai keahlian
yang formulaik.
Sebagaimana diungkapkan di atas, teori ini digunakan untuk menganalisis
permasalahan pertama dalam penelitian ini yakni tentang bentuk revitalisasi
tradisi lisan kantola masyarakat Muna Propinsi Sulawesi Tenggara pada era
globalisasi.
2.3.3 Teori Resepsi
Karya sastra sangat erat kaitannya dengan penerima/penyambut. Karya
sastra ditujukan untuk penerima dan kepentingan masyarakat
38
penerima/penyambut. Karya sastra tidak mempunyai nilai tanpa ada
penerima/penyambut yang menilainya karena penerima/penyambutlah yang
menentukan makna dan nilai suatu karya sastra (Teeuw dalam Pradopo, 2007:
207). Teori resepsi melokasikan penikmat ke dalam posisi yang memegang
peranan penting. Tanpa peran serta audiens, seperti pendengar, penikmat,
penonton, pemirsa, penerjemah, dan para pengguna lainnya. Khususnya penerima/
penyambut itu sendiri, maka keseluruhan aspek-aspek kultural yang terdapat
dalam suatu karya sastra akan kehilangan maknanya. Peranan
penerima/penyambut sangat penting walaupun penerima/penyambut sama sekali
tidak memiliki relevansi dalam kaitannya dengan proses kreatif penciptaan suatu
karya sastra (Ratna, 2006: 165)
Selanjutnya Ratna mengemukakan bahwa teori resepsi diartikan sebagai
penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi, dan sikap penerima/penyambut
sehingga dapat memberikan tanggapan terhadap suatu karya sastra. Tanggapan
yang dimaksudkan tidak dilakukan antara karya dengan seorang
penerima/penyambut, melainkan penerima/penyambut sebagai proses sejarah,
penerima/penyambut dalam periode tertentu. Dalam hubungan inilah teori resepsi
dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a) resepsi secara sinkronis, meneliti karya
sastra dalam hubungannya dengan penerima/penyambut sezaman, dan b) resepsi
secara diakronis, penelitian dalam kaitannya dengan penerima/penyambut
sepanjang sejarah.
Pada dasarnya, model resepsi diakronis dapat memberikan pemahaman
yang signifikan, dengan pertimbangan, khususnya dalam kaitannya dengan studi
39
kultural, pertama, adalah perubahan pandangan terhadap karya sastra sebagai
akibat perubahan horison harapan, paradigma, dan sudut pandang. Kedua,
pergeseran penilaian terhadap perkembangan suatu karya sastra ini merupakan
tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana masyarakat telah berubah.
Menurut teori resepsi, keindahan dan manfaat karya sastra bagi
masyarakat juga para aktor kebudayaan umumnya, bukanlah keindahan yang
sudah pasti defenisinya. Keindahan yang dimaksudkan bukanlah keindahan abadi,
karya seni dalam hubungan ini tidak bersifat universal. Sebaliknya keindahan
adalah nisbih, yang kualitasnya bergantung dari situasi latar belakang sosial
budaya penerima/penyambut, yang melalui keindahannya penerima/penyambut
dapat mengali dan memahami aktivital kultural secara berbeda-beda pula.
Resepsi sastra tampil sebagai teori dominan sejak tahun 1970an, dengan
berbagai pertimbangan: a) sebagai jalan keluar untuk mengatasi strukturalisme
yang dianggap hanya memberikan perhatian terhadap unsur-unsur, b) timbulnya
kesadaran untuk membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, dalam rangka
kesadaran humanisme universal, c) kesadaran bahwa nilai-nilai karya sastra dapat
dikembangkan hanya melalui kompetensi penerima/penyambut, d) kesadaran
bahwa keabadian nilai karya seni disebabkan oleh penerima/penyambut, e)
kesadaran bahwa makna yang terkandung dalam hubungan ambigius antara karya
sastra dengan penerima/penyambut (Ratna, 2006: 166).
Secara historis, teori resepsi telah diperkenalkan sejak akhir 1969 oleh
Hans Robert Jauss (Pradopo, 2007: 206). Jauss mengungkapkan bahwa apresiasi
penerima/penyambut dengan terhadap sebuah karya sastra akan diperkaya melalui
40
tanggapan-tanggapan lebih lanjut dari generasi ke generasi. Dengan cara ini
makna historis karya sastra akan ditentukan dan nilai estetikanya terungkap.
Tanggapan-tanggapan seseorang mengenai karya sastra akan berbeda-beda,
demikian pemahaman karya sastra pada satu periode dengan periode yang
lainnya. Perbedaan inilah yang disebut oleh Jauss sebagai horison harapan.
Horison harapan ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan
kemampuan dalam menanggapi karya sastra.
Sehubungan dengan horison harapan, Seger (Pradopo, 2007: 208)
menetapkan tiga kriteria: pertama, ditentukan oleh norma-norma yang terpencar
dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; kedua, ditentukan oleh
pengetahuan dan pengalaman atas sebuah teks yang telah dibaca sebelumnya;
ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan. Proses penerima/penyambutan,
bagi teori resepsi, selalu bersifat dinamis sepanjang waktu. Karya sastra eksis
hanya sebagai apa yang disebut Roman ingarden sebagai seperangkat “skhemata”
atau arah yang umum, yang harus diaktualisasikan oleh pembaca (Eagleton,
2006:109).
Teori resepsi digunakan untuk mengkaji makna revitalisasi tradisi lisan
kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, dengan
pertimbangan bahwa tradisi lisan sangat berkaitan dengan norma-norma dalam
menjalankan kehidupan bermasyarakat yang cenderung bergerak dinamis seiring
dengan perkembangan zaman. Selain itu, pemahaman masyarakat Muna terhadap
tradisi lisan kantola juga sangat beragam sesuai dengan kondisi kultural mereka.
41
Teeuw (Ratna, 2006: 170) menganggap studi resepsi sastra sangat tepat
diterapkan di Indonesia karena memiliki khazanah sastra, khususnya sastra lama
(sastra lisan sering juga disebut sebagai sastra lama) yang sangat beragam.
Sebagai ahli dalam bidang sastra lama, menurut Juass, nilai karya sastra dengan
demikian terkandung dalam pertemuan antara masa lampau dengan kekinian
masing-masing peneliti.
42
2.4 Model Penelitian
Model penelitian dimaksudkan untuk menunjukkan arah dalam mengakaji
masalah penelitian secara keseluruhan. Dengan kata lain, model penelitian adalah
patokan akademis yang menjadi petunjuk dalam mengkaji masalah penelitian.
Model penelitian berikut ini diterapkan untuk menuntun arah penelitian dalam
mengidentifikasi realitas budaya yang berkembang dalam masyarakat. Model
penelitian tersebut dapat dilihat melalui bagan berikut ini.
Keterangan Model:
= Keterangan satu arah
= Keterangan dua arah
Kebudayaan
Masyarakat Muna
Globalisasi
TRADISI
MITOS
Media dan
Teknologi
Bentuk
revitalisasi tradisi
lisan kantola
masyarakat Muna
Sulawesi
Tenggara pada
era globalisasi
Fungsi revitalisasi
Tradisi lisan Kantola
masyarakat Muna
Sulawesi Tenggara
pada era globalisasi
Makna
revitalisasi tradisi
lisan kantola
masyarakat Muna
Sulawesi
Tenggara pada
era globalisasi
Revitalisasi
Tradisi lisan
Kantola
43
Penjelasan Model
Penelitian ini berangkat dari keberadaan tradisi lisan kantola yang menjadi
bagian budaya masyarakat Muna. Pertama-tama peneliti melihat proses
munculnya tradisi lisan dalam masyarakat Muna yang dipentaskan dalam pasca
acara budaya seperti perkawinan, pengislaman, pingitan. Pementasan tradisi lisan
kantola tidak berdiri sendiri. Ia dilantunkan dalam sebuah pertunjukan yang hanya
dipentaskan dalam acara tertentu didalam suatu acara.
Selanjutnya peneliti melihat pengaruh budaya global terhadap
perkembangan budaya Muna. Budaya global memberikan pengaruh signifikan
terhadap perkembangan budaya lokal, dalam hal ini tradisi lisan kantola yang
merupakan identitas masyarakat lokal Muna. Namun seiring dengan gencarnya
budaya global mempengaruhi keberadaan tradisi lisan dan identitas masyarakat
Muna. Budaya global dengan kekuasaan kapitalisme dan hegemoni kultural
melalui media dan teknologi terus mengancam keberadaan budaya lokal ini.
Sesuai dengan model penelitian diatas, revitalisasi merupakan objek
formal dalam memvitalkan kembali tradisi lisan kantola. Revitalisasi merupakan
suatu proses menjadikan kebudayaan sebagai suatu yang menjadi bagian
terpenting didalam kehidupan manusia sebelum kehilangan bentuk dan maknanya.
Proses revitalisasi tentunya dilakukan secara teroganisir oleh individu pelaku
budaya, kelompok komunitas bersama-sama pemerintah yang memiliki kesadaran
dan merasa begitu pentingnya warisan budaya.
Pada akhirnya model penelitian ini digunakan untuk mengkaji revitalisasi
kebudayaan secara holistik. Sesuai dengan perspektif kajian budaya, penelitian ini
44
berfokus pada kajian bentuk, fungsi, dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola
dalam masyarakat Muna. Keseluruhan unsur-unsur yang terdapat dalam model
penelitian ini saling berkaitan dan saling mendukung antara unsur yang satu
dengan unsur yang lainnya sehingga membentuk satu kesatuan.
45
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
hermeneutika, yaitu telaah atas makna yang tersembunyi di dalam teks yang
mengandung makna. Pendekatan hermeneutika digunakan untuk menghayati dan
memahami secara mendalam terhadap fenomena budaya terhadap tradisi lisan
kantola dalam masyarakat Muna. Pengumpulan data dan analisis data dikerjakan
secara simultan dalam menghayati dan memahami makna melalui teori
dekontruksi teori hegemoni, teori resepsi, dan teori semiotika.
Hermeneutika adalah proses penafsiran dan penginterprestasian.
Hermeneutika mengimplikasikan pesan lewat bahasa, baik bahasa lisan maupun
bahasa tulisan untuk memproduksi makna secara tak terbatas sesuai dengan
kemampuan subjek yang menafsirkan (Ratna, 2005: 91). Maka sikap interprestasi
tak lain adalah suatu usaha untuk menguak makna yang masih tersirat dan
tersembunyi dalam suatu teks. Teks merupakan kumpulan kata yang tersusun
dalam suatu pola tertentu dan maksud tertentu. Menurut Palmer (2003:277), apa
yang dibutuhkan dalam interprestasi sastra adalah penalaran dialektika yang tidak
menginterogasi teks tetapi menyediakan sesuatu yang dikatakan pada teks untuk
menginterogasi balik, untuk mengajak horizon penafsiran ke dalam pertanyaan
dan melakukan transformasi pemahaman seseorang terhadap subjek.
46
3.2 Lokasi Penelitian
Untuk melakukan penelitian ini maka peneliti membatasi lokasi penelitian,
yaitu di Kecamatan Lawa dan Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Propinsi
Sulawesi Tenggara. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan sebagai berikut (1)
Pelantun tradisi lisan kantola, umumnya dijumpai di wilayah ini (kecamatan Lawa
dan Kontunaga). (2) Dua kecamatan tersebut (kecamatan Lawa dan Kontunaga),
sudah mewakili pola prilaku masyarakat Muna, secara keseluruhan dalam hal
pewarisan dan pemanfaatan tradisi lisan kantola. (3) Apabila dilihat dari letak
geografis Kabupaten Muna, dua kecamatan tersebut (kecamatan Lawa dan
Kecamatan Kontunaga) berada ditengah-tengah.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif. Data kualitatif
adalah data yang dapat berupa kalimat, kata-kata ataupun ungkapan. Selain itu
dalam penelitian ini juga menggunakan dua sumber data, yakni sumber data
primer dan sumber data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi di
lapangan dan wawancara dengan informan. Sedangkan data sekunder diperoleh
dari catatan atau dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti termasuk
hasil penelitian yang telah lebih dulu didokumentasikan dan dipublikasikan
maupun referensi lainnya, seperti jurnal, monografi, dan berbagai makalah yang
relevan sebagai penunjang data primer (Endraswara, 2003: 208).
47
3.4 Penentuan Informan
Dalam metode kualitatif ini, peneliti menentukan dan memilih informan
sesuai dengan tujuan penelitian (purposive) yakni informan yang mengetahui dan
memahami hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. Peneliti akan
menemui informan, yaitu orang yang mengetahui hal-hal yang akan diteliti dan
dari mereka akan diperoleh data yang berhubungan dengan penelitian.
Berdasarkan penuturan mereka, peneliti segera meneruskan pengumpulan data
dari subyek yang lain. Sebelum memulai penelitian ini, peneliti telah mengadakan
kontak dengan masyarakat Muna. Dengan demikian, peneliti dapat menentukan
informan secara purposive, baik informan kunci maupun informan biasa.
Untuk memulai pemilihan informan, peneliti akan secara cermat memilih
informan atas pertimbangan-pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan penelitian.
Menurut Sudikan (2001:91), penentuan informasi kunci didasarkan pada beberapa
pertimbangan diantaranya: (1) orang yang bersangkutan memiliki pengalaman
pribadi sesuai dengan permasalahan yang diteliti (pelaku pertunjukan tradisi lisan
kantola); (2) orang yang bersangkutan bersifat netral, tidak memiliki kepentingan
pribadi; (3) orang yang bersangkutan tokoh masyarakat; (4) orang yang
bersangkutan memiliki pengetahuan yang luas mengenai permasalahan yang
diteliti.
Perbedaan antara informan kunci dan informan biasa adalah jika informan
kunci merupakan orang yang dapat memberikan informasi secara detail dan
komprehensif serta mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang
48
masalah yang diteliti, sedangkan informasi biasa adalah orang yang dapat
memberi informasi secara mendalam mengenai permasalahan yang diteliti.
3.5 Instrumen Penelitian
Peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian. Penelitian ini
dilakukan melalui wawancara mendalam dan pengamatan langsung di lapangan
dengan menggunakan instrumen penelitian, yaitu interview guide (pedoman
wawancara) yang disusun secara sistematik untuk lebih memfokuskan pada
wawancara yang mendalam. Wawancara ditunjang dengan alat perekam. Kamera
digital, dan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang penting.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara kerja, terkait dengan apa yang
harus diperbuat dan bagaimana berbuat dalam rangka mencapai tujuan penelitian.
Sehubungan dengan itu maka teknik yang digunakan dalam pengumpulan data
terdiri atas: 1) observasi partisipasi, 2) wawancara mendalam, dan 3) studi
dokumen dan pustaka, dan teks berupa pantun yang dilantunkan oleh pelaku
tradisi lisan kantola.
3.6.1 Observasi Partisipasi
Untuk mendapatkan data yang akurat di lapangan, maka dilakukan
observasi partisipasi. Observasi partisipasi yang dimaksudkan adalah
pengumpulan data melalui observasi terhadap objek penelitian melalui
pengamatan terlibat secara langsung dan juga sebagai anggota kelompok yang
49
diteliti, namun keterlibatan peneliti hanya sebatas pada kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan fokus kajian atau pokok masalah penelitian (Bungin, 2010: 116;
Ratna, 2010: 218-219). Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti berusaha
untuk tinggal di lokasi penelitian dan membaur dengan masyarakat setempat. Hal
ini bertujuan untuk dapat mengikuti rangkaian kegiatan serta melakukan
perekaman secara langsung dan untuk memahami secara mendalam terhadap
beberapa fenomena kehidupan dan aktivitas masyarakat Muna. Dalam melakukan
observasi, peneliti dibekali dengan alat pencatatan secara manual dan elektronik
seperti kamera digital untuk merekam secara akurat berbagai pola perilaku dan
lingkungan masyarakatnya. Dengan demikian aspek yang diamati tidak hanya
bentuknya, tetapi juga fungsi dan makna tradisi lisan kantola. Hasil pengamatan
baik manual maupun hasil perekaman dijadikan sebagai ilustrasi yang dapat
mempertajam analisis terhadap berbagai masalah yang tampak, dalam kaitanya
dengan tradisi lisan kantola.
3.6.2 Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dilakukan pada informan terpilih untuk
memperoleh data primer yang diambil di lapangan. Teknik ini bertujuan untuk
mengumpulkan data yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Menurut
Bogdan dan Taylor (Endraswara, 2003: 214), melalui wawancara mendalam
peneliti akan membentuk dua macam pertanyaan, yaitu pertanyaan subtantif dan
pertanyaan teoretik. Pertanyaan substantif menyangkut persoalan yang terkait
dengan aktivitas kultural budaya masyarakat Muna dalam kaitanya dengan tradisi
50
lisan kantola sedangkan pertanyaan teoretik menyangkut bentuk, fungsi dan
makna tradisi lisan kantola.
3.6.3 Studi Dokumen dan Pustaka
Selain observasi dan wawancara, peneliti juga melakukan studi dokumen.
Peneliti mencari berbagai data terutama buku-buku, makalah-makalah yang
cakupan pembahasannya menyangkut tradisi lisan kantola, yang relevan dan
berkaitan erat dengan permasalahan yang diteliti. Kebutuhan tambahan sebagai
sumber data sekunder sangat penting selain data yang diperoleh dari informan.
Studi dokumen merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang berfungsi
menunjang pelaksanaan penelitian. Pengumpulan datanya dapat berupa bacaan
dan teks yang berupa rekaman audio atau audio visual, sesuai dengan fokus
permasalahan yang digarap (Maryaeni, 2005: 73). Sedangkan studi pustaka adalah
teknik pengumpulan data cara membaca dan mempelajari buku-buku, literaturliteratur
yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas.
3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan terus menerus
sepanjang proses penelitian berlangsung, yang dilakukan secara deskriptif
kualitatif dan interpretatif. Analisis data dilakukan mulai dari perumusan masalah,
pengumpulan data dan pasca pengumpulan data. Dengan adanya perumusan
masalah maka peneliti telah melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut
dalam berbagai prespektif teori dan metode yang digunakan.
51
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti akan melakukan proses
spengumpulan dan analisis data sepanjang rangkaian kegiatan penelitian
dituangkan dalam penulisan hasil penelitian. Jadi, analisis data dalam penelitian
ini adalah melakukan penyederhanaan data yang terkumpul, yang selanjutnya
diolah, ditafsirkan, dan melakukan pemaknaan terhadap data yang telah terkumpul
tersebut, kemudian disajikan secara sistematis.
3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil penelitian ini disajikan dengan menggunakan teknik informal dan
formal. Secara informal, hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk narasi karena
makna teks bersifat verbal dan memiliki struktur naratif dengan mengikuti kaidah
penulisan ilmiah. Secara formal, hasil penelitian ini disajikan melalui gambar,
foto, peta dan lain sebagainya. Penyajian hasil analisis data dituangkan ke dalam
delapan bab.
52
BAB IV
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
DI KABUPATEN MUNA
4.1 Sejarah Kabupaten Muna
Muna adalah salah satu daerah tingkat II di Propinsi Sulawesi Tenggara
yang diresmikan sebagai Kabupaten pada tahun 1960. Nama Muna adalah nama
daerah yang dahulunya bernama Wuna, asal usul nama Muna, konon adanya
sebuah bukit karang yang sewaktu-waktu karang tersebut tumbuh dan menyerupai
bunga batu yang disebut Kontu Kowuna (Batu Berbunga), disinilah nama wuna
itu awalnya. Bukit Bahutara itu terletak di kampung Butu di sebelah Timur Laut
Mesjid Kota Muna sekarang ini. Muna mempunyai nama lain yang disebut
Pancana sesuai nama yang tertulis dalam naskah perjanjian Bongayah tanggal 18
November 1667 (Batoa, 1991: 2).
Menurut cerita, sebagai awal diketahui pulau Muna dengan adanya
seorang pelayar terkenal saat itu, ia berasal dari Luwu Sulawesi Selatan yang
dikenal dengan nama Sawerigadi. Dalam perjalanan pelayarannya perahunya
terdampar disekitar Pantai Timur Pulau Muna tepatnya di Kampung Butu, suatu
tebing di Pinggir laut saat itu. Butu adalah nama kampung di sekitar pertengahan
daratan Muna (penduduknya telah dipindahkan ke desa Bahutara yang sekarang
ini). Tempat terdamparnya perahu Sawerigadi tersebut dinamakan Bahutara
(mungkin dari kata Bahtera/perahu). Saat ini bahutara dikenal dengan sebutan
Kontu Kowuna atau batu berbunga. Sebelum perahu Sawerigadi ini terdampar di
Muna, saat ini telah ada penduduknya yaitu To Muna, artinya orang Muna. To
53
Muna ini adalah penduduk pertama di Pulau Muna. Para pendatang menganggap
bahwa To Muna ini adalah penduduk asli Muna.
Berdasarkan legenda (cerita rakyat) bahwa Sawerigadi disertai awak
perahunya yang berjumlah 40 orang. Perahu Sawerigadi yang kandas tersebut
pada akhirnya diliputi karang, badan perahu berubah menjadi bukit dan ruang
dalam perahu menjadi liang. Liang tersebut disebut “Liano Bahutara” yang saat
sekarang ini dianggap tempat keramat.
Awak perahu sawerigadi itu, menurut Batoa selanjutnya sebagian ada yang
pulang ke luwu ada pula yang pulang ke Sulawesi Tengah, dan ada yang menuju
ke Negeri Mekongga, sebagai besar menuju ke arah Barat Pulau Muna. Di Setiap
tempat mereka tiba, mereka membentuk kampung dan selalu menyebut
kampungnya kampung Sawerigadi. Di Muna Barat mereka membentuk kampung
yang disebut Gadi. Orang To Muna menyebutnya “Lagadi” yang lama-kelamaan
orang terbiasa dengan sebutan Lagadi.
Rupanya di Lagadi mereka tidak terlalu lama tinggal dan kemudian
mereka kembali membentuk kampung kampung disekitar Butu. Keturunan
mereka inilah yang menjadi pembentuk Kerajaan Muna. Pada suatu saat mereka
membentuk sebuah kampung besar yang diberi nama “Wamelai” yang dikepalai
oleh mieno Wamelai. Mereka akhirnya berkembang terus dan terjadi pula
perkawinan campuran dengan orang To Muna, kemudian membentuk kampung
baru yang lebih luas dan disebut “Tongkuno”yang dikepalai oleh Kamokulano
Tongkuno.
54
Pada suatu saat Kamokulano Tongkuno mengadakan suatu pertemuan,
bermusyawarah pada suatu rumah yang disebut Lambubalano, kemudian
disepakati membentuk pemekaran kampung sebanyak delapan buah kampung
baru. Empat buah kampung dikepalai oleh Mieno dan empat buah kampung
lainnya dikepalai oleh kamokulano.
Kampung-kampung yang dikepalai oleh Mieno:
1. Kampung Kancitala dikepalai oleh Mieno Kancitala
2. Kampung Kaura dikepalai oleh Mieno Kaura
3. Kampung Lembo dikepalai oleh Mieno Lembo
4. Kampung Ndoke dikepalai oleh Mieno Ndoke
Kampung-kampung yang dikepali oleh Kamokula:
1. Kampung Tongkuno dikepalai oleh Kamokulano Tongkuno
2. Kampung Barangka dikepalai oleh Kamokulano Bharangka
3. Kampung Lindo dikepalai oleh Kamokulano Lindo
4. Kampung Wapepi dikelapai oleh Kamokulano Wapepi
Sebagai yang dituakan dari kedelapan kampung tersebut adalah
kamokulano Tongkuno yang bernama La Bhalano, kedelapan kampung tersebut
disebut rumpun Wamelai atau keluarga Wamelai. Sebagai pusat pemerintahan
beribukota di Lambubalano (di sebelah Utara kampung Bharang lama).
Pada zaman dahulu, memasuki Kota Muna, Sulawesi Tenggara, tidak
boleh sembarangan. Berjalan kaki saja dilarang, apalagi menunggang kuda. Ini
tak lain untuk menjaga etika dan sopan santun. Yang boleh menunggang kuda
hanya para pejabat tinggi. Kalau sudah mendekati rumah kediaman perdana
55
menteri, penunggang kuda juga harus turun, lalu berjalan kaki ke tempat tujuan di
kota tersebut. Budaya dan tatakrama di Kota Muna adalah potret sepenggal
sejarah Kerajaan Muna di masa lampau, sebagaimana diungkapkan Jules
Couvreur dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna yang diterbitkan
Artha Wacana Press, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tahun 2001.
Couvreur cukup memahami sejarah dan kebudayaan Muna, salah satu
etnis yang mendiami Pulau Muna dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Sebab, dia
adalah pegawai pemerintah kolonial Belanda yang pernah menjabat sebagai
kontroler (setingkat bupati) di Kerajaan Muna selama kurang lebih dua tahun
(1933-1935). Selama kurun waktu itu dia tekun menggali sejarah dan kebudayaan
daerah tersebut. Ketika Couvreur meninggal dunia di Den Haag, Belanda, pada
tahun 1971 dalam usia 70 tahun, naskah yang ditulisnya tahun 1935 itu masih
dalam bentuk stensilan berbahasa Belanda. Stensilan itu kemudian diterjemahkan
Dr Rene van den Berg, dosen linguistik dan peneliti bahasa Muna di Darwin,
Australia.
Kota Muna terletak sekitar 25 kilometer dari Raha, ibu kota Kabupaten
Muna, sekarang. Orang Muna sebetulnya menyebutnya Wuna, sebagaimana nama
asli suku Muna dan Pulau Muna. Namun, kata "Wuna" itu lama kelamaan
diucapkan dan ditulis menjadi "Muna" dalam laporan dan bahasa resmi. Wuna
dalam bahasa Muna berarti bunga. Disebut begitu karena tidak jauh dari Kota
Wuna itu terdapat sebuah bukit batu karang yang sewaktu-waktu tumbuh dan
menyerupai bunga.
56
Daratan Pulau Muna memang hampir didominasi batu karang. Bukit batu
(yang sering) berbunga itu disebut Bahutara yang diartikan sebagai bahtera. Hal
itu terkait dengan tradisi lisan yang menyebutkan bahwa di tempat itulah perahu
Sawerigading, tokoh asal Sulawesi Selatan yang melegenda, terdampar setelah
menabrak batu karang. Para pengikutnya sebanyak 40 orang dari Luwu, Sulawesi
selatan, kemudian terpencar ke berbagai tempat, sebagian membuat koloni di
Muna, dan lainnya ke Konawe di jazirah Sulawesi Tenggara.
Sejalan dengan semakin baiknya sistem pemerintahan, pada masa
kekuasaan Lakilaponto sebagai Raja Muna VII (1538- 1541) mulailah dibangun
pusat kerajaan di lokasi yang disebut Wuna tadi. Pembuatan benteng yang
mengelilingi Kota Wuna merupakan prestasi besar yang dihasilkan pemerintahan
raja tersebut.
Setelah Lakilaponto ditunjuk menjadi Raja Buton, pembangunan Kota
Wuna dilanjutkan penggantinya, La Posasu, adik Lakilaponto. Pengangkatan
Lakilaponto sebagai Raja Buton merupakan hadiah dari raja yang sedang berkuasa
atas keberhasilan Raja Muna itu mengalahkan dan membunuh bajak laut La
Bolontio, pengacau keamanan rakyat Buton.
Setelah menjadi raja dan kemudian bergelar sultan, menyusul diterimanya
Islam sebagai agama resmi kerajaan, Lakilaponto mengadakan kesepakatan
dengan adiknya, La Posasu, untuk saling membantu dan bekerja sama bila kedua
kerajaan menghadapi situasi pelik, termasuk ancaman dan intervensi dari luar.
Hubungan persaudaraan di antara kedua kerajaan terjalin hangat selama kurang
lebih 3,5 abad. Namun, dalam kerangka politik pecah belah pemerintah kolonial
57
Belanda bersama Sultan Buton secara sepihak membuat perjanjian yang disebut
Korte Verklaring pada 2 Agustus 1918. Isi perjanjian itu menyebutkan, Belanda
hanya mengakui dua pemerintahan swapraja di Sulawesi Tenggara, yakni
Swapraja Buton dan Swapraja Laiwoi di Kendari. Sejak saat itu Kerajaan Muna
yang berdaulat dinyatakan berada di bawah kontrol Kesultanan Buton. Sebagai
subordinasi Kesultanan Buton, Muna praktis menjadi salah satu dari empat
wilayah penyangga (bharata) kerajaan Islam tersebut. Tiga bharata yang lain
adalah Tiworo, Kulisusu, dan Kaledupa. Berdasarkan Korte Verklaring itu pula
beberapa kerajaan kecil di sekitar Kesultanan Buton, seperti Tiworo, Kulisusu,
Kaledupa, Rumbia, dan Kabaena, ikut menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan
Buton. Dua kerajaan kecil yang terakhir merupakan wilayah nonstruktural karena
tidak menyandang predikat bharata.
Ihwal pembangunan Kota Wuna, Couvreur mengutip kepercayaan mistis
bahwa dalam pembangunan benteng kota itu oleh Lakilaponto dibantu para jin
(roh halus). Pembuatan benteng itu memang merupakan pekerjaan raksasa sebab,
seperti ditulis Couvreur, panjang keliling pagar tembok itu mencapai 8.073 meter
dengan tinggi empat meter dan tebal tiga meter. Selain melanjutkan dan
menyempurnakan pembangunan tembok pagar ibu kota kerajaan tersebut, La
Posasu sebagai pengganti La kilaponto juga mendirikan bangunan tempat
perguruan Islam, sesuai anjuran Syekh Abdul Wahid. Seperti disebutkan Batoa,
pensiunan guru sejarah, Abdul Wahid adalah penyebar agama Islam pertama di
Pulau Muna. Fasilitas publik lainnya di Kota Wuna adalah masjid. Masjid
pertama dibangun pada masa pemerintahan La Titakono sebagai Raja Muna X
58
(1600- 1625). Menurut La Ode Muhammad Sirad Imbo (65), tokoh adat Muna,
masjid yang dibangun raja tersebut masih sederhana dan bersifat darurat. Masjid
agak besar baru dibangun pada era pemerintahan Raja La Ode Huseini dengan
gelar Omputo Sangia (1716- 1757). Masjid tersebut dibangun di tempat berbeda
dengan lokasi masjid pertama. Masjid di Kota Wuna itu hampir seumur dengan
Masjid Agung Keraton Buton di Bau- Bau.
Masjid Keraton Buton dibangun oleh Sultan Sakiuddin Darul Alam pada
tahun 1712 dengan konstruksi permanen, dan baru dipugar pada tahun 1930-an di
masa pemerintah Sultan Buton ke-37, Muhammad Hamidi. Adapun Masjid Kota
Wuna baru dibangun secara permanen sekitar tahun 1933 oleh La Ode Dika
sebagai Raja Muna (1930-1938). Kegiatan pembangunan (renovasi) masjid
tersebut mendapat bantuan dari Kontroler Belanda yang berkedudukan di Raha,
Jules Couvreur. "Dia menyediakan bahan, seperti semen, atap seng, dan bahan
bangunan lainnya," tutur Sirad Imbo. Karena selama memangku raja lebih banyak
memperhatikan pembangunan masjid tersebut, maka La Ode Dika diberi gelar
Komasigino (pemilik masjid). Dua dari 14 putra-putri La Ode Dika tercatat
sebagai tokoh daerah, yakni La Ode Kaimuddin, mantan Gubernur Sultra, dan La
Ode Rasyid, mantan Bupati Muna. Kerajaan Muna di masa lalu kini nyaris tak
meninggalkan bekas.
Satu-satunya peninggalan yang tampak di Kota Wuna saat ini hanyalah
bangunan masjid yang pernah dirawat La Ode Dika, Raja Muna terakhir yang
dipilih oleh Sarano Muna yang dibentuk Raja La Titakono pada abad ke-17 itu.
Bangunan masjid itu juga sudah tidak asli. Menurut Sirad Imbo, ketika Bupati
59
Muna dijabat Maola Daud pada tahun 1980-an, bangunan masjid tua itu dirombak
total ukuran dan bentuknya. Giliran Ridwan menjadi Bupati Muna (2000- 2005),
bangunan masjid itu dirombak lagi untuk dikembalikan ke bentuk aslinya. Bentuk
masjid di bekas ibu kota kerajaan itu sangat sederhana. Bangunannya terdiri atas
tiga susun, termasuk tempat dudukan kubah. Itulah bentuknya yang asli dari
masjid tua tersebut, ujar Sirad, yang juga salah satu putra La Ode Dika.
Peninggalan yang lain sudah tidak ada lagi, kecuali beberapa makam tua yang
menjadi kuburan raja-raja zaman dulu, antara lain makam La Ode Huseini, yang
pada masa hidupnya dikenal sangat taat menjalankan ajaran Islam. Adapun bukti
nyata La Ode Huseini menjalankan ajaran agama Islam, beliau membangun
sebuah masjid yang pertama di Kabupaten Muna, seperti pada gambar 4.1 berikut.
Gambar 4.1: Masjid Pertama Di Kabupaten Muna
Dokomentasi: Darwan Sari, 2011
Sisa-sisa ataupun reruntuhan benteng Kota Wuna yang konon dibangun
dengan bantuan jin itu juga sudah tidak ada lagi. Namun, Sirad mengaku bahwa
60
pagar tembok itu masih tersisa sekitar 1.800 meter yang masih utuh. Hanya fisik
bangunannya memang tidak kelihatan karena dibalut rumput liar. Kota Muna
yang dulu berbudaya feodal kini tinggal kenangan. Yang ada hanyalah hamparan
semak belukar di sebuah dataran agak cekung yang diapit bukit-bukit karang. Di
sana-sini tampak rumah-rumah adat Muna dari kayu jati yang baru dibangun.
Menurut Sirad, ada rencana Pemerintah Kabupaten Muna membangun
perkampungan bagi para pemangku Sarano Muna sebagai miniatur Kota Wuna
beberapa abad silam.
4.2 Letak Geografis
Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara, berada pada ketinggian daratan yang
bervariasi antara 0 - >1000 m di atas permukaan laut. Namun, sebagian besar dari
luas daratannya berada pada ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut, yaitu
sebesar 33, 13% dari luas daratan kabupaten Muna. Sedangkan luas daratan yang
mempunyai ketinggian >1000 m di atas permukaan laut hanya sekitar 0,02% dari
luas keseluruhan daratan Kabupaten Muna. Secara administrasi Kabupaten Muna
di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Tiworo dan Kabupaten Kendari, sebelah
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton, Sebelah Timur berbatasan dengan
Laut Banda dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Buton (Selat
Spelman).
Muna merupakan daerah kepulauan, sehingga transportasi laut sangat
dibutuhkan sebagai penghubung baik antar daerah dalam wilayah Muna maupun
dengan daerah lain di luar Muna. Prasarana pelabuhan laut yang sudah tersedia
adalah pelabuhan kapal laut yang terdiri atas Pelabuhan Raha serta dermaga-
61
dermaga kecil yang ada di beberapa daerah. Dermaga yang ada antara lain:
Pelabuhan Feri Tondasi, Labuan, Maligano, Pure, Pola, dan Feri Tampo.
Jenis pelayaran yang beroperasi di wilayah Kabupaten Muna terdiri atas
pelayaran umum, pelayaran rakyat, dan penyeberangan, serta pelayaran khusus
Pertamina. Sementara itu prasarana transportasi darat yang ada di Pulau Muna
maupun Pulau Buton juga cukup memadai. Angkutan umum yang menghubungan
antar daerah biasanya berupa angkutan pedesaan yang melayani rute Raha dengan
kecamatan lain yang ada di Pulau Muna. Angkutan di dalam kota Raha berupa
taksi, ojek, sepeda motor, serta becak motor.
Aktivitas pemerintah dan kemasyarakatan di Kabupaten Muna pada awal
pembentukannya sembilan kecamatan. Sinergi antara pemerintah Daerah dan
masyarakat dalam aktivitas pembangunan telah membawa dampak perubahan
yang ditandai dengan perkembangan dan kemajuan diberbagai bidang. Dengan
memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang, di samping rentang
kendali pemerintah, maka wilayah tertentu dapat ditingkatkan wilayah
admistrasinya. Seperti Barangka dan Kontunaga. Ada beberapa Desa yang
dimekarkan dan ditingkatkan statusnya menjadi beberapa kelurahan. Pada
akhirnya perkembangan yang dicapai dari segi administrasi pemerintah adalah
yang sebelumnya sembilan kecamatan menjadi dua puluh tiga kecamatan, seperti
pada tabel 4.1 berikut.
62
Tabel 4.1
Jumlah Kelurahan/Desa pada Tiap Kecamatan
No. Kecamatan Jumlah
Desa
Jumlah
Kelurahan
Ibu Kota Total
01. Tongkuno 15 4 Wakuru 19
02. Parigi 8 4 Wasolangka 12
03. Bone 8 0 Marobo 8
04. Kabawo 13 1 Lasehao 14
05. Kabangka 12 0 Oensuli 12
06. Tiworo Kep. 9 2 Kambara 11
07. Maginti 13 0 Pajala 13
08. Tiworo Tengah 13 0 Tondasi 13
09. Lawa 13 2 Lambubalano 15
10. Sawerigadi 10 0 Kampobalano 10
11. Barangka 8 0 Barangka 8
12. Kusambi 12 1 Konawe 13
13. Kontunaga 6 0 Liabalano 6
14. Watupute 6 2 Wali 8
15. Katobu 0 8 Raha 8
16. Lohia 9 0 Lohia 9
17. Duruka 5 2 Wapunto 7
18. Batalaiworu 2 2 Laiworu 4
19. Napabalano 12 2 Tampo 14
20. Lasalepa 7 0 Bonea 7
21. Wakorumba Selatan 5 1 Pure 6
22. Pasir Putih 10 0 Pola 10
23. Maligano 9 0 Maligano 9
Kabupaten Muna Raha 205 31 236
Sumber BPS Kabupaten Muna, 2009
Kabupaten Muna Merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi
Tenggara yang berada di Pulau Muna dan Pulau Buton yang terdiri dari sebagian
Pulau Muna dan sebagian Pulau Buton, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya
yang berada di posisi 40 15’LS – 40 30’ Lintang Selatan (LS) serta 1220 15’ BT –
1230 00’ Bujur Timur (BT). Luas daratan Kabupaten Muna adalah sebesar
2.963,97 km2 atau 296.397 Ha. (BPS, 2009).
Seperti umumnya di daerah lain, kabupaten Muna banyak memiliki
kecamatan dan kelurahan/desa. Dari 23 kecamatan yang ada didaerah ini, 3
63
kecamatan memiliki pantai dan 20 kecamatan bebatuan. Banyaknya kecamatan di
daerah ini yang secara geografis terletak dalam satu pulau. Dalam pulau ini
terdapat satu Gua yang juga menjadi identitas masyarakat Muna, yaitu Gua
Liangkabori (batu bertulis), seperti yang terlihat pada gambar 4.2 berikut.
Gambar 4.2: Gua Liangkabori
Dokumentasi: Darwan Sari, 2011
Liang Kobori yang berarti “Gua Bertulis” merupakan sebuah gua dengan
lebar 30 meter dan tinggi bervarisi antara 2 sampai dengan 5 meter serta memiliki
total kedalaman sekitar 50 meter. Gua ini menyimpan berbagai misteri kehidupan
masyarakat prasejarah suku Muna yang tergambar pada 130 situs aneka goresan
berwarna merah pada dinding gua bagian dalam. Goresan-goresan tersebut masih
tetap terjaga keasliannya, terutama bentuk dan kecermelangan warnanya yang
hingga saat ini masih merupakan sebuah misteri tentang bahan tinta yang
digunakan. Misteri peninggalan sejarah ini menanti kedatangan wisatawan yang
gemar terhadap penelitian kepurbakalaan serta penjelajahan keaslian alam.
64
Pada dinding goa tersebut merupakan lukisan dinding yang
menggambarkan kehidupan suku Muna pada masa itu seperti perjuangan suku
Muna dalam mempertahankan hidupnya yang digambarkan seseorang menaiki
seekor gajah, gambar matahari, gambar pohon kelapa yang menggambarkan
tingkat pertanian suku Muna, gambar binatang ternak seperti sapi, kuda dan lainlainnya.
Walaupun relief atau gambarnya terkesan sederhana tetapi kita dapat
menangkap arti makna yang jelas yaitu keberadaan suku Muna pada saat itu.
Selain gua yang melukiskan relief terdapat pula gua yang didiami oleh burung
walet. Gua tersebut mempunyai stalaktit dan stalaknit yang sangat indah dengan
warna yang cenderung hitam mengkilap. Apabila kita menyelusuri gua kecil kita
akan menyaksikan keindahan batu yang berbentuk bulatan-bulatan berwarna
putih. Kawasan gua tersebut, sangat cocok untuk rekreasi dan berkemah, berhawa
sejuk dengan alamnya yang asli. Jarak menuju obyek ini sekitar satu jam atau
sekitar 20 Km dari kota Raha ke arah Timur.
Secara umum, seperti daerah lainnya di Propinsi Sulawesi Tenggara,
Kabupaten Muna mempunyai tipe iklim tropis dengan suhu rata-rata 25-270C. Di
daerah ini mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau yang
seringkali diselingi dengan dua masa pancaroba dalam setiap tahunnya. Dalam
tahun 2009, kondisi curah hujan di Kabupaten Muna mengalami peningkatan
dibandingkan rata-rata curah hujan tahun 2008. Sedangkan rata-rata hari hujan
mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, informasi mengenai hari hujan
dan curah hujan selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.
65
Tabel 4.2
Hari Hujan dan Curah Hujan Di Kabupaten Muna
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan Hari Hujan Curah
Hujan
1. Januari 10 64 8 190
2. Februari 11 161 7 382
3. Maret 13 115 14 465
4. April 16 371 15 395
5. Mei 12 194 15 992
6. Juni 18 498 11 1224
7. Juli 10 111 8 324
8. Agustus 8 114 8 139
9. September 6 81 5 37
10. Oktober 7 147 5 68
11. November 9 176 12 245
12. Desember 13 242 14 187
Jumlah/Total 133 2.274 122 4.648
Rata-rata 11 190 10 387
Sumber: BPS Kabupaten Muna Tahun, 2009
Muna yang berada didaerah lintang khatulistiwa, memiliki hutan rimba
primer tropis yang sangat cocok untuk berladang. Tebel 4.2 memberikan
gambaran bahwa wilayah ini memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi karena
ditopong oleh hari hujan yang sering terjadi. Selain itu temperatur rata-rata
intesitas cahaya matahari di wilayah ini sangat kondusif bagi sistem perladangan.
Saat intesitas cahaya matahari tinggi, masyarakat tradisional yang umumnya
petani penggarap, memberikan dampak positif karena pada saat itu juga mereka
dapat menjemur hasil pertanian dan perkembunan mereka seperti, jambu mete,
kacang tanah, dan kakao. Intesitas cahaya ini memungkinkan petani mendapatkan
hasil komoditas dengan kadar air yang rendah, dengan nilai jual tinggi. Komoditas
ini menjadi andalan utama bagi masyarakat Muna selain komoditas lainnya,
seperti kelapa dan kopra.
66
Kondisi topografi kabupaten Muna ditandai dengan tingkat ketinggian dari
permukaan laut yang bervariasi antara 0-1000 m di atas permukaan laut, namun
sebagian besar dari daratan kabupaten Muna berada pada ketinggian 25-100 m di
atas permukaan laut, yaitu sebesar 33, 13% dari luas daratan kabupaten Muna.
Sedangkan luas daratan yang mempunyai ketinggian >1000 m di atas permukaan
laut hanya sekitar 0,02% dari luas keseluruhan daratan Kabupaten Muna.
Masalah kependudukan, terutama penyebarannya, menjadi perhatian
utama dalam pelaksanaan pembangunan. Hasil pembangunan yang dilaksanakan
diharapkan dapat memberi dampak bagi peningkatan kesejahteraan penduduk
seperti kesehatan, pendidikan, dan ketersediaan sarana bagi aktivitas baik sosial
maupun ekonomi. Untuk mewujudkan berbagai program pemerintah dalam
menata masalah kependudukan, tentunya diperlukan informasi atau data
kependudukan yang akurat dan dapat digunakan sebagai landasan untuk
menyusun perencanaan dan penentuan kebijakan diberbagai bidang
pembangunan.
Jumlah penduduk kabupaten Muna berdasarkan proyeksi penduduk yang
didasarkan pada hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas 2009) adalah
berjumlah 246,004 jiwa, dan tersebar di dua puluh tiga kecamatan. Tingkat
penyebaran penduduk menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3
Penduduk, Rumah Tangga, Penduduk per Rumah Tangga. dan Kepadatan
Penduduk Menurut Kecamatan
No. Kecamatan Luas
(Km2)
Rumah
Tangga
Penduduk Penduduk/
Rumah
Tangga
Kepadatan
Penduduk
1 2 3 4 5 6 7
67
01. Tongkuno 515,91 5,696 18,427 3 36
02. Parigi 134.78 3,186 11,686 4 87
03. Bone 142.77 2,327 8,748 4 61
04. Kabawo 249.89 3,465 13,735 4 55
05 Kabangka 123.14 2,931 9,964 3 81
06. Tikep 93,82 2127 8,105 4 86
07. Maginti 107.55 3286 11,484 3 107
08. Tiworo
Tengah
128.07 2367 8,088 3 63
09. Lawa 260.22 3506 12,084 3 46
10. Sawerigadi 102.60 1736 6,665 4 65
11. Barangka 33.09 1677 5,813 3 176
12. Kusambi 143.19 3187 11,907 4 83
13. Kontunaga 50,88 1953 7,083 4 139
14. Watupute 96.12 3140 10.777 3 112
15. Katobu 12.88 6331 25,942 4 2014
16. Lohia 49,81 3477 13,489 4 271
17. Duruka 11.52 2690 9,705 4 842
18. Batalaiworu 22.71 2307 9,069 4 399
19. Napabalano 176.32 4537 16,061 4 91
20. Lasalepa 107.92 2662 8,800 3 82
21. Wakorsel 104.86 1160 4,456 4 42
22. Pasir Putih 138.30 1921 7,603 4 55
23. Maligano 157.62 1800 6,313 4 40
Muna 2,964 67,469 246,004 4 83
Sumber: BPS Kabupaten Muna Tahun, 2009
Informasi distribusi penduduk akan lebih berarti jika menggunakan ukuran
demografi, antara lain kepadatan penduduk. Hal ini penting mengingat
diferensiasi jumlah penduduk antarwilayah dalam suatu daerah tidak mutlak
menggambarkan kepadatan penduduknya. Suatu daerah yang memiliki jumlah
penduduk yang besar, belum tentu wilayahnya juga luas.
4.3 Sistem Mata Pencaharian
Sebagaimana halnya mata pencaharian penduduk di kabupaten lainnya di
Indonesia yang berkisar pada bidang pertanian, pemerintahan, khususnya menjadi
pegawai negeri sipil, dan peternakan. Semua jenis pekerjaan itu kita bisa jumpai
di Kabupaten Muna, hanya saja penduduk Kabupaten Muna memiliki
68
kecenderungan yang besar pada dunia pertanian. Sebagian besar penduduk
kabupaten Muna menghabiskan aktivitas kesehariannya dengan bertani. Selain
pertanian dan perkebunan, masyarakat Muna juga bermata pencaharian sebagai
pegawai negeri sipil, juga bergerak dibidang peternakan dan perikanan.
Walaupun dalam penelitian ini hanya menyebutkan empat jenis mata
pencaharian penduduk di Kabupaten Muna, tetapi bukan berarti penduduk di
Kabupaten Muna memiliki mata pencaharian lain seperti perdagangan,
pertukangan, perbengkelan dan sebagainya. Peneliti hanya menampilkan jenis
mata pencaharian yang ditekuni oleh sebagian besar penduduk di kabupaten
Muna.
4.3.1 Pertanian dan Perkebunan
Selain berprofesi sebagai petani dan menjadi Pegawai Negeri (PN) baik
pegawai negeri pada instansi pemerintahan maupun pegawai negeri pada instansi
swasta, juga banyak penduduk kabupaten Muna yang berprofesi sebagai petani.
Jenis tanaman pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Muna terdiri dari jenis
tanaman pangan seperti; jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedelai
kacang hijau, dan padi sawah. Produksi tanaman bahan makan pada tahun 2007
sebesar 11.990 ton dan hasil ini mengalami peningkatan pada tahun 2008 menjadi
14.874 ton. Hasil ini tidak membuat para petani merasa puas sehingga mereka
berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil pertaniannya. Usaha
para petani ini tidak sia-sia karena pada tahun 2009 hasil pertanian di kabupaten
Muna mengalami peningkatan yang sangat signifikan sampai mencapai angka
24.805 ton.
69
Dari angka tersebut, produksi bahan makanan yang paling tinggi adalah
Jagung dengan mencapai angka 10.526 ton dan menunjukkan peningkatan sekitar
23,73 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelunya yakni tahun 2007 dan
tahun 2008 yang hanya mencapai angka sebanyak 8.507 ton. Produksi jagung
sebesar 1.855 ton, ini juga mengalami peningkatan sebesar 41,93 persen dari
tahun sebelumnya yang hanya mencapai angka sebesar 1.307 ton. Produksi ubi
jalar sebesar 1.194 ton yang berarti juga mengalami peningkatan sebesar 2,58
persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 1.164 ton. Produksi
padi sawah sebesar 1.118 ton, juga mengalami peningkatan sebesar 27,63 persen
bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (BPS Kabupaten Muna Tahun 2009).
Hasil ini apabila dilihat dalam hitung-hitungan secara kuantitatif memang
menunjukkan bahwa semua jenis pertanian bahan pangan mengalami
peningkatan, dan apabila dilihat dari kacamata kualitas menunjukkan bahwa
masyarakat Muna yang berprofesi sebagai petani berhasil meningkatkan hasil
panen, mereka menghasilkan panen yang berkualitas ekspor. Ironisnya sampai
hari ini petani di kabupaten Muna belum menikmati hasil kesuksesan mereka. Hal
ini diakibatkan oleh tidak adanya perhatian pemerintah untuk menyediakan atau
mengontrol pembeli, sehingga pembeli dengan sesuka hatinya memainkan harga.
Petani menjual hasil pertaniannya dengan harga sangat rendah sementara harga
pupuk yang dibutuhkan oleh petani sangat mahal.
Selain jenis tanaman yang disebutkan di atas, ada juga jenis tanaman yang
dikembangkan oleh para petani yang ada di kabupaten Muna yaitu jenis tanaman
buah-buahan. Berbagai jenis buah-buahan ini diantaranya adalah mangga,
70
rambutan, duku atau langsat, jeruk, jambu air, pepaya, pisang, salak, nangka dan
masih banyak lagi. Hasil produksi buah-buahan pada tahun 2009 sebesar 5.334
Kw atau turun sebesar 61,41 persen bila dibandingkan dengan tahun 2008. hal ini
diakibatkan oleh kondisi cuaca dan suhu udara di kabupaten Muna yang tidak
stabil.
Jenis buah-buahan yang mempunyai hasil produksi paling banyak adalah
sirsak sebanyak 1,327 Kw. Bila dibandingkan dengan tahun 2008, produksi sirsak
tersebut mengalami peningkatan sebesar 1.100 Kw, atau sekitar 485 persen.
Produksi terbanyak kedua adalah pepaya sebanyak 1.175 Kw, bila dibandingkan
dengan hasil tahun sebelumnya, produksi pepaya menurun sebesar 55,29 persen.
Produksi terbanyak ketiga adalah pisang sebanyak 551 Kw. Bila dilihat dari
keseluruhan komoditi buah-buahan, lalu dibandingkan dengan hasil produksi
tahun 2008 sebagian besar mengalami penurunan pada tahun 2009. Hanya ada
beberapa jenis komoditi buah-buahan saja yang mengalami peningkatan bila
dibandingkan dengan hasil produksi tahun 2008 diantaranya sirsak, dan nenas.
Ada juga jenis tanaman sayur-sayuran yang dijadikan komoditi yaitu
Kacang Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Tomat, Terung, Ketimun, Labu,
Kangkung, Bayam dan Sawi. Produksi tanaman sayur-sayuran pada tahun 2009
tercatat sebanyak 29.785 Kw atau mengalami kenaikan sebesar 29,25 persen bila
dibandingkan dengan tahun 2008. Jenis sayuran yang produksinya lebih tinggi
adalah sawi mencapai 7.713 Kw, sedangkan produksi terendah tanaman sayursayuran
adalah ketimun sebesar 200 Kw. Jika dibandingkan dengan tahun 2008,
produksi sayuran yang mengalami peningkatan sangat tajam di tahun 2009 adalah
71
bayam, meningkat sebesar 162, 84 persen, disusul dengan Kangkung, Cabe Rawit
dan Tomat.
Bukan saja jenis tanaman pangan seperti, buah-buahan dan sayur-sayuran
yang dikembangkan oleh penduduk kabupaten Muna yang berprofesi sebagai
petani, tetapi mereka juga mengembangkan jenis tanaman perkebunan rakyat
seperti Kelapa, Kopi, Kapuk, Lada, Cengkeh, Jambu Mete, Kemiri, Coklat, Enau,
Kelapa Hibrida, Asam Jawa, Pinang dan Jahe. Jenis tanaman perkebunan rakyat
yang sedang dikembangkan karena produksinya sangat potensial untuk ekspor ada
delapan jenis yaitu kelapa, lada, kopi, cengkeh, jambu mete, kemiri, coklat, dan
kelapa hibrida.
Hasil perkebunan rakyat pada tahun 2009 menunjukkan bahwa jenis
tanaman perkebunan rakyat yang dikembangkan di kabupaten Muna sebagian
besar mengalami penurunan hasil produksi bila dibandingkan dengan tahun 2008.
sedangkan jenis tanaman perkebunan rakyat yang hasil produksinya meningkat
hanya lima jenis, tiga jenis diantaranya mengalami jumlah produksi yang sangat
besar adalah pinang, lada dan kelapa hibrida masing-masing meningkat 390,91
persen, 269,91 persen dan 101, 94 persen.
Data di atas menunjukkan bahwa tidak semua komoditi pertanian yang
dikembangkan di kabupaten Muna dapat dikembangkan secara baik dan maksimal
untuk memperoleh hasil yang maksimal pula. Baik itu dari komoditi tanaman
pangan maupun dari komoditi tanaman perkebunan rakyat. Pada tanaman pangan
terdapat beberapa jenis yang hasil produksinya mengalami peningkatan pada
setiap tahun seperti ubi kayu, jagung, ubi jalar dan padi sawah. Masih dalam jenis
72
tanaman pangan dari jenis buah-buahan, jenis buah-buahan yang mengalami
peningkatan pada setiap tahun seperti sirsak, nenas sedangkan dari jenis sayursayuran
yang mangalami peningkatan hasil produksi pada setiap tahunnya adalah
bayam, kangkung, cabe rawit dan tomat. Sementara dari jenis tanaman
perkebunan rakyat yang hasil produksinya mengalami peningkatan pada setiap
tahun bahkan sampai masuk pada level ekspor adalah pinang, lada dan kelapa
hibrida.
4.3.2 Pegawai Negeri Sipil
Selain Petani penduduk Kabupaten Muna juga ada yang berprofesi sebagai
Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jumlah penduduk Kabupaten Muna yang berprofesi
sebagai PNS berjumlah 25. 688 jiwa yang tersebar di seluruh instansi pemerintah
maupun instansi swasta yang ada di kabupeten Muna. Akan tetapi, peneliti tidak
dapat merinci berapa banyak jiwa yang mengisi lapangan pekerjaan pada instansi
pemerintah maupun pada instansi swasta. Bukan saja itu, peneliti juga tidak dapat
merinci secara jelas jumlah angkatan kerja perempuan atau laki-laki yang mengisi
atau yang bekerja pada instansi swasta maupun instansi pemerintahan, begitu juga
sebaliknya. Hal itu diakibatkan karena tidak adanya data yang membagi atau
membedakan hal tersebut.
Dari jumlah keseluruhan di atas, peneliti hanya dapat mengidentifikasi
mengenai berapa jumlah perempuan secara keseluruhan yang mengisi lapangan
pekerjaan baik itu pada instansi swasta maupun pada instansi pemerintah
sebanyak 10. 460 jiwa, sedangkan laki-laki berjumlah 15.225 jiwa. Akan tetapi,
untuk pembagian dari jumlah 10.460 jiwa tersebut lagi-lagi peneliti tidak bisa
73
mengidentifikasi berapa orang perempuan dari jumlah tersebut yang mengisi atau
yang bekerja pada instansi pemerintah maupun instansi swasta, demikian pula
sebaliknya.
4.3.3 Peternakan
Di kabupaten Muna, terdapat usaha peternakan sapi, kerbau, kuda,
kambing, babi, itik, ayam ras, ayam ras petelur, dan ayam potong. Populasi ternak
di kabupaten Muna secara keseluruhan mengalami peningkatan dibanding tahun
2008. Populasi ternak terbesar di kabupaten Muna adalah populasi ayam buras.
Banyaknya ternak yang dipotong di kabupaten Muna adalah 1.417.791
ekor. Ternak yang paling banyak dipotong adalah ayam buras yaitu sebanyak
1.408.518 ekor. Sedangkan ternak yang paling sedikit dipotong adalah kerbau,
dan yang tidak pernah terjadi pemotongan yaitu ternak ayam ras
4.3.4 Perikanan
Secara umum, mata pencaharian penduduk Kabupaten Kepulauan Muna
didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini dikarenakan, sektor pertanian (tanaman
pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) masih memberikan
kontribusi yang terbesar bagi PDRB Kabupaten Muna, dengan kontribusi rata-rata
33%. Selanjutnya sektor jasa 22%, diikuti oleh perdagangan, hotel dan restoran
yang memberikan kontribusi sebesar 15%, kemudian diikuti oleh sektor industri
pengolahan, serta bangunan dan konstruksi.
Sementara itu, khusus untuk perikanan, berdasarkan data dari Dinas
Perikanan Kabupaten Muna, sebagian besar rumah tangga nelayan masih
berpendapatan kurang dari Rp. 1.000.000 per bulan. Pendapatan rumah tangga
74
nelayan paling rendah lebih kurang sebesar Rp. 2.111.000 per tahun atau hanya
Rp. 350.000 per bulan. Armada penangkapan ikan yang ada di kabupaten Muna
didominasi oleh perahu tanpa motor sebanyak 2.617 unit (48,12%), yang terdiri
atas jukung diikuti oleh perahu motor tempel sebanyak 874 unit (27,7%). Kapal
motor hanya sejumlah 123 unit atau 4,17% dari armada penangkapan ikan yang
ada. Jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Kabupaten Muna
adalah pancing (rawai tetap, pancing tonda, dan pancing lainnya), gillnet (jaring
insang hanyut dan tetap), bagan perahu dan bagan tancap, bubu, pukat cincin,
pukat udang, pukat pantai, serta payang. Khusus Kecamatan Tiworo Kepulauan,
alat tangkap yang dominan adalah pancing, rawai tetap, jaring insang tetap, bubu,
bagan perahu dan bagan tancap.
Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Muna, potensi
perikanan diperkirakan sebesar 40.000 ton per tahun. Potensi tersebut terdiri dari:
ikan demersal (ikan kerapu, kakap, bambangan, lencam, kurisi dan pari), ikan
pelagis (kembung, kue, selar, layar, tongkol, cakalang, tuna, bawal putih, belanak,
tenggiri dan teri), serta terdapat beberapa jenis udang, kepiting bakau, rajungan,
lobster, teripang, cumi-cumi, rumput laut, kerang mutiara, lola, japing-japing dan
abalone. Selain perikanan laut, kabupaten ini juga memiliki potensi lahan
budidaya laut sekitar 79.258 ha dan lahan budidaya tambak seluas lebih kurang
20.000 ha. Tambak yang sudah diolah baru mencapai sekitar 500 ha.
4.4 Sistem Kekerabatan
Masyarakat Muna, sama halnya dengan masyarakat lain yang ada di
Indonesia, juga mengenal sistem kekerabatan yaitu sistem hubungan sosial yang
75
timbul dari keturunan dan perkawinan. Dalam menjalankan fungsinya, sistem
kekerabatan ini terlihat pada lembaga kecil, yaitu keluarga. Keluarga terdiri atas
keluarga inti dan keluarga besar. Keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, anak yang
belum nikah, dan anak angkat. Keluarga inti dapat ditandai oleh tempat tinggal
yang sama, sahnya hubungan suami istri yang tujuannya untuk mendapatkan
keturunan, adanya kerjasama ekonomi, dan berkewajiban untuk mendidik anggota
keluarganya. Sedangkan keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga inti. Untuk
kepentingan bersama, mereka menggambungkan diri dengan dasar atau anggapan
masih dalam satu leluhur atau keturunan.
Menurut Koetjaraningrat, keluarga inti dibagi dalam tiga kelompok yang
semua didasarkan pada adat setempat sesudah nikah, yaitu: (1) utralokal, yang
terdiri dari satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti senior dengan
keluarga-keluarga inti dan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan; (2)
virilokal, terdiri dari keluarga inti senior dengan keluarga inti dari anak laki-laki;
dan (3) uxorilokal, terdiri dari keluarga inti senior dengan kelurga-keluarga inti
dari anak perempuan. Ikatan kekeluargaan berdasarkan adat utrolokal banyak
dijumpai pada masyarakat Muna yang tinggal bersama dalam satu rumah besar
ataupun masih dalam satu lingkungan tempat tinggal dengan beberapa keluarga
inti.
Masyarakat Muna mengenal sistem kekerabatan patrilinear, yaitu
menghitung kekerabatan mengikuti pihak ayah karena umumnya nama anak
digabungkan dengan nama turunan bapaknya, baik bapaknya sendiri ataupun
kakek dari pihak ayah. Berdasarkan sistem kekerabatan ini, dalam pelaksanaan
76
suatu hajatan atau acara perkawinan misalnya, yang menjadi suatu penentu adalah
pihak keluarga ayah. Jika ayah sudah tiada, perannya digantikan oleh kakak atau
adik laki-laki dari pihak ayah. Bahkan, jika seorang anak perempuan yang telah
menikah akan dijemput oleh pihak laki-laki seminggu setelah pelaksanaan
perkawinan (Djalaluddin, dkk, 2007: 60-61). Selama suami mereka yang baru
menikah tersebut belum memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri, mereka harus
menetap dirumah orang tua suami. Pola ini dikenal dengan pola menetap
Patrilokal (Narwoko dan Surynto, 2006: 233; Subyakto, 2007: 177).
Dalam beberapa kasus tertentu, pola patrilokal tidak berlaku, suami
biasanya ikut istri, menetap di rumah orang tua pihak perempuan. Hal ini
disebabkan adanya pengecualian bagi orang-orang dipihak laki-laki yang masih
menumpang dirumah orang lain terutama bagi pendatang yang memang
jumlahnya banyak. Para pendatang ini, biasanya yang di luar kabupateman Muna.
Masyarakat Muna, dalam menjalin sistem kekerabatan, dapat dilakukan
melalui perkawinan. Menurut La Gii Masyarakat yang mendiami wilayah ini
mengenal beberapa sistem perkawinan, antara lain:
1. Kawin minta atau doangka tewise. Sistem perkawinan lazim
dilangsungkan pada hampir seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali
masyarakat Muna. Perkawinan ini terjadi apabila laki-laki dan perempuan
telah terjalin hubungan percintaan dan ingin mengikat diri dari dalam satu
ikatan perkawinan. Inisiatif melamar datang dari pihak kerabat laki-laki
dengan cara mengutus satu delegasi ke rumah orang tua perempuan.
Kunjungan lamaran ini disebut masuk minta. Yang melamar biasanya
77
saudara dari pihak ayah si laki-laki atau kerabat dekat. Apabila lamaran
sudah diterima, maka pada saat itu akan ditentukan mas kawin (ajhati),
biaya perkawinan, dan hari perkawinan.
2. Kawin lari atau pofeleigho. Proses perkawinan ini dipandang kurang baik
dan tidak diinginkan oleh pihak keluarga si perempuan. Namun, ada
beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kawin lari, antara lain keluarga
dari salah satu pihak tidak setuju dan beban perkawinan yang ditentukan
oleh keluarga si perempuan terlalu berat sehingga pihak laki-laki tidak
dapat menyanggupinya. Dengan kejadian ini, pihak keluarga perempuan
berusaha untuk mengembalikan anak gadisnya. Jika terdapat tanda-tanda
keluarga perempuan mau menerima mereka kembali, maka keluarga lakilaki
mengirim utusan untuk mendamaikan persoalan ini. Jika tidak
diperoleh jalan keluar, maka tetap akan dilangsungkan perkawinan tanpa
kehadiran keluarga dari pihak perempuan.
3. Kawin jodoh adalah proses perkawinan yang telah disepakati oleh dua
keluarga sejak anak-anak mereka masih kecil. Antara kedua belah pihak
telah sepakat untuk mengawinkan anak lak-laki dan perempuan mereka
setelah menginjak usia dewasa. Perkawinan ini dimaksudkan untuk
mempererat tali persaudaraan.
4. Kawin tangkap yaitu proses perkawinan ini cukup unik, apabila diketahui
atau diketemukan seorang pemuda dan seorang gadis berbicara ditempat
gelap atau ditempat yang tidak wajar, maka kedua orang tua mereka segera
78
mengawinkannya. Perkawinan ini bertujuan untuk menghindari perbuatan
maksiat yang dapat mencemarkan nama baik keluarga.
Masyarakat kabupaten Muna terdiri dari berbagai suku sehingga setiap
suku memiliki kebiasaan dan tradisi masing-masing termasuk kebiasaan
menentukan garis keturunan. Akan tetapi, secara umum masyarakat di lokasi
penelitian ini mengikuti garis keturunan ayah atau patrilineal. Sehingga anak lakilaki
yang sudah menikah akan membawa istrinya untuk tinggal di kediaman orang
tua suaminya (keluarga luas virilokal). Selain itu untuk mengetahui bahwa
masyarakat di lokasi penelitian mengikuti garis keturunan patrilineal, dapat dilihat
dari setiap pemberian nama terhadap anak yang baru lahir selalu yang
dicantumkan adalah nama ayah atau marga ayahnya bukan nama ibu atau marga
ibunya.
Perkawinan yang ideal dalam masyarakat di lokasi penelitian ini adalah
perkawinan di mana seorang anak laki-laki menikah dengan seorang anak
perempuan dari luar marganya, bukan dari marga ayah atau ibunya (eksogami
marga). Masyarakat di lokasi penelitian ini secara umum jarang terjadi pernikahan
melalui proses perjodohan yang dilakukan oleh orang tua. Selain itu syarat yang
terpenting dalam perkawinan adalah istri atau calon istri harus bisa bergaul
dengan baik kepada semua kerabat suami.
Penghitungan garis keturunan yang mengikuti garis keturunan ayah ini
berlaku dalam setiap ranah kehidupan pada masyarakat di lokasi penelitian,
termasuk dalam hal pembagian harta waris dan penentuan tempat tinggal menetap
setelah menikah. Pembagian harta waris pada masyarakat di lokasi penelitian ini,
79
anak laki-laki mendapat bagian lebih banyak daripada anak perempuan, dengan
pertimbangan bahwa anak laki-laki setelah menikah nanti memiliki beban
tanggung jawab yang berat yaitu menafkahi istri dan anak-anaknya. Sedangkan
anak perempuan mendapat warisan lebih sedikit dari anak laki-laki karena dengan
pertimbangan bahwa setelah menikah nanti anak perempuan akan mendapat harta
atau dinafkahi oleh suaminya.
Pembagian harta waris ini ditentukan oleh orang tua dalam hal ini ayah.
Apabila orang tua laki-laki meninggal sebelum harta warisan dibagikan kepada
anak-anaknya, maka yang berhak membagikan harta warisan tersebut adalah
saudara laki-laki suami, bukan istri yang masih hidup. Istri hanya sekedar
mengetahui tetapi tidak berhak untuk menentukan berapa bagian yang harus
diperoleh anak laki-laki atau anak perempuan. Harta waris seperti rumah, selalu
menjadi milik anak bungsu laki-laki meskipun anak laki-laki tersebut masih
memiliki adik perempuan.
Keistimewaan anak laki-laki juga berlaku dalan penentuan tempat tinggal
menetap setelah menikah. Masyarakat Muna khusunya di lokasi penelitian ini adat
tinggal menetap setelah menikah itu ditentukan oleh suami. Anak perempuan
yang sudah menikah secara otomatis harus keluar dari rumah orang tuanya dan
mengikuti suaminya (virilokal), tinggal bersama dengan orang tua suami atau
mertua. Anak laki-laki yang sudah menikah bisa tinggal di rumah orang tuanya
sampai si anak memiliki rumah sendiri. Sehubungan dengan adat menetap secara
virilokal, dalam masyarakat setempat dengan sendirinya di tempat tersebut akan
80
mengelompok menjadi keluarga yang terikat oleh suatu hubungan yang
diperhitungkan melalui garis keturunan laki-laki atau patrilineal.
Selain adat menetap secara virilokal dalam masyarakat di lokasi penelitian
ini juga terdapat adat menetap secara bilokal yaitu adat yang menentukan bahwa
pengantin baru tinggal berganti-ganti pada satu masa tertentu sekitar pusat
kediaman kerabat suami dan pada masa tertentu sekitar pusat kediaman kerabat
istri. Hal ini terjadi apabila pengantin perempuan tidak mempunyai saudara lakilaki
atau apabila pengantin laki-laki mendapatkan pekerjaan di sekitar kediaman
perempuan. Dewasa ini, sehubungan dengan lokasi yang tidak memungkinkan
untuk mendirikan rumah di samping kediaman orang tua pihak laki-laki maka
suami istri cenderung menetap secara neolokal yaitu tinggal di kediaman yang
baru. Selain itu, adanya neolokal ini juga dipengaruhi oleh faktor pekerjaan.
Biasanya pekerjaan suamilah yang mengakibatkan suami istri tinggal di tempat
baru. Gejala ini mulai terlihat di daerah yang padat penduduk, manakala lokasi
untuk membangun rumah mulai sempit, tetapi kondisi ini masih sangat langkah
terjadi di lokasi penelitian, kebanyakan suami istri tinggal dirumahnya kerabat
suami.
Menurut pemahaman masyarakat di lokasi penelitian ini bahwa anak
perempuan yang sudah menikah bukan lagi tanggung jawab orang tua dalam hal
memberikan nafkah tetapi sudah menjadi tanggung jawab suami. Anak
perempuan yang tetap tinggal bersama dengan orang tuanya walaupun sudah
menikah bisa saja terjadi tetapi itu harus keinginan orang tuanya. Biasanya hal ini
diakibatkan karena orang tua tersebut hanya memiliki satu orang anak.
81
4.5 Sistem Religi dan Kepercayaan
Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, memiliki penduduk yang
beragam. Keberagaman itu bukan hanya pada suku, etnis, daerah asal tetapi juga
agama dan kepercayaan. Kabupaten Muna juga memiliki penduduk yang beragam
mulai dari suku, etnis, daerah asal sampai pada keberagaman agama dan
kepercayaan. Kabupaten Muna memiliki keberagaman suku atau etnis yang terdiri
dari etnis Muna sebagai penduduk yang mayoritas atau penduduk pribumi,
meskipun masih banyak etnis-etnis yang lain sebagai etnis pendatang seperti etnis
Buton, etnis Bugis-Makasar, etnis Jawa, etnis Bali, dan etnis Tionghoa.
Keberagaman etnis tersebut di barengi dengan keberagaman agama dan
kepercayaan. Di Kabupaten Muna terdapat lima agama yang teridentifikasi oleh
pemerintah diantaranya, agama Islam sebagai agama yang mayoritas dianut oleh
masyarakat Muna, dengan jumlah pengikutnya sebanyak 227.655 orang, agama
Kristen Katolik yang penganutnya berjumlah 4.734 orang, pemeluk agama
Kristen Protestan berjumlah 15.823 orang, pemeluk agama Hindu berjumlah
2.421 orang dan pemeluk agama Budha berjumlah 844 orang.
Setiap agama yang ada di kabupatn Muna tidak saja ada secara tertulis di
Departemen Agama dan Banda Pusat Statistik (BPS) kabupaten Muna, tetapi kita
bisa melihat keberagaman agama itu dari hal-hal yang nampak di permukaan
masyarakat seperti simbol-simbol keagamaan. Simbol yang paling nyata dan kita
bisa lihat adalah tempat-tempat ibadah setiap agama yang ada di kabupaten Muna.
Jumlah tempat ibadah setiap agama sangat bervariasi tergantung banyak
82
sedikitnya jumlah penganut dan kemampuan serta keinginan penganut agama
tersebut untuk membangun tempat ibadahnya.
Islam merupakan agama yang mayoritas penganutnya memiliki tempat
ibadah sebanyak 284 buah Masjid dan memiliki Mushola sebanyak 54 buah.
Gereja Kristen Katolik sebanyak 19 buah, Gereja Kristen Protestan sebanyak 9
buah, Pura sebanyak 3 buah dan Vihara sebanyak 2 buah. Sehingga total semua
tempat ibadah agama yang ada di kabupaten Muna berjumlah 371 buah dan
tersebar di seluruh kabupaten Muna dengan rincian seperti di atas.
Bagi masyarakat Muna yang beragama Islam masjid berfungsi sebagai
tempat melakukan ibadah sembahyang lima waktu, selamatan, tahlilan, dan
tempat mengaji. Keyakinan dalam beragama Islam dikalangan masyarakat Muna
pada hakekatnya telah ditanamkan sejak masa kanak-kanak. Kewajiban belajar
mengaji bagi anak-anak yang beragama Islam di lakukan pada malam hari atau
pada pagi hari setelah selesai melaksanakan sholat Subuh, hal ini di sebabkan
karena pada siang hari anak-anak pergi ke sekolah.
Walaupun masyarakat Muna mayoritas yang beragama Islam, akan tetapi
Islam yang dianut dan di kembangkan oleh sebagian penganut agama Islam di
Muna tampaknya Islam sinkritis. Indikasinya adalah sering dijumpainya
keyakinan lain yang bukan berasal dari agama Islam dalam kehidupan sehari-hari
dalam masyarakat Muna. Misalnya mereka yakin dan mempercayai adanya
berbagai makhluk halus yang mendiami tempat-tempat tertentu, seperti batu
besar, gua dan pohon-pohon besar. Berbagai makhluk halus itu dianggap sebagai
pemilik atau penjaga tempat tersebut. Pendek kata masyarakat yang menganut
83
agama Islam di Kabupaten Muna juga masih yakin dan mempercayai kepercayaan
animisme dan dinamisme.
Sebagian masyarakat Muna yang beragama Islam masih yakin akan
adanya roh leluhur dan hubungan dengan roh-roh semacam ini tetap dipelihara
kesinambungannya dalam kehidupan sehari-hari. Terperliharanya kesinambungan
itu dimanifestasikan dalam perilaku masyarakat yang disebut dhe bhasa, yakni
mengirim do’a dengan disertai makanan dan minuman sekedarnya yang ditujukan
kepada arwah-arwah para leluhur. Hal itu biasanya dilakukan pada setiap malam
Jum’at atau pada hari-hari tertentu yang dianggap baik menurut mereka. Selain itu
ada upacara dan ritus adat yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, misalnya
dalam peristiwa yang berhubungan dengan siklus hidup individu seperti
kehamilan, kelahiran, perkawinan dan kematian. Biasanya dhe bhasa itu
dilakukan sebelum acara puncak dilaksanakan, misalnya dalam pesta pernikahan,
sebelum memasuki acara ijab qobul terlebih dahulu melakukan ritual dhe bhasa
yang dilakukan satu malam sebelum acara puncak dilaksanakan.
4.6 Bahasa dan Kesenian Tradisional
Masyarakat Muna mengenal dua bahasa, bahasa Ibu dan bahasa Indonesia.
Bahasa Ibu dalam hal ini bahasa Muna sangat dikuasai dengan baik hampir
seluruh masyarakat Muna. Hal ini sangat sama dengan wilayah-wilayah lain di
tanah air, di mana sangat mengenal bahasa ibu dan dapat berkomunikasi dengan
bahasa ibu mereka. Selain itu, bagi penduduk yang berasa dari luar Muna, tidak
menemukan kendala dalam berinteraksi dengan penduduk setempat. Mereka
mampu berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia walaupun sebagian
84
masyarakat tidak terlalu vasih menggunakan bahasa tersebut, tetapi mereka bisa
untuk mengerti apa maksud yang diungkapkannya.
Kabupaten Muna tidak hanya di huni oleh penduduk asli tetapi juga di
huni pendatang, sehingga dalam berkomunikasi sehari-hari mereka menggunakan
bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan pendatang. Banyaknya suku
bangsa atau etnis yang bertempat tinggal di kabupaten Muna dengan sendirinya
membuat kabupaten Muna juga kaya akan bahasa. Semua suku bangsa yang
berasal dari daerah lain yang bertempat tinggal di kabupaten Muna secara
otomatis juga membawa persebaran bahasa daerah suku bangsa tersebut. Misalnya
orang Bali dan Jawa mengikuti kegiatan transmigrasi yang diadakan oleh
pemerintah ke kabupaten Muna secara otomatis bahasa mereka juga ikut
bertransmigrasi.
Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari bukan berarti
bahasa daerah masing-masing tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi. Semua
bahasa daerah bisa digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari
di masyarakat kabupaten Muna tetapi hanya sesama suku, etnis yang
menggunakan bahasa daerah tersebut. Misalnya bahasa Bali hanya bisa digunakan
berkomukasi dengan sesama orang Bali, hal ini diakibatkan oleh masyarakat
pengguna bahasa tersebut hanya terbatas pada orang Bali saja, begitu juga bahasa
daerah yang lain. Bahasa Muna, sekarang ini sudah mulai dijadikan sebagai bahan
mata pelajaran di sekolah, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah
Menengah Pertama (SMP) sebagai mata salah satu mata pelajaran muatan lokal.
85
Bahasa Muna menjadi lingua-france bagi masyarakat Muna dalam
berbagai aktivitas kebudayaan. Kesenian tradisional umumnya ditampilkan
dengan menggunakan bahasa Muna. Berbagai bentuk kesenian tradisional tetap
dipertahankan keberadaannya hingga saat ini. Namun, tidak sedikit pula yang
telah punah, hanya tinggal nama. Tinggal sedikit tradisi listra lisan yang masih
hidup dalam masyarakat, walaupun jumlah penuturnya tinggal beberapa orang
saja dan tersebar di beberapa wilayah kabupaten Muna.
Kesenian rakyat merupakan satu khazanah kaya-raya yang di dalamnya
tersimpan rekaman-rekaman realitas kehidupan etnik Muna pada masa lampau.
Bagi masyarakat etnik Muna, memiliki kesenian tradisonal antara lain, kantola,
modero dan gambusu dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan,
kekompakan, dan menguatkan persatuan. Tradisi lisan yang berwujud kabhanti,
kantola, modero, dan gambusu ini bermuatan pesan-pesan moral. Pesan-pesan
dalam seni kabhanti, kantola, modero, dan gambusu berdampak pada orang yang
mendengarnya. Orang yang mendengarnya akan tercerahi (terajari) ke arah
pembentukan diri individu, diri sosial, dan diri religius yang arif dan bijaksana.
Khusus untuk tradisi lisan kantola akan dibahas lebih lanjut pada bab-bab
berikutnya.
4.7 Keberadaan Tradisi Lisan
Sastra lisan menurut Dundes (Endaraswara, 2009:235) merupakan part of
more inclisive term of folklore. Sastra lisan memiliki tradisi turun-temurun yang
mencakup antara lain; teka-teki (riddles), pribahasa (proverbs), kutukan (curses),
mantra guna-guna (charms), dan lain-lain. Genre ini memberikan gambaran
86
bahwa sebenarnya cakupan sastra lisan itu sangat luas dan memiliki ekspresi
estetis yang merupakan bagian dari komunikasi. Sastra lisan tidak dapat
dipisahkan dari budaya dan tradisi masyarakat. Pemahaman sastra lisan
memerlukan penguasaan kode bahasa, budaya, religi, dan segala aspek kehidupan
sosial masyarakat.
Sastra lisan pada masyarakat Muna, seperti umumnya yang terdapat
disejumlah daerah di Nusantara, bersifat tradisional dan tanpa diketahui siapa
yang penciptanya (anonim). Sastra lisan pada awalnya hanya merupakan
ungkapan-ungkapan yang sering diucapakan dalam situasi yang dianggap
memiliki makna tertentu. Menurut informan, jumlah karya sastra yang bersifat
lisan saat ini sudah tidak dapat diidentifikasi semua, hanya beberapa saja jenis
sastra lisan yang dapat bertahan hingga sekarang, di antaranya kantola, modero,
gambusu. Hampir keseluruhan sastra lisan ini mengikuti pola pantun pada
umumnya, yaitu berupa sampiran dan isi.
Sastra lisan tersebut di atas masih dapat disaksikan dan hidup di tengahtengah
masyarakat hingga sekarang, namun tidak demikian halnya dengan sastra
tulis. Lembaga kebudayaan Daerah Muna, berusaha melakukan penelusuran sastra
tulis. Setelah beberapa kali melakukan penelitian, daerah ini tidak memilki sastra
tulis dalam pengertian sastra sebagai salah satu cabang kesenian, yang memilki
nilai estetika (aesthetical satisfaction).
Kleden (2004:8) menetapkan batas-batas antara karya sastra dengan jenisjenis
tulisan lainnya. Jenis-jenis tulisan tidak dapat dikategorikan sebagai karya
sastra konsep-konsepnya disusun dengan cara menyingkirkan sebanyak mungkin
87
konotasi dan ambivalensi sehingga tercapai suatu denotasi yang dapat ditetapkan
isi dan batas-batasnya. Sedangkan dalam karya sastra, konotasi dimungkinkan,
dan ambivalensi justru diaktifkan untuk menghidupkan watak simbolik sastra.
Watak simbolik sastra itu sendiri menggunakan berbagai teknik simbolisasi,
seperti metafora, aligeria, atau cara-cara lainnya. Karya sastra, dengan berbagai
teknik simbolisasinya, mampu menyajikan nilai estetika.
Secara historis, sastra lisan sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu
sebagai salah satu bentuk komunikasi antar masyarakat yang mendiami wilayah
Pulau Muna. Untuk mengetahui kapan terciptanya tradisi lisan sangat sulit untuk
ditentukan. Dari berbagai wawancara dengan beberapa informan dapat
disimpulkan bahwa sastra lisan yang ada saat ini tidak diketahui pasti kapan
mulanya tercipta.
88
BAB V
BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
Setiap masyarakat mempunyai seperangkat tradisi lisan yang harus digali
dari pengalaman hidup mereka pada masa lalu. Tradisi lisan merupakan produk
budaya masa lalu yang berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat,
hukum adat, dan aturan-aturan khusus, yang kesemuanya itu dianggap baik
sehingga patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Tradisi lisan
merupakan semua kecerdasan tradisional yang ditranformasikan ke dalam cipta,
karya dan karsa, sehingga masyarakat dapat mengatasi berbagai persoalan hidup
dalam berbagai iklim sosial yang terus berubah-ubah.
Maka untuk itu diperlukan kesungguhan dan kerja secara sistematis dan
periodik yang sangat kuat, serta diakrabkan kembali pada masyarakat
pendukungnya dalam mempertahankan eksistensi warisan budaya lokal yang
merupakan penunjang kebudayaan nasional. Untuk itu, langkah penting harus
segera dilakukan pemerintah dan lembaga non-pemerintah serta masyarakat
pendukung untuk terus proaktif dalam upaya penyelamatan dan peningkatan
apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya. Sebagai warisan budaya, tradisi
lisan kantola, terus diupayakan pelestariannya, seperti tampak pada pertunjukan
tradisional secara periodik, pengintegrasian kantola dalam berbagai bentuk
pantun, aktualisasi kantola dalam masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang
berkaitan dengan pelestarian tradisi lisan kantola.
Demikian pula halnya dengan masyarakat Muna, sebagai masyarakat yang
bisa dikategorikan sebagai masyarakat berbudaya. Masyarakat Muna memiliki
89
tradisi lisan yang telah menjadi sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial,
politik, budaya, ekonomi, hukum serta lingkungan di tengah-tengah kehidupan
mereka. Tradisi lisan pada masyarakat Muna bersifat dinamis berkelanjutan dan
dapat diterima oleh komunitasnya, serta memiliki ranah dan dimensi yang sangat
luas mulai dari sifatnya yang sangat teologis sampai yang sangat pragmatis dan
teknis. Masyarakat Muna, menciptakan dan mengembangkan tradisi lisan yang di
dalamnya tercakup berbagai mekanisme dan cara untuk bersikap, berperilaku dan
bertindak, baik dalam hubungan mereka dengan sesama manusia, dengan alam
maupun dengan kuasa.
Tradisi lisan dalam masyarakat Muna dikemas berdasarkan pengalaman
dalam berinteraksi dengan alam di sekitar mereka, dengan sesama orang Muna,
dan dengan Kakawasa Ompu (Tuhan Yang Maha Esa). Pengalaman dan
pengetahuan empirik yang diperoleh terus diwariskan dan dikembangkan serta
dipertahankan melalui proses pembelajaran dari generasi ke generasi, di mana
bahan ajar dalam proses pembelajaran tersebut tidak tertulis, tetapi tersimpan
disetiap kepala masyarakat Muna, terutama para tetua adat dan tokoh-tokoh
masyarakat Muna. Koentjaraningrat (1992: 79) menyebut proses pembelajaran
seperti ini sebagai pembudayaan atau biasa pula dikenal dengan istilah
institusionalisasi yaitu proses belajar yang dilalui oleh setiap orang selama
hidupnya untuk menyesuaikan diri di alam pikirannya serta sikapnya terhadap
adat, sistem norma dan semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan dan
masyarakatnya.
90
Sebagai produk budaya masa lampau tradisi lisan yang memiliki dimensi
yang sangat luas (Ife, 2002: 301), maka kajian tradisi lisan masyarakat Muna
sebagai grand issu kajian ini, lebih difokuskan pada upaya pengidentifikasian
perangkat-perangkat tradisi lisan masyarakat Muna yang kiranya dapat
direvitalisasi sebagai model tradisi lisan, khususnya tradisi lisan masyarakat Muna
berbasis budaya tradisonal. Hasil eksplorasi dan upaya revitalisasi tersebut akan
diberikan pada bagian-bagian berikut ini.
5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola secara Periodik
Akhir-akhir ini krisis kebudayaan yang melanda dunia, bukan hanya
mengakibatkan keterpinggiran ilmu-ilmu budaya oleh perkembangan teknologi
dan media yang sangat pesat, tetapi juga berdampak pada terpuruknya apresiasi
masyarakat, terutama generasi muda, terhadap produk-produk tradisi lisan yang
tak ternilai harganya, selain unsur filosofis dan nilai etis yang terkandung di
dalamnya. Mayoritas generasi muda lebih suka menikmati dan menggeluti
produk-produk budaya modern dan pop, dan beranggapan bahwa produk-produk
tradisi lisan yang bernuansa tradisional merupakan bagian dari masa lalu yang
tidak lagi sesuai dengan kondisi masyarakat yang dianggap modern, hingga kini.
Tradisi lisan selalu berkembang di dalam suatu proses seiring dengan
perkembangan masyarakat pendukungnya. Masyarakat pemilik budaya tersebut,
termasuk pemerintah, harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan
antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan senantiasa
terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-pengaruh
91
globalisasi yang terus mengancam eksistensinya. Untuk itu diperlukan berbagai
upaya mendorong pelestarian tradisi lisan.
Upaya untuk mempertahankan dan meningkatan apresiasi masyarakat
terhadap tradisi lisan kantola adalah pertunjukan tradisi lisan kantola harus
dilakukan secara periodik. Peningkatan apresiasi masyarakat tentu saja akan
membuka peluang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan
semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan memiliki
kekuatan yang bisa mempengaruhi rancang bangun kebudayaan nasional karena
tradisi lisan merupakan produk estetis simbolis masyarakat yang berakar pada
pengalaman sosiokultural sehingga di dalamnya terkandung kearifan dan nilainilai
mulia (Sutarto, 2004: 1). Pengalaman sosiokultural ini menjadi sesuatu yang
berharga dalam mempertahankan eksistensi kehidupan masyarakat dalam
menghadapi derasnya arus globalisasi yang setiap saat dapat mengancam segala
aktivitas kultural, termasuk keberadaan tradisi lisan.
Sutarto lebih jauh mengungkapkan bahwa tradisi lisan telah menjadi
korban perubahan dari budaya global yang berdampak pada keterpurukan dan
bahkan lambat laun akan hilang di muka bumi. Gejala keterpurukan dan
kepunahan sudah tampak di pelupuk mata dan ini tidak semestinya terjadi. Jika
hal ini dibiarkan maka bangsa Indonesia sebagai bangsa besar, dengan berbagai
jenis tradisinya yang tak terhingga jumlahnya, akan kehilangan produk
kebudayaan. Apabila tidak terjadi peningkatan apresiasi, tradisi lisan akan gagal
memenangi dukungan masyarakat (communal support) dan dukungan pasar
(financial support). Dukungan masyarakat akan melemah dan dengan sendirinya
92
pewaris tradisi lisan akan makin berkurang pula. Banyak di antara kita yang tidak
sadar dengan fakta bahwa aktivitas kedaerahan kita telah dipengaruhi, bahkan
terkadang ditentukan, oleh peristiwa atau agen yang jauh (Giddens, 2003: 9).
Budaya global mampu menebus batas-batas dan sekat-sekat lokalitas
masyarakat mana pun di belahan bumi ini. Dia menjadi agen perubahan yang
seolah-olah memiliki remote control dalam mengendalikan segala aktivitas
masyarakat sesuai yang dia inginkan. Anggapan ini melekat dalam masyarakat
bahwa globalisasi memberi ruang terhadap penciptaan produk-produk budaya
yang universal, sehingga produk-produk budaya lokal akan terserap ke dalamnya
atau malah sebaliknya, sehingga terjadi tarik menarik di antara keduanya. Dalam
hal ini, terjadi pertemuan antara globalitas dan lokalitas.
Swellengrebel (Astra, 2009: 125) menyebutkan pertemuan antara tradisi
besar (great tradition) dengan tradisi kecil (little tradition) vis a vis. Menurut
Astra, tradisi besar tidak pernah mampu mencerabut tradisi kecil yang memang
sudah mengakar di bumi Nusantara. Kekuatan budaya lokal terwujud dalam
bentuk kearifan lokal (lokal genius) yang mampu menyaring hal-hal positif dari
tradisi besar sehingga memperluas cakrawala budaya dan meningkatkan adab
bangsa. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa budaya global memiliki daya
tersendiri, magnet yang memiliki daya tarik yang kuat. Dia mampu memutar
balikkan fakta sehingga lambat laun tradisi kecil akan tercerabut dari akarnya.
Akhirnya, pemikiran konvensional akan terus bermunculan yang beranggapan
bahwa produk budaya lokal itu kuno ketinggalan zaman sehingga tidak menarik,
93
sementara budaya global itu selalu bagus dan menarik dimata masyarakat yang
telah dipengaruhi oleh budaya global.
Pertunjukan tradisi lisan kantola merupakan satu dari beberapa pertujukan
berbalas pantun yang menampilkan berbagai unsur pertunjukan tradisional yang
ada pada masyarakat Muna, yang diselenggarakan pada acara pasca perkawinan,
syukuran, sunatan, pingitan, dan pasca panen. Keberadaan kantola yang sekarang
ini sudah mulai hilang atau memudar dikalangan masyarakat Muna.
Mulanya penyelenggaraan pertunjukan tradisi lisan kantola sebagai sarana
hiburan bagi masyarakat daerah Muna sejak dahulu. Manakala ada acara kantola,
orang beramai-ramai mengunjungi keramaian itu untuk mendengarkan kantola
yang ditampilkan pada waktu itu. Orang-orang tua, anak-anak, lebih-lebih para
pemuda dan pemudi tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Dalam kondisi
seperti itu kantola berperan sebagai sarana jumpa sehingga momentum itu dapat
digunakan untuk menggalang massa. Lewat kantola kita dapat memberikan
informasi pembangunan, agama, dan nasihat-nasihat.
Bagi pemuda dan pemudi mempunyai kesempatan seperti itu dapat
digunakannya untuk memperluas pergaulan. Lebih dari itu dapat pula
digunakannya sebagai langkah awal untuk memilih pasangan hidup, seperti
gambar 5.1 dan 5.2 berikut.
94
Gambar 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Laki_Laki
Dokumentasi: Darwan Sari, 2011
Gambar 5.2 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Perempuan
Dokomentasi: Darwan Sari, 2011
95
Pada gambar 5.1 dan 5.2, dalam pertunjukan ini, kantola digunakan pada waktu
bermain kantola. Kantola adalah sejenis permainan tradisional, di mana para
pemain pria dan perempuan masing-masing bersaf kemudian mereka berhadapan
dengan jarak kurang lebih dua meter. Acara kantola biasanya dilaksanakan pada
malam hari. Mereka bermain kantola diawasi oleh orang-orang tua yang
berwibawa, hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pantun yang
mengundang pertikaian. Oleh karenanya kantola dari masing-masing pihak harus
diucapkan lebih dahulu sebelum dilagukan. Jika dinilai rawan, maka kantola itu
tidak boleh dilagukan. Pada saat bermain tradisi lisan kantola, saat peserta peserta
perempuan melantunkan, maka peserta laki-laki mendengarkan dan memikirkan
kira-kira apa yang akan mereka jawab nantinya. Fenomena tersebut sesuai dengan
pendapatnya Lord dalam Achadiati (2008: 205) yang mengungkapkan bahwa
bunyi, kata, atau peristiwa yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan.
Formula merupakan peranti mnemonic yang membantu orang menemukan
kembali pikiran yang tersimpan dalam ingatan, di antaranya rima, paralelisme,
aliterasi, asonansi, struktur-struktur tetap yang digunakan dalam tradisi lisan.
Pada setiap penyelenggaraannya, pertunjukan ini yang selalu menampilkan
pertunjukan kantola yang sudah jarang ditampilkan dalam kegiatan-kegiatan
berbalas pantun. Hal ini sangat terkait dengan komitmen kultural para pemegang
kekuasaan dan juga media. Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam
menumbuh kembangkan tradisi lisan. Di tangan merekalah ekspos tradisi lisan
dapat diwujudkan, selain karena ditunjang oleh segi finansial juga memiliki akses
dalam membuka kran pertunjukan tradisi lisan.
96
Untuk mempertahankan eksistensi tradisi lisan, komitmen kultural
pemerintah sangat dibutuhkan. Mereka seyogyanya membuka peluang bagi tradisi
lisan sehingga mampu bersaing dan berkembang di tengah kesenian modern yang
menampakkan wajah yang terus merubah sehingga tidak menjadi statis dan
monoton seperti halnya yang terdapat pada tradisi lisan. Peluang itu tidak hanya
terkait dengan pertunjukan sendiri, melainkan juga berhubungan dengan media
massa. Kehadiran media massa yang terus tumbuh subur, telah menjarah
kehidupan masyarakat dan budaya lokal dengan sebuah budaya baru. Sebuah
budaya massa hasil ciptaan media, yang lebih menonjolkan nilai-nilai
konsumerisme dan hedoisme.
Bagaimanapun juga, media massa telah menjadi tumpuan untuk dijadikan
sebagai medium pengembangan budaya, termasuk di dalamnya tradisi lisan tanpa
harus menghilangkan identitas tipikalnya. Keterkaitan media massa dan budaya
akan bersinggungan langsung dengan ekonomi (profitable) dan pasar
(marketable) yang akhirnya melahirkan industri budaya. Menurut Stokes (2007:
112) industri budaya adalah sesuatu yang memiliki fungsi utama produksi atau
distribusi seni, hiburan, atau informasi. Hal ini dimaksudkan untuk memproduksi
artifak-artifak yang berbentuk seni pertunjukan.
Dorongan ekonomi dan pasar merupakan dorongan yang paling signifikan
dalam menentukan apa yang akan dikerjakan selanjutnya. Industri budaya terlibat
dalam produksi benda-benda simbolis yang perlu bersaing dalam ruang pasar.
Bahkan, organisasi seni yang paling dermawan sekali pun memerlukan sesuatu
yang profitable untuk bertahan dan bersaing. Dengan demikian, tumbuh
97
kembangnya tradisi lisan sangat bergantung pada kedua unsur yang telah
disebutkan di atas, tanpa berusaha mengerdilkan peran masyarakat pewaris tradisi
lisan.
Olehnya itu, untuk menumbuh kembangkan suatu kebudayaan tidak
terlepas dari persoalan kapitalisme dalam memproduksi dan menyalurkan
berbagai bentuk seni, hiburan dan informasi. Persoalan utama kapitalisme terletak
pada kecenderungan menjadikan kebudayaan sebagai “budak komoditi” yang
patuh pada logika dan hukum-hukum yang diciptakan sendiri, yaitu kebudayaan
industri. Kebudayaan industri dibuat untuk massa berdasarkan relasi kekuasaan,
yang totaliter dalam menentukan bentuk, gaya, konsep, makna, dan pesan-pesan
ideologi yang tersembunyi di balik produk budayanya. Kebudayaan industri
merupakan bentuk “pengomandoan” masyarakat konsumer dari kaum kapitalisme
(Adorno dalam Piliang, 2004: 313).
Fenomena yang diungkapkan Adorno di atas sedang berlangsung di tanah
air saat ini. Kebudayaan sudah menjadi komoditi yang tidak terlepas dari motif
ekonomi dan relasi kekuasaan. Pemerintah, sebagai pemegang kekuasaan, dan
media massa memiliki peran yang sangat signifikan dalam membuka dan
mendistribusikan pertunjukan tradisi lisan kepada masyarakat. Tanpa peran
pemerintah dan media massa, pertunjukkan tradisi lisan tidak dapat berbuat
banyak, apalagi menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran dan
fungsi tradisi lisan. Masyarakat tentunya tidak menginginkan tradisi lisan berubah
wujud menjadi artifak-artifak kultural peninggalan masa lalu yang tidak bernilai.
98
Sekarang ini masyarakat hanya tampil sebagai penikmat budaya
ketimbang menjadi pelaku, memandang tradisi dari segi pragmatisme saja. Sikap
pragmatis ini lebih jauh lagi memandang bahwa tradisi lisan ini bukan menjadi
bagian dari hidup mereka. Tradisi lisan berfungsi sebagai alat hiburan semata
dengan mengenyampingkan fungsi-fungsi lainnya yang merekat pada tradisi lisan
tersebut. Padahal, pertunjukkan tradisi lisan dapat membuka peluang bagi
pengembangan produk-produk budaya lokal lainnya. Hal ini dipertegas oleh La
Mokui (wawancara 11 Maret 2011) yang mengungkapkan bahwa;
“Pertunjukkan tradisi lisan hanya sebagai media sehingga dalam kantola
bisa dikenal oleh masyarakat. Tujuan pertunjukan ini sebenarnya untuk
memperkenalkan kepada masyarakat bahwa dalam tradisi lisan kantola
semenjak dahulu sudah mematuhi etika dan norma-norma”
Ungkapan di atas mengindikasikan adanya ruang bagi masyarakat untuk
mengenal dan mengetahui simbol-simbol budaya. Pertunjukan tradisi lisan tidak
semata-mata menonjolkan aspek estetika atau keindahan kesenian tersebut, tetapi
juga pemaknaan terhadap unsur yang terdapat di dalamnya, seperti kreativitas
yang senantiasa hadir untuk setiap penampilannya dan sebagai unsur etika dan
norma pada masyarakat. Tradisi lisan mampu menumbuhkan ikatan batin di
antara masyarakat yang menjadi pendukung utama tradisi tersebut. Tradisi lisan
sangat kaya dengan nilai-nilai kearifan sehingga perlu dilestarikan. Di dalamnya
mengandung hal-hal yang berhubungan langsung dengan interaksi manusia
dengan manusia, dan alam. Pelestariannya bukan apa yang ditampilkan, kemasan
atau penampilan fisik, melainkan nilai-nilai yang terkandung dalam seni tersebut.
Inilah wujud nyata revitalisasi kebudayaan. Revitalisasi merupakan suatu proses
99
menjadikan kebudayaan sebagian terpenting di dalam kehidupan bermasyarakat
sebelum kebudayaan itu kehilangan makna yang terkandung di dalamnya.
5.2 Aktualisasi Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna
Suatu realitas yang sangat memprihatinkan, banyak produk budaya lokal
yang saat ini sekarat atau bahkan mati. Tidak jauh berbeda dengan produk budaya
lainnya, tradisi lisan juga berada dalam ambang kepunahan. Paling tidak, terdapat
dua faktor yang mempengaruhi kondisi ini, yaitu faktor yang berasal dari luar
dirinya (faktor eksternal) dan yang berasal dari dalam dirinya (faktor internal).
Gelombang perubahan yang melanda dunia mencuatkan produk-produk budaya
global yang menghibur, mudah dicerna, gampang ditiru, enak dirasakan,
disebarluaskan oleh media masa, dan didukung oleh modal besar, merupakan
faktor eksternal yang menyebabkan keterpurukan budaya lokal. Produk-produk
budaya global benar-benar merampas selera seni masyarakat lokal dan
menggiring ke dalam cita rasa estetis homogeni yang dikendalikan oleh lingkaran
pemegang modal dan penguasa (Sutarto, 2004: 2).
Fenomena ini berangkat dari fungsi media itu sendiri, baik media massa
maupun media elektronik, yang telah menentukan pemikiran, persepsi, opini, dan
bahkan perilaku masyarakat. Pada saat inilah media dipandang sebagai mediator
dalam menyampaikan berbagai ideologi yang memboncenginya. Beberapa
persoalan ideologis pada media muncul ketika apa yang disampaikan media
sebagai dunia representasi dikaitkan dengan kenyataan sosial sebagai dunia nyata
memunculkan berbagai persoalan di dalam kehidupan sosial, termasuk
kebudayaan.
100
Selain faktor yang berasal dari luar dirinya, faktor yang berasal dari dalam
pun menjadi pemicu keterpurukan kebudayaan yang disebabkan oleh para pelaku
dan pendukung budaya lokal yang seringkali kurang sigap menanggapi perubahan
kultural yang begitu cepat merambah sehingga budaya yang ditampilkan terkesan
statis dan monoton. Dalam situasi seperti ini, budaya lokal tidak akan pernah
mampu bersaing dengan produk-produk budaya global. Ketidakmampuan ini, dari
segi individu dan kelompok, berdampak langsung pada kemunduran budaya lokal.
Sedangkan dalam cakupan nasional, akan berdampak pada krisis budaya nasional.
Rancang bangun kebudayaan nasional bersumber dari budaya-budaya lokal yang
ada di seluruh nusantara.
Fenomena di atas dipertegas oleh Piliang (2004b: 277) yang mengatakan
bahwa bila kecenderungan pengaruh budaya kapitalisme yang dilandasi dengan
prinsip-prinsip budaya konsumerisme, budaya citra, dan budaya tontonan, atau
bila pandangan dunia (world view) yang dibangun oleh kapitalisme pada individuindividu
di dalam masyarakat tidak diubah, maka sesungguhnya proses
kapitalisme global sama artinya dengan proses penghancuran budaya lokal.
Ancaman bagi budaya lokal dan nasional adalah globalisasi dan
kapitalisme yang lebih berbahaya dibandingkan komunisme dan fanatisme agama.
Untuk mengantisipasi hal ini, harus dibutuhkan komitmen untuk merubah diri
dalam memandang dunia dengan lebih manusiawi dengan berlandaskan nilai-nilai
budaya lokal. Merubah pandangan dunia merupakan perubahan mendasar dalam
rangka menghidupkan kembali budaya lokal atau revitalisasi budaya lokal. Dalam
upaya ini, harus dikembangkan indikator-indikator yang harus digali dari sistem-
101
sistem lokal yang lebih sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal. Merubah
pandangan dunia, disamping merubah paradigma, juga merubah cara berpikir
masyarakat lokal.
Selanjutnya Piliang (2004: 277) mengemukakan bahwa perubahan
pandangan dunia akan ditentukan oleh perubahan mendasar pada perspektif, nilai,
dan tindak-tanduk individual. Merubah pandangan dunia berarti merubah
bagaimana masyarakat lokal merubah persepsi mereka tentang makna (meaning)
dan tujuan hidup yang selama ini sangat dibentuk oleh sistem kapitalisme. Untuk
itu perlu ditumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pembelajaran sosial (social
learning). Salah satu proses pembelajaran sosial yang sangat penting adalah
memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang perlunya mengadakan
perubahan dari pandangan dunia kapitalisme global ke arah pandangan yang
sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal.
Dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya lokal, sebuah karya sastra tidak
dapat mengelak dari kondisi masyarakat dan situasi kebudayaan tempat karya itu
dihasilkan (Kleden, 2004: 8). Karya sastra berperan sebagai refleksi atau cerminan
dari suatu masyarakat. Sastra lisan termasuk khazanah sastra yang penting sebagai
bagian utama dari budaya sastra masyarakat. Masyarakat Muna mengenal tradisi
lisan sebagai bentuk tradisi yang paling dominan. Melalui tradisi lisan itulah
masyarakat berkomunikasi, mewariskan, dan mengembangkan pengetahuan dan
pola sikap tentang dan atas kehidupan. Tradisi lisan kantola mempunyai
kedudukan dan peranan penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat
Muna.
102
Kenyataan ini jauh dari realita yang sesungguhnya. Dari berbagai
pengamatan yang dilakukan di lapangan dapat dikemukakan bahwa tradisi lisan
ini tidak lagi merupakan cerminan budaya masyarakat setempat. Hal ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain; (1) generasi muda beranggapan
bahwa tradisi lisan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Stigma
semacam ini hampir merasuki seluruh pikiran generasi muda yang beranggapan
bahwa tradisi lisan hanya cocok untuk generasi tua, (2) perkembangan teknologi
yang begitu pesat juga menjadi indikator memudarnya tradisi lisan. Generasi
muda cenderung membaca komik, memirsa layar kaca, bermain game yang lebih
interaktif, face book dan sebagainya ketimbang mendengarkan cerita atau nasehat
orang tua yang menurut mereka tidak lagi memiliki daya pikat. Dengan kata lain,
media cetak dan elektronik menjadi media atraktif dibanding mempelajari atau
pun mendengarkan tradisi lisan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5.3 berikut.
103
Gambar: 5.3 Masyarakat yang Menyaksikan Pertunjukkan Tradisi Lisan Kantola
Didominasi Generasi Tua (Dokomentasi: Darwan Sari, 2011)
Pada gambar 5.3 menggambarkan tentang masyarakat Muna dalam memandang
tradisi lisan kantola memiliki pandangan yang berbeda. Di satu sisi, sebagian
masyarakat optimis beranggapan bahwa keberadaan tradisi lisan harus tetap
dilestarikan. Umumnya mereka ini berasal dari generasi tua yang tetap
memandang kantola sebagai panutan dalam hidup. Namun, disisi lain masyarakat
pesimis karena mereka beranggapan bahwa tradisi lisan ini bagian dari masa lalu.
Hidup harus bergerak ke depan, bukan sekedar berpepatah-petitih dan tidak perlu
balik ke belakang (wawancara dengan La Mokui pada 11 Maret 2011).
Hal tersebut tersebut di atas mengindikasikan adanya celah untuk
membuka jurang dalam menghempaskan tradisi lisan ke tempat yang terdalam.
Olehnya itu keadaan seperti ini, tentu saja sangat mengkhawatirkan. Kedudukan
dan fungsi tradisi lisan kantola yang penuh dengan nilai-nilai moral dan kaya
104
makna kehidupan akan semakin tergerus dan lamban laun menghilang. Dengan
sendirinya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan terlupakan bahkan akan
menghilang.
Revitalisasi berarti prinsip atau sistem-sistem lokal yang harus
diperbaharui, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Hal ini berarti
bahwa sistem-sistem lokal harus diberi nafas baru, terlepas dari sikap apapun yang
dianut dalam menghadapi gelombang pengaruh kapitalisme dan budaya global.
Upaya revitalisasi yang tidak dilakukan secara sistematis dan terencana tidak akan
membawa pengaruh apa-apa, ketika berhadapan dengan mesin kapitalisme global
yang sangat sistematis dan terencana (Piliang, 2004b: 285). Revitalisasi harus
dimulai dari hal-hal yang berkaitan langsung dengan kondisi sosiokultural
masyarakat setempat, seperti yang dikemukakan La Mokui (wawancara 11 Maret
2011) berikut.
“Untuk melakukan revitalisasi dimulai dari bahasa, setelah itu dilakukan
sosialisasi, kemudian membersikan perangkat adat. Kaum sara harus
dikembangkan lagi, menjadi adat sebagaimana mestinya. Dia tidak
mencampuri urusan pemerintah tetapi untuk memperkuat institusi adat.”
Ungkapan yang disampaikan oleh La Mokui di atas, mengindikasikan bahwa
peran lembaga adat sudah tidak berfungsi. Untuk itu perlunya kembali penguatan
lembaga dalam proses memvitalkan kembali budaya-budaya lokal. Fenomena ini
sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ardana (2004:99) yang menekankan
perlunya penguatan fungsi dan peran lembaga adat. Jika tetap ingin
mempertahankan budaya lokal, peran lembaga adat ini harus dilibatkan kembali.
Perangkat adat (kaum sara) harus merumuskan kembali kebijakan pelestarian
warisan budaya dan menjadi mitra pemerintah dalam usaha-usaha pelestarian
105
budaya lokal. Namun, pada kenyataannya, pemerintah dan perangkat adat tidak
menunjukkan partisipasi nyata dalam mengembangkan warisan budaya lokal.
Menurut Tilaar (2007: 10-11), terdapat dua ikatan primordial yang
memperkuat hubungan dan membentuk masyarakat lokal, yaitu bahasa dan
agama. Keduanya berfungsi dalam menumbuhkan solidaritas masyarakat Muna
dalam menumbuhkan kemampuannya. Bahasa Muna, sebagai lingua france di
seluruh aktivitas kultural, merupakan faktor pengikat yang sangat besar dalam
menumbuhkan ikatan sosial. Lebih lanjut bahasa, menurut Boerdieu (Harker,
2005: 226), harus dipandang sebagai bagian dari cara hidup sebuah kelompok
masyarakat. Sedangkan agama, dalam hal ini direpresentasikan melalui kaum
sara, merupakan regulator dan pijakan kehidupan masyarakat Muna.
Peranan pendidikan dalam mewujudkan upaya pelestarian kebudayaan
lokal. Untuk melaksanakan revitalisasi harus berproses dalam berbagai tahapan,
yaitu internalisasi, sosialisasi, dan implementasi. Pendidikan dalam arti yang
selaus-luasnya, berfungsi sebagai mekanisme pengenalan, pembiasaan,
pembinaan dan pemberdayaan. Proses pemilikan pengetahuan lewat
pembelajaran, sehingga melalui proses ini timbul pemahaman terhadap aktivitas
kultural yang berlangsung di masyarakat. Salah satu indikator yang digunakan
untuk mengetahui tingkat pemahaman individu adalah sejauh mana dia
mengetahui maksud dan tujuan kegiatan tersebut. Kesadaran seseorang terhadap
budayanya serta kebanggaan memilikinya dalam ikatan sosial merupakan hasil
dari perkembangan pribadi seseorang. Inilah yang dikenal sebagai pendidikan
multikulturalisme (Tilaar, 2007: 15).
106
Pendidikan multikulturalisme akan tercapai bila ada campur tangan
pemerintah, sebab pemerintah juga berperan besar dalam menentukan arah
kehidupan masyarakat Muna. Perubahan yang sangat signifikan terjadi pula pada
era globalisasi dengan mobilitas modernisasinya. Seperti yang diungkapkan oleh
Giddens (2003: 8) bahwa hampir pasti modernitas selalu penentangan terhadap
tradisi. Modernitas telah membangun tradisi sebagimana ia menghancurkannya,
serta keberlanjutan dan penciptaan tradisi merupakan bagian utama dari legitimasi
kekuasaan.
Globalisasi yang mengandung paradoks, dan paradoks globalisasi tercipta
akibat hadirnya secara bersamaan dan di dalam ruang waktu yang sama dua sifat
yang saling bertentangan satu sama lainnya secara kontradiktif, globalitas dan
lokalitas, hegemonisasi dan heterogenisasi, penyeragaman dan
keberanekaragaman. Masyarakat Muna sekarang ini, terjebak dalam pola-pola
kontradiktif yang mewarnai perubahan sosial dan kultural akhir-akhir ini;
kontradiksi antara globalisme dan lokalisme, sentralisasi dan desentralisasi. di
satu pihak, kehidupan sosial masyarakat kita akhir-akhir ini diwarnai oleh
berbagai macam kendala, akibat suhu politik di daerah ini yang semakin memanas
dengan seringnya adanya demonstrasi, dan kemudian berkembang ke dalam
politik praktis yang mengabaikan kepentingan masyarakat serta berpihak kepada
kaum penguasa.
Keyakinan banyak pihak yang mengungkapkan bahwa segala macam
kendala, akibat suhu politik di daerah ini tidak perlu terjadi jika masyarakat Muna
mampu mengimplementasikan simbol-simbol kebudayaan yang terwujud dalam
107
tradisi lisan, seperti “Daseise Damowanu Liwu” yang artinya Bersatu
Membangun Daerah”. Menurut La Mokui (Wawancara 11 Maret 2011)
ungkapan ini tidak lagi menjadi semboyan pemersatu untuk membangun daerah
Muna, yang terjadi di daerah justru tercerai-berai yang mempunyai kepentingan
masing-masing. Konsep bersatu ini untuk membangun daerah tidak lagi bermakna
bagi seluruh masyarakat Muna, akan tetapi sebagai identitas bahwa ia orang
Muna.
Secara historis tradisi lisan kantola, sering dijadikan sebagai media
ekspresi dalam kultur kehidupan bermasyarakat. Tradisi lisan kantola mempunyai
peranan penting bagi masyarakat Muna. Seseorang dapat mengekspresikan apa
yang dihayalkannya, yang dipikirkan, serta apa yang dikehendakinya disampaikan
secara sastrawi melalui kantola, sehingga kantola merupakan salah satu media
bagi masyarakat Muna untuk menyampaikan sesuatu berupa kritikan, nasihat, dan
cinta kasih. Dengan adanya kantola, maka pengungkapan kritikan ataupun nasihat
lebih beretika, sehingga orang yang dikritik merasa dihargai. Pengungkapan
simbol-simbol sebagai bentuk ekspresi. De Saussure (1916) menjabarkan konsep
tentang tanda dan membaginya ke dalam bentuk dikotomi significant dan signifie.
Significant berupa penanda atau yang menandai, yaitu citra bunyi yang timbul
dalam pikiran berupa simbol bahasa, sedangkan signifie atau yang ditandai adalah
hal yang diacu atau kesan makna yang dalam pikiran. Secara sederhana dapat
dikatakan bahwa bentuk bahasa signifier adalah bentuk bahasa atau simbol
bahasa, sedangkan signified adalah makna yang terkandung di dalamnya.
108
Djajasudarma (1999: 18) menyatakan bahwa setiap situasi dapat diamati
dari segi bahasa karena bahasa merupakan keseharian manusia. Bahasa manusia
tidak hanya berupa ragam tulis, tetapi juga ragam lisan. Secara ontologis,
eksistensi bahasa lisan dianggap lebih awal daripada bahasa tulis karena jauh
sebelum mengenal tulisan manusia sudah dapat berbahasa yakni bahasa lisan.
Disamping itu, keberadaan bahasa lisan terbatas hanya pada masyarakat yang
bermelek huruf (literate society), sedangkan bahasa lisan ada pada masyarakat
manapun. Dengan demikian, masyarakat yang tidak beraksara sudah barang tentu
mengekspresikan hal-hal yang menyangkut diri dan alam sekitarnya melalui
tuturan tanpa dokumentasi. Pewarisan dengan cara seperti ini biasanya
dimanifestasikan dalam bentuk bahasa yang indah. Hal ini disebabkan oleh fitrah
manusia yang menyukai keindahan. Berdasarkan hal ini, manusia melahirkan
karya sastra lisan baik berupa cerita lisan, nyanyian rakyat, maupun pepatah
petitih. Dengan demikian karya sastra lisan bukan pelipur lara semata, bukan
cerita mitos belaka, tetapi merupakan muatan nilai dimensional dan sarat dengan
nilai. Nilai yang dimaksudkan adalah nilai-nilai budaya masyarakanya. Hal ini
senada dengan pernyataan Luxemburg et.al (1989:21), bahwa sastra terikat oleh
dimensi waktu dan budaya karena sastra itu sendiri merupakan produk dari sebuah
kebudayaan. di balik rangkaian kalimat yang estetis, karya sastra (sastra lisan)
tampil dengan gayanya yang unik, yang menginformasikan keadaan manusia dan
tipe masyarakatnya.
Secara umum sastra berbicara tentang manusia, ihwal kemanusiaan, dan
kehidupan yang kompleks dengan segala varian-variannya melalui kekuatan
109
kreativitasnya. Dengan demikian, tradisi lisan sebagai produk masyarakat lama
yang bercorak tradisional mengandung aspek filosofis yang multi dimensional dan
sarat makna.
Nilai tak terbatas itu ada dalam ranah imajinasi, yang dikongkritkan dalam
bentuk simbol-simbol atau kata-kata. Sebagai sebuah akibat dari simbolisasi,
sebagai kebenaran yang tak terbatas mengalami kemerosotan (penyempitan).
Sementara itu, makna sebuah simbolisasi tiada lain karena kesempatan yang
sewaktu-waktu bisa berubah. Kebudayaan bagi suatu kelompok telah menjadi
standar ukuran dalam menilai dan mewujudkan tingkahlaku. Nilai baik dan buruk
kemudian diukur berdasarkan ukuran yang berlaku dan telah disepakati
sebelumnya. Proses semacam ini melahirkan proses eksklusi sosial di mana satu
kelompok cenderung membangun wilayah simbolik sendiri yang membedakan
diri mereka dengan yang lain (Abdullah, 2006: 52). Nilai etika dan moral, yang
juga terdapat dalam kantola dijadikan ukuran dalam segala aspek kehidupan.
Walaupun tidak semua anggota masyarakat menjalankan nilai-nilai etika dan
moral sebagaimana seharusnya, yang dianggap sebagai penghambat dan
membatasi dinamika kehidupan mereka yang bergerak dinamis.
Kantola pada akhirnya melahirkan dua sikap, yaitu malu berbuat salah dan
takut berbuat salah. Sikap ini merupakan bagian dari kehidupan beragama yang
selalu menuntut kebenaran, yaitu kebenaran agama (wawancara La Mokui, 11
Maret 2011). Bertolak dari pemikiran (engkau dan aku) terlihat bahwa masyarakat
Muna sudah memikirkan hubungan anatara manusia dengan penciptaNya, antara
makhluk dengan khalik.
110
Konkretisasi simbol kebudayaan ini menjadi pedoman tingkahlaku dalam
berbagai praktik sosial. Sebagai kerangka acuan, kebudayaan merupakan
serangkaian nilai yang disepakati. Kebudayaan sebagai simbol menunjuk pada
bagaimana suatu budaya dimanfaatkan untuk menegaskan batas-batas kelompok.
Bahasa yang merupakan materi budaya digunakan untuk membangun wilayahwilayah
simbolik, menjadi kunci penting dalam suatu tradisi lisan. Perbincangan
mengenai bahasa tidak dapat dipisahkan dari kesalingberkaitannya dengan
pengetahuan yang melandasi serta bentuk-bentuk kekuasaan yang beroperasi di
baliknya. Artinya perbincangan mengenai bahasa tidak dapat dipisahkan dari
ideologi yang beroperasi di baliknya, melalui fungsi referensial dan afektif
bahasa.
Dasar persoalan dalam konsep ideologi yang berkaitan dengan status
epistemologinya, yaitu hubungan antara ideologi dengan kebenaran pengetahuan.
Foucaul (Barker, 2009: 85) melihat bahwa pengetahuan itu terimplikasi pada
kekuasaan, tak bisa dipisahkan dari kekuasaan, yang terlihat dalam konsepnya
kuasa/pengetahuan. Yang dimaksudkan dengan konsep ini adalah bahwa ada
hubungan timbal balik yang saling membentuk antara pengetahuan dengan
kekuasaan, sehingga pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari rezim-rezim
kekuasaan. Foucaul (2002: 66) melihat pelaksanaan kekuasaan terus menerus
menciptakan pengetahuan, dan sebaliknya pengetahuan secara konstan
menyebabkan pengaruh kekuasaan. Pengetahuan terbentuk di dalam konteks
relasi dan praktik-praktik kekuasaan, dan selanjutnya turut berperan dalam
pengembangan, perbaikan, dan pemeliharaan teknik-teknik kekuasaan yang baru.
111
Tradisi lisan merupakan sebuah ideologi. Sastra mempunyai relasi paling
intim dengan pertanyaan-pertanyaan kekuatan sosial, terformulasikan dalam
imaji, simbol, dan kebiasaan. Kebenaran-kebanaran mendasarkannya, seperti yang
dimediasikan oleh simbol-simbol tradisi, menjadi rational dan karenanya bersifat
mutlak dalam pertanyaan-pertanyaannya (Eagleton, 2006: 30-31). Ideologi bukan
hanya sekedar kepercayaan-kepercayaan yang berakar dalam, tetapi lebih khusus
ke cara-cara merasa, menilai, memandang, mempercayai yang berhubungan
dengan pemeliharaan dan reproduksi kekuatan sosial. Ideologi, menurut Barker
(2009: 13), adalah peta-peta makna meskipun berpotensi mengandung kebenaran
universal yang sebenarnya merupakan pemahaman historis yang menopengi dan
melanggengkan kekuasaan.
Kantola adalah syair yang sebagian intinya mengkritik pemerintah yang
disampaikan secara santun. Masyarakat mempunyai kekuatan tersendiri dengan
wewenang atau hak yang dimilikinya. Yang pada intinya adalah penyampaian
kritik ini mewakili kelompok masyarakat yang mana dan apakah kritik ini efektif
mewakili seluruh masyarakat. Namun terlepas dari semua itu, kantola mampu
menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat kontrol walaupun tahap
pengimplementasiannya belum terlihat secara nyata di dalam kehidupan
bermasyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat yang paling utama adalah menghargai
budaya lokal merupakan komponen esensial dari setiap pembangunan.
Masyarakat memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kearifan terhadap kondisi
sosiokultural masyarakat tersebut. Pemerintah hanya menjadi pendengar dan
112
belajar dari masyarakat, bukan mengajari masyarakat tentang problem dan
kebutuhan mereka. Dengan demikian, peran pemerintah hanya mengarahkan dan
memberikan dukungan, baik secara finansial dan pemasaran, tidak dengan cara
mengendalikan dan mengembangkan warisan budaya menurut kepentingan dan
keinginannya.
Tujuan dari revitalisasi tidak berhenti pada tahap pemahaman, namun
harus mampu mengimplementasikan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Proses selanjutnya adalah pemberdayaan warisan budaya sehingga dapat
diteruskan kepada generasi berikutnya. Keberhasilan proses sosialisasi nilai-nilai
budaya yang selanjutnya teristitusikan terhadap warga masyarakat, ditunjukan
berbagai tindakan nyata, berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup sebelumnya.
Proses-proses itulah, yang menurut hemat penulis, belum dijalankan oleh
masyarakat Muna. Terdapat kecenderungan dalam masyarakat yang tidak
memahami pentingnya pelestarian warisan budaya. Umumnya generasi muda
tidak lagi menaruh perhatian warisan budaya, apalagi tradisi lisan. Mereka lebih
terbuai oleh produk budaya global yang mampu memberikan kesenangan sesaat
namun cepat berganti rupa dengan kesenangan berikutnya tanpa memberikan
makna dan manfaat bagi pengayaan dan pembentukan kepribadian, seperti yang
terdapat dalam tradisi lisan.
5.3 Pelestarian Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna
Tradisi lisan dalam perjalanannya harus berhadapan dengan berbagai
kekuasaan, misalnya masyarakat, Negara, dan terutama para pewaris tradisi lisan
tersebut. Siklus berkesenian harus tetap ditumbuhkan mengingat makin gencarnya
113
produk global yang terus-menerus mengancam keberadaan tradisi lisan. Kesenian,
menurut Wijaya (2008), merupakan bentuk pembelajaran yang harus tetap
dilestarikan, dihidupkan, pergaulan, dan hubungan kemanusiaan.
Sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya, tradisi lisan
merupakan wadah pencarian identitas bagi masyarakat atau etnik tertentu
sehingga dapat memahami keberadaannya di tengah-tengah kemajemukan
masyarakat saat ini. Identitas diperoleh, dikelolah, dan ditransformasikan melalui
berbagai proses sosial. Identitas sangat penting karena dia membentuk perilaku
masyarakat. Tradisi lisan mampu membentuk identitas masyarakat lokal dan
membedakannya dari masyarakat lain. Perbedaan prilaku masyarakat
bertentangan dengan prinsip yang dianut masyarakat global. Globalisasi menjadi
universalitas sebagai tujuan utamanya sehingga memungkinkan terciptanya
homogenisasi budaya. Dengan terciptanya hemogenisasi budaya, maka akan
merajalelanya kapitalisme.
Peran media massa akan memunculkan hegemoni budaya yang
menghasilkan budaya massa, dan penguasa yang terus menerus mengembangkan
praktik-praktik kekuasaan. Kapitalisme global tidak hanya berkaitan dengan
ekspansi kapital dan pasar, tetapi juga merambah pada nilai-nilai kultural.
Kapitalisme global dibangun atas fondasi individualisme, dibangun berdasarkan
persaingan untuk menguasai dan mendominasi. Hal ini sangat bertentangan
dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh budaya lokal, seperti semangat
kebersamaan, kesederhanaan, tenggang rasa, dan kasih sayang. Jika hegemoni
114
kultural terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi proses
penghancuran warisan-warisan budaya lokal.
Sebagai bagian dari warisan budaya yang intangible, keberadaan tradisi
lisan sadar atau tidak, telah berada dalam tahap penghancuran. Tradisi lisan
kantola saat ini, menimbulkan banyak kekhawatiran bagi pemerhati budaya lokal,
sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah Tingkat II,
dan lembaga non-pemerintah, termasuk para tokoh masyarakat, dan tentu saja
masyarakat Muna sendiri yang menjadi pendukung utama tradisi lisan tersebut.
Hal ini menjadi krusial karena keberadaan kantola tidak dapat didokumentasikan,
hanya dalam beberapa makalah saja yang dapat di bukukan. Kantola sebenarnya
sudah menjadi artefak bagi dirinya yang dimiliki orang per orang dan menyimpan
dari fungsi yang seharusnya (wawancara dengan La Djehe Palola, 1 Maret 2011).
Lebih Jauh La Dehe mengungkapkan:
“Pemerintah belum ada upaya untuk melestarikan. Kami pernah
menyarankan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk
melakukan kodefikasi dan revitalisasi kebudayaan masyarakat Muna
tidak terealisasikan. Belum ada campur tangan pemerintah sejauh ini.
Dulu pernah dibentuk lembaga kebudayaan namun terbatas pada
penelitian bahasa daerah namun pengdokumentasian kantola belum
pernah dilakukan oleh pemerintah Daerah Muna.”
Ungkapan di atas mengindikasikan sikap dan posisi pemerintah yang kurang
memperhatikan keberadaan warisan budaya yang bersifat kelisanan. Padahal,
pemerintah, selain unsur masyarakat lainnya, memegang peranan penting dalam
melakukan revitalisasi kearifan lokal yang mulai terlupakan oleh masyarakat
setempat. Fenomena ini dipertegas oleh Astra, (2004: 115-116) yang menyatakan
pentingnya mendayagunakan atau merevitalisasi keriafan lokal untuk tujuan
115
pembangunan. Selanjutnya Astra memilah-milah upaya-upaya revitalisasi, yaitu
menggali serta merumuskan dengan tepat kearifan lokal yang “masih terpendam”
dalam berbagai aspek kehidupan atau budaya; memupuk kearifan lokal yang
sudah berfungsi dengan baik; dan merevitalisasi kearifan lokal secara sistematis
dan terencana sehingga dapat berfungsi secara tepat dan optimal.
Sebenarnya untuk pelestaraian tradisi lisan telah dicanangkan oleh
pemerintah pusat. Para pendiri Negara menetapkan kewajiban pemerintah untuk
“memajukan kebudayaan nasional Indonesia” dalam pasal 32 Undang-undang
Dasar 1945. Penguatan kebudayaan nasional juga dilakukan setelah amandemen
keempat UUD 1945 dimana pasal 32 menjadi dua ayat, di dalamnya dicantumkan
“Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya
bangsa.” Hal ini berarti bahwa adanya pengakuan terhadap bahasa-bahasa daerah
yang perlu dijaga, dan dilestarikan agar jumlah penuturnya bertambah.
Namun pada kenyataannya undang-undang ini belum sepenuhnya
dilaksanakan oleh pemerintah. Banyak bahasa daerah yang jumlah penuturnya
berkurang bahkan hampir punah, begitu pun tradisi lisan. Pemetaan, dokumentasi,
kodefikasi bahasa daerah dan tradisi lisan hanya dilakukan di wilayah-wilayah
yang secara ekonomis dan politis berkontribusi bagi pemerintah. Sebaliknya,
wilayah-wilayah yang kurang memberikan kontribusi terhadap pemerintah,
seolah-olah keberadaannya diabaikan. Padahal, menurut penjelasan pasal 32
sebelum diamandemen, kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang timbul
sebagai usaha bersama rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan nasional
merupakan kolektivitas budaya-budaya lokal yang ditanah air.
116
Sedyawati (2008: 162), mengungkapkan bahwa warisan budaya, baik yang
tangible maupun yang intangible, tidak boleh dibiarkan terbengkalai namun
sebaliknya arus tetap ditumbuhkan dalam iklim yang sesehat-sehatnya. Alih-alih
menguatkan, pemerintah memegang andil yang signifikan dalam kepunahan
warisan budaya. Pembubaran Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
dalam Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menghilangkan sandaran bagi
pengembangan kebudayaan. Secara normatif, hal ini berarti bahwa pemerintah
kini tidak menangani pelaksanaan kerja dan hanya berperan sebagai pengarah
kebijakan. Perlindungan peninggalan sejarah purbakala, serta berbagai warisan
budaya intangible tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah dan dilepas ke
khalayak ramai. Ini berdampak pada kemunduran dan kepunahan warisan budaya
milik etnis tertentu, yang secara politis dan ekonomis tidak memiliki posisi tawar
yang kuat dalam khalayak ramai.
Fenomena di atas sesuai dengan pendapat Piliang (2005b: 379), yang
mengatakan bahwa amandemen UDD 1945 harus dilihat dalam dua perspektif
sekaligus, yaitu perspektif budaya lokal dan perspektif budaya global. Berbagai
pengaturan dalam relasi antarbudaya, ekspresi budaya, dan otoritas budaya harus
tetap mempertimbangkan dualisme budaya yang muncul akibat benturan budaya
lokal dan global. Perubahan pasal ini, di satu pihak harus dapat menampung
berbagai perubahan kultural yang terjadi akibat proses globalisasi, namun di pihak
lain, harus dapat meminimalisasi pengaruh-pengaruh kontradiktif, pergeseran dan
konflik budaya yang timbul dari akses globalisasi.
117
Apabila tradisi lisan tidak dilestarikan, dikhawatirkan tradisi lisan tidak
akan bertahan menghadapi gempuran budaya global. Satu hal yang pasti, setiap
masyarakat selalu memiliki sistem yang mengatur hirarki dan status kekuasaan
bagi pembentukan identitas budaya. Sistem ini kemudian melahirkan konsepkonsep
dominasi, baik mayoritas maupun minoritas. Sistem ini terlihat dengan
jelas dalam dikotomi yang berdasarkan perbedaan etnik yang kemudian
tersublimasi menjadi persoalan etnisitas. Pada tataran aktualisasi, terjadi
pertarungan memperebutkan identitas budaya (Yusuf, 2005: 2-3).
Arus globalisasi saat ini semakin kuat, maka saat ini pula dirasakan
mengecilkannya peranan tradisi lisan di tengah kehidupan. Lalu di balik itu
tentunya bahasa dan sastra daerah ikut terpuruk. Tak berlebihan kemudian
menghilangnya seperangkat sistem kebudayaan lokal dipunyai oleh etnik tertentu.
Melihat gelagat itu, tampaknya sudah ada upaya pelestarian ataupun tindakan
penyelamatan yang ditempuh oleh sebagian orang atau lembaga baik secara
inovasi maupun secara konservasi.
Sekarang ini pula, bahkan jauh sebelumnya banyak upaya dari berbagai
lembaga kebudayaan melakukan penelitian, perekaman, dan pertunjukan dalam
melakukan usaha penyelamatan dan pelestarian. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)
misalnya, sejak tahun 1993 sudah melakukan kerja pelestarian tradisi lisan dengan
berbagai kegiatan antara lain; perekaman suara dan gambar, seminar nasional dan
internasional, festival, penerbitan jurnal, buku seri sastra lisan, dan sejak tahun
2009 Aosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan
Tinggi (DIKTI) memberikan kesempatan kepada dosen Negeri ataupun Swasta
118
untuk melanjutkan studi S2 dan S3 yang bermintat mengkaji tentang Kajian
Tradisi Lisan (KTL) yang ada di daerahnya masing-masing.
Upaya- upaya yang dilakukan dari berbagai lembaga kebudayaan untuk
melestarikan tradisi lisan, agar tradisi-tradisi yang ada di negeri ini tetap lestrari,
tetapi dengan gaya hidup modern sekarang ini, masyarakat yang cenderung
hedoistik dan berprilaku konsumerisme, melihat pertunjukan tradisi lisan (sastra
lisan) yang sebagai bagian dari masa lalu, sudah bukan zamannya lagi. Artinya,
penuturan tradisi lisan saat ini sudah tidak bisa lagi dikonsumsi dan harus
menghilang dari peredaran. Itulah sebabnya sebagaian masyarakat cemas dengan
gejala lenyapnya tradisi lisan ini. Sebagai orang sepertinya memandang tradisi
lisan sebagai sesuatu yang terancam, seperti etnis atau masyarakat pendukungnya,
yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Sebelum kehilangan maknanya, kiranya revitalisasi perlu dilakukan yang
merupakan suatu proses menjadikan warisan budaya sebagai bagian penting
dalam kehidupan manusia. Proses revitalisasi, tentunya, harus dilakukan secara
terorganisir oleh individu pelaku budaya, kelompok komunitas bersama-sama
pemerintah yang melakukan kesadaran dan merasa begitu pentingnya warisan
budaya. Kesadaran akan pentingnya kebudayaan beserta kearifan lokal yang
terkandung di dalamnya timbul sebagai akibat penemuan jatidiri, berlatar
belakang dari warisan leluhur yang khas dan tidak dapat ditemukan pada daerah
lain. Untuk itu segala produk hukum dan perundang-undangan harus dilandasi
nilai-nilai tradisi lokal sehingga akan ada perlakuan arif, kalau tidak bisa
dikatakan lebih adil bagi tradisi lisan.
119
Perlakuan arif bagi tradisi lisan adalah dengan adanya asumsi yang
menganggap bahwa budaya suatu masyarakat tertentu lebih dominan dari budaya
masyarakat lainnya. Pada tingkat pusat, pemerintah seolah-olah memberikan
perhatian penuh pada budaya masyarakat yang memberikan kontribusi besar pada
pembangunan. Perbedaan perlakuan seperti ini akan membuka celah atas
kematian budaya-budaya lokal lainnya, yang dianggap tidak memiliki peluang
untuk dikembangkan, dari segi finansial tidak menguntungkan lagi. Akhirnya
budaya-budaya lokal, bergerak sendiri-sendiri dan tertatih-tatih dalam upaya
pelestariannya. Jika masyarakat ini tidak mampu lagi menghidupkan kembali
nilai-nilai budaya lokal, maka hilang pula kekayaan budaya di tanah air. Kalaupun
budaya-budaya tradisional berusaha untuk dipertahankan, yang tampak di
permukaan hanyalah dalam konteks memanjangkan nilai-nilai semata (Hayat,
2003: 153).
Pada tingkat lokal, pemerintah daerah juga terbelit persoalan yang sama.
Perlakuan terhadap satu produk budaya dengan produk budaya lainnya terkesan
pilih kasih. Pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak karena segala kebijakan
bersumber dari pusat, yang sentralistik hegemonik. Pelaku budaya lokal juga
bergerak di tempat karena menunggu kebijakan dari pemerintah daerah dengan
berbagai regulasi yang ditetapkannya sendiri. Hal ini akan berdampak negatif
pada pelaku aktif kebudayaan. Mereka akan bersikap pesimis dan apatis terhadap
upaya pelestarian budaya lokal. Persoalan menjadi lebih krusial lagi jika pelaku
kebudayaan tidak lagi menaruh minat dan mengapresiasi eksistensi budaya lokal.
Produk budaya lokal dibiarkan tercerai berai, tanpa tuan, dan hanya tinggal
120
menunggu momen-momen kehancurannya. Fenomena tersebut sesuai dengan
pendapat Dhavamony (1995: 181) yang mengatakan bahwa sudah seharusnya
pemerintah proaktif untuk menghidupkan tradisi-tradisi lokal yang bekerjasama
dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat agar masyarakat tidak terbawa arus
globalisasi, yang menggiring masyarakat pada ranah kapitalisme.
121
BAB VI
FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA PADA
MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
Hendaknya fungsi revitalisasi tidak hanya pada tataran menyatakan yang
benar, tetapi juga harus sampai pada tataran implementasi dalam kehidupan
bermasyarakat. Sebagai aktivitas kultur yang mengandung aspek estetika dan
moral, tradisi lisan berfungsi berdasarkan atas kemampuan karya sastra tersebut
yang dapat menyebabkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya.
Sesuai dengan hakikat karya sastra, fungsi yang terpenting adalah berkaitan
dengan totalitas karya sastra terhadap totalitas mesyarakat. Berikut ini dipaparkan
berbagai fungsi tradisi lisan kantola, seperti fungsi tradisi, fungsi komunikasi,
fungsi sosial, dan fungsi pelestarian.
6.1 Fungsi Tradisi
Tradisi selalu berubah-ubah, tradisi terkait dengan memori, terutama
dengan apa yang diistilahkan oleh Maurice Halbwachs dengan ‘memori kolektif’
yang melibatkan kesenian (Giddens, 2003: 18). Selanjutnya Giddens
mengemukakan bahwa semua tradisi memiliki muatan normatif atau moral, yang
merupakan pembentuk karakter pengikat masyarakat lokal. Tradisi terkait erat
dengan proses interpretatif, di mana masa lalu dan masa sekarang saling terkait
dan saling terhubungkan. Tradisi tidak hanya menggambarkan dengan apa yang
sebenarnya dilakukan dalam suatu kelompok masyarakat akan tetapi, apa yang
seharusnya dilakukan. Tradisi adalah reproduksi atau kelanjutan masa lalu, dan ia
122
akan kehilangan sifat tradisinya bila berubah. Perubahan dianggap sebagai musuh
tradisi, yang mengancam keaslian dan keberlanjutan tradisi.
Menurut Giddens (2003: 24) tradisi terlalu parvasif untuk dibedakan dari
bentuk sikap dan perilaku kelompok masyarakat. Situasi yang pervasif semacam
ini cenderung merupakan kekhasan dari kebudayaan lisan. Setiap wilayah di tanah
air memiliki tradisi lisan, dengan kekhasan masing-masing, berpengalaman
terhadap pola-pola kehidupan masyarakat tradisional. Masyarakat Muna, yang
secara historis dan kekhasan tradisi lisan yang dimilikinya, telah mengambarkan
kesadaran tersendiri dalam menyikapi perubahan. Ungkapan syair kantola di
bawah ini mengindikasikan dalam hal menyikapi perubahan.
koemo peda kawea
tada mangka angkafimo
hamadi sokaghuluhano
kawea somokaghuluhanomo
pae wekokantidaha
artinya:
jangan seperti iringan awan
ke barat ikut ke timur ikut
tak tentu tempat berhenti
terkatung-katung di antara langit
Syair di atas menggambarkan kondisi masyarakat saat ini yang selalu saja
mengikuti arah angin perubahan yang dihembuskan oleh kapitalisme global yang
mencengkeram segala sendi-sendi kehidupan. Perubahan, yang dimetaforakan
dalam syair kantola ‘iringan awan’ menggambarkan betapa rapuhnya manusia,
tanpa daya, di tengah-tengah belantara dunia yang semakin luas dan tanpa sekat.
123
Dalam syair kantola tersebut pula lebih jauh digambarkan bahwa perubahan akan
terus dan terus berlanjut tanpa pernah diketahui kapan berhentinya. Sebenarnya
dalam alam pikiran masyarakat tradisional masyarakat Muna telah lama
menyadari akan terjadinya perubahan, hanya saja telah dikonstruksi oleh
hegemoni perubahan global sehingga mereka secara sadar maupun tidak sadar
akan keterombang ambingan yang tanpa arah dalam memandang dunianya.
Fungsi tradisi dalam revitalisasi tradisi lisan kantola diperkuat secara etik
dengan apa yang dikemukakan oleh Piliang (2004: 422), yang menegaskan bahwa
di tengah deru globalisasi, di tengah gelombang komoditi yang dahsyat dan cepat,
di tengah-tengah hutan rimba pencitraan melalui media massa, perubahan
masyarakat yang tanpa arah ini akan mengancam integritas sosial, sistem
normatif, dan keutuhan identitas lokal. Nilai-nilai tradisi ini akan semakin jauh
dari masyarakat, termasuk tradisi lisan kantola, tidak saja pada masyarakat
modern, tetapi juga pada masyarakat tradisional di Kabupaten Muna, sebagai
pemilik dan pewaris tradisi lisan kantola.
Lebih lanjut Callinicos (2008: 45-46) mempertegas keberadaan
masyarakat modern, di mana masyarakat modern merepresentasikan sebuah gerak
pemisahan diri secara radikal dari sifat statis masyarakat tradisional. Masyarakat
modern dicirikan oleh usaha-usaha mereka untuk secara sistematis mengontrol
dan mengubah lingkungan fisik mereka, yang disebarluaskan melalui pasar dunia
yang terus berkembang sehingga melahirkan sebuah proses perubahan yang
berlangsung secara cepat. Di satu sisi relasi-relasi sosial, praktek-praktek
kebudayaan, dan keyakinan-keyakinan keagamaan yang didasarkan pada tradisi,
124
tersapu bersih oleh badai perubahan yang terus berlangsung. Namun, disisi yang
lain masyarakat modern tidak sanggup memenuhi dua prasyarat yang paling
mendasar dari peradaban manusia, yaitu kebutuhan manusia untuk dapat hidup
harmonis dengan sesama munusia, serta kebutuhan manusia untuk dapat hidup
secara harmonis dengan lingkungannya.
Dalam hubungannya dengan lingkungan, pada kelompok masyarakat
tertentu, terdapat sebuah tradisi yang tetap dijaga keberadaannya hingga saat ini.
Mereka beranggapan bahwa lingkungan alam dan manusia sama-sama makhluk
Tuhan sehingga perlu dijaga keseimbangannya diatara keduanya. Sebagai contoh
masyarakat tidak memperkenankan sesorang memetik buah pada malam hari.
Mungkin bagi sebagian orang ini hanya sebagai pemali atau tabu. Namun, jika
ditelusuri lebih jauh pelarangan merupakan sikap positif masyarakat yang
menganggap bahwa seperti manusia, pohon juga butuh istrahat di malam hari.
Sebab itu tidak boleh ‘diganggu’ dengan memetik buahnya (Ibrahim, 2008: 147).
Apa yang terdapat di dalam alam, baik lingkungan biotik maupun lingkungan
abiotik, merupakan karunia Tuhan. Dengan demikian, pelestarian dan
kelangsungan hidup alam harus tetap dipertahankan sehingga bermanfaat bagi
kehidupan manusia pada masa yang akan datang.
Sikap pralogis semacam ini, menurut Steven Lukes (Gibbons, 2002: 60),
dianggap sebagi ramah tamah dan bertentangan dengan pemikiran logis
masyarakat modern, akan menimbulkan sikap penghargaan terhadap lingkungan.
Langkah awal harus dimulai dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana untuk
dapat melakukan sesuatu yang lebih besar. Manusia dan alam harus hidup
125
berdampingan dengan harmonis, bukan dengan cara memperlakukan lingkungan
secara destruktif. Jika hal ini terjadi, maka untuk mewujudkan masyarakat yang
lebih beradab dan berkeadilan tidak akan dipenuhi oleh masyarakat modern.
Berdasarkan apa yang dikemukakan Piliang dan Callinicos di atas
mengindikasikan bahwa perubahan dilakukan secara sistematis, terencana, dan
tepat sasaran. Perubahan akan mengancam segala aspek-aspek kehidupan
masyarakat tradisional yang bisa dikatakan statis namun penuh makna, bukan
dinamis namun tanpa makna, seperti yang melanda masyarakat modern. Dalam
beberapa dekade lalu, ikatan sosial komunitas lokal masih kuat, namun pesatnya
teknologi komunikasi global, masyarakat tradisional telah berubah secara radikal.
Gideens (2003: 76) menganalogikan hal ini sebagai sebuah dunia, yang mencakup
semua orang adalah sebuah dunia di mana tradisi-tradisi lama tidak menghindari
kontak, tidak hanya dengan tradisi lisan, tetapi juga dengan banyak cara hidup
alternatif. Dalam syair kantola berikut ini dapat memberikan alternatif terhadap
perubahan yang telah melanda masyarakat tradisional saat ini.
dakumala dalumilili
dawawehi dhunia daekapihi
kambea modadi newunta
wuntano nepadhughi dhughi
Artinya:
kita pergi keliling alam
kita mencari bunga yang bermata
hidupnya di tengah-tengah
yang kita harapkan
126
Syair di atas memberikan gambaran tentang solusi alternatif bagaimana
menyikapi arus perubahan tersebut, apa yang sebaiknya dan seharusnya ditempuh.
Tradisi dihancurkan oleh modernitas, namun kolaborasi antara tradisi modernitas
sangat penting dalam tahap perkembangan sosiokultural masyarakat. Masyarakat
tradisional yang statis, terjebak dalam dualisme antara lokalitas dan globalitas.
Disatu sisi, masyarakat harus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang
diwariskan secara turun-temurun, namun disisi lain tidak dapat menghindari
perubahan secara dramatis yang memasuki pola-pola kehidupan mereka.
Fenomena ini menurut Zait (2004: 336), bahwa adanya kesadaran terhadap
hubungan dialektis antara masa lalu dan masa kini, merupakan fenomena yang
harus diterima. Menerima hubungan dialektis yang mengaitkannya dengan masa
lalu, dan berangkat dari kekinian dalam memahami masa lalu. masa lalu bukanlah
satu gugusan, tetapi merupakan kecenderungan yang merefleksikan kekuatan.
Perubahan akibat modernisasi bukanlah sesuatu yang haram, yang harus ditolak
mentah-mentah. Modernisasi mampu memberikan kemudahan dalam berbagai
aspek kehidupan. Dengan demikian, modernisasi tidak serta merta diadopsi secara
keseluruhan, melainkan memilih sebagian dengan cara menegasikan sebagian dan
mengambil sebagian pula.
Modernisasi terus tumbuh dengan produk-produk budaya globalnya, tetapi
warisan budaya lokal harus terus dipertahankan dan dipelihara, serta masyarakat
tradisional selalu menanamkan relasi-relasi sosial, praktek-praktek kebudayaan,
dan keyakinan-keyakinan yang didasarkan pada tradisi. Tradisi kecil mampu
mengembangkan pola-pola hidup harmonis terhadap lingkungan dan dengan
127
sesama manusia, hal yang tidak dijumpai pada tradisi besar yang secara sistematis
terus mengekploitasi manusia dan lingkungan sekitar mereka.
Menurut pandangan Giddens (2003: 83) bahwa dimasa sekarang,
kehancuran komunitas lokal yang hidup ditengah-tengah masyarakat modern,
telah mencapai puncaknya. Tradisi-tradisi kecil hidup atau secara aktif dihidupkan
selama fase-fase awal perkembangan masyarakat modern, telah semakin
mengarah pada kekuatan evakuasi budaya. pembagian antara tradisi besar dan
tradisi kecil, sekarang hampir sepenuhnya menghilang. Hal ini bertolak belakang
dengan apa yang dikemukakan Astra (2009: 125) pada bab sebelumnya. Tradisi
kecil mampu hidup berdampingan dengan sejumlah unsur budaya yang berasal
dari tradisi besar. Tradisi kecil mampu berfungsi sebagai filter, sensor, dan
adaptor terhadap budaya-budaya luar. Hal ini dipergegas oleh Sztompka (2007:
75) yang menyatakan bahwa tradisi semacam onggokan gagasan dan material
yang dapat digunakan oleh setiap tindakan kini dan berdasarkan pengalaman masa
lalu membuka celah untuk membangun masa depan.
Untuk mengaktualisasikan fungsi tradisi kecil sudah tentu memerlukan
berbagai sarana, baik berupa struktur-struktur dalam tata masyarakat yang
memungkinkan untuk dijalankan dan diimplementasikan. Keberadaan lembagalembaga
Pembina, baik yang dikelola oleh pemerintah daerah, kalangan
akademisi, maupun kalangan swasta, dan masyarakat pendukungnya. Komponenkomponen
masyarakat yang bergerak di bidang pengkajian maupun pelestarian
warisan budaya lokal, merupakan sarana struktur yang diperlukan untuk
128
mengaktualisasikan fungsi-fungsi tradisi kecil yang tersubordinasi oleh tradisi
besar.
6.2 Fungsi Komunikasi
Kekhasan tradisi lisan kantola merupakan komunikasi yang terjadi dalam
berbalas pantun antara kelompok laki-laki dan perempun. Bahasa yang digunakan
dalam tradisi kantola adalah diungkapkan secara puitik dan metaforik, dipadukan
dengan gerak-gerakan yang khas pula. Kemampuan berkomunikasi dalam tradisi
lisan kantola akan membutuhkan kelihayan dalam melangsir bait-bait syair tradisi
lisan kantola. Kebenaran dan informasi yang disampaikan dalam komunikasi
dalam tradisi lisan kantola merupakan kualitas individu yang diramu dalam suatu
pola kebersamaan. Dengan demikian, komunikasi dalam tardisi lisan kantola
dapat menjalankan fungsi informatif dan komunikatifnya. Menurut Sperber dan
Wilson (2009: 42), maksud informatif berfungsi untuk menginformasikan sesuatu,
sedangkan maksud komunikatif berfungsi untuk menginformasikan maksud
informatif tersebut. Maksud komunikatif dapat dipenuhi setelah maksud
informatif dimengerti oleh pendendang ataupun penikmat tradisi lisan ini.
Tradisi lisan kantola dibangun dalam konstruksi sebait-bait kata, frasa,
maupun susunan kalimat yang merupakan ekspresi perasaan dan pendapat peserta
kantola. Ciri kecepatan, ketepatan, dan kecerdasan menyusun bait-bait syait
kantola menjadi tolak ukur kemampuan seseorang dalam menyampaikan
pandangan dan pendapatnya dalam bentuk bahasa metaforik kepada peserta lain.
Dalam melantunkan kantola perserta harus menyampaikan pantun dengan bahasa
yang santun dan tidak bertentangan dengan budaya masyarakat atau individu yang
129
menjadi sasaran maksud kantola. Kalaupun ditujukan kepada peserta yang
mengarah pada tabiat, watak atau rahasia pribadi peserta kantola, penyampaian
bahasanya akan dipilih bahasa yang santun dan tidak menyinggung perasaan pada
seseorang tempat ditujukannya syair kantola tersebut. Komunikasi dalam tradisi
lisan kantola biasa yang menggunakan bahasa berkesan, menyindir, dan
sederhana, tetapi tak jarang pula ditemukan bahasa kantola yang sulit untuk
dipahami. Biasanya untuk memahami lebih dalam tentang hal itu, akan
melibatkan kecermatan, konsentrasi yang tinggi dan berpikir filasafat. Hal ini
sesuai dengan pandangan Piris dkk. (2000:8) yang menyatakan bahwa kantola
berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kecermatan berbahasa, seperti
dalam ungkapan berikut.
Lambu pata nepondoiki
amambanu aengkorahiea kengkorahano
Artinya:
rumah yang saya tiada bisa
malu menduduki kursinya
Syair kantola di atas berisi nilai etika mengenai sikap malu seseorang, sikap malu
untuk berbuat kesalahan. Dalam masyarakat tradisional, yang masih menjunjung
tinggi nilai-nilai adat yang berlandaskan pada tradisi, sikap malu ini merupakan
dasar yang paling hakiki dalam kehidupan masyarakat. Sikap malu ini tidak saja
diterapkan pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain. Sikap ini, tentu saja
menimbulkan sikap yang menghargai dan menghormati eksistensi orang lain
diluar dirinya. Apa yang hendak dikomunikasikan melalui ungkapan di atas harus
130
ditanamkan pada generasi penerus sejak awal. Internalisasi sikap malu sudah
mulai terbangun semenjak mereka telah mampu bersosialisasi dengan masyarakat
sekitar sehingga nantinya tercipta keharmonisan antara sesama masyarakat.
Fenomena ini, menurut Syam (2005: 38) bahwa hal ini harus bermula pada
diri sendiri, di tengah-tengah lembaga-lembaga sosial di mana dia berada.
Internalisasi selanjutnya diterapkan pada lingkungan sekitarnya. Misalnya, ucapan
salam pada saat meninggalkan dan memasuki rumah. Begitu pula pada saat
memasuki rumah orang lain. Kebiasaan ini harus terus ditumbuhkan dalam diri
generasi penerus sejak dini. Dengan demikian, dalam diri mereka telah tertanam
sikap sopan santun dan penghargaan terhadap orang lain. Selain itu, ungkapan ini
juga mencerminkan sikap adaptatif manusia jika memasuki lingkungan yang baru,
di mana penghormatan terhadap budaya setempat harus dijunjung tinggi oleh
siapa pun.
Sebagian besar yang terselubung dalam tradisi lisan kantola mengandung
struktur nilai untuk menginformasikan dan memotivasi pernyataan-pernyataan
faktual adalah merupakan bagian dari apa yang dimaksud ideologi. Ideologi
secara kasar adalah segala cara yang dikatakan dan dipercayai, terhubung dengan
struktur kekuasaan dan relasi-relasi yang terdapat dalam masyarakat. Ideologi
bukan sekedar kepercayaan-kepercayaan yang berakar dalam, sering kali disadari
terdapat dalam setiap individu, tetapi lebih khusus kecara-cara merasa, menilai,
memandang, mempercayai yang berhubungan dengan pemeliharaan dan
reproduksi kekuatan sosial. Fakta bahwa kepercayaan macam itu hanyalah
kebiasaan privat yang digambarkan dalam karya sastra (Eagleton, 2006: 20).
131
Tradisi lisan kantola biasanya berisi pandangan manusia tentang alam dan
dunianya. Bahwa setiap individu masyarakat dituntut untuk dapat menempatkan
dirinya dalam masyarakat serta mampu menciptakan suasana keragaman yang
dapat menjalin ikatan antara sesama manusia dalam hubungan kekeluargaan
sampai ke tempat kelompok besar, yaitu masyarakat. Namun, jangan sampai
terbawa oleh situasi yang menggiring ke arah tak menentu, terombang ambing
oleh keadaan dunia yang penuh jebakan, kesenangan duniawi semata.
6.3 Fungsi Sosial
Tradisi lisan kantola didendangkan, didengarkan dan dihayati secara
bersama-sama pada peristiwa tertentu, dengan maksud dan tujuan tertentu pula.
Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain berkaitan dengan pasca perkawinan,
syukuran, khitanan, pasca panen dan acara lain yang tujuannya menghibur.
Tradisi lisan, pada dasarnya, sangat digemari oleh warga masyarakat dan biasanya
didengarkan bersama-sama karena mengandung gagasan, pikiran, ajaran, nasehat,
dan nilai-nilai moral. Gagasan ini berpengaruh pada sikap dan perilaku
masyarakat tradisional yang memiliki ikatan kolektivitas yang kuat. Keberadaan
produk budaya lokal ini dianggap sebagai bukti historis kreativitas masyarakat
yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat solidaritas sesama
masyarakat.
Semangat solidaritas yang dihasilkan dari tradisi lisan kantola berdampak
positif pada menguatnya ikatan batin di antara anggota masyarakat. Dalam
konteks ini, bisa dilihat bahwa tradisi lisan juga memiliki fungsi sosial, dengan
demikian, bisa dikatakan bahwa memudarnya tradisi lisan kantola di masyarakat
132
merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial di antara mereka,
dan sebaliknya. Pertanyaan ini sering mengemuka di kalangan pemerhati budaya
yang menilai ikatan sosial budaya suatu masyarakat sudah beralih ke sikap
individualistis dan kompromistis, bukan lagi pencerminan dan perwujudan dari
sistem budaya yang melekat pada masyarakat tradisional. Syair kantola berikut ini
memberikan gambaran ikatan sosial dalam masyarakat lokal.
noporomu mina naseise
nopogaati mina nakogholata
Artinya:
berkumpul tidak bersatu
berpisah tidak berantara
Syair kantola di atas mengisyaratkan bahwa setiap manusia baik sebagai individu
maupun sebagai kelompok membutuhkan orang lain atau kelompok lain dalam
mewujudkan tujuan hidupnya. Mereka saling kerjasama, saling mendukung dan
saling melengkapi. Ketergantungan manusia yang satu dengan manusia yang lain
menurut masyarakat Muna, ibarat anggota tubuh manusia yang tidak mungkin
dipisahkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Semua anggota tubuh
manusia mempunyai tugas, tanggung jawab dan fungsi masing-masing untuk
mendukung fungsi tubuh itu secara keseluruhan. Demikian halnya dengan
masyarakat Muna misalnya dalam menjalin hubungan antarstrata sosial (kaomu,
walaka, dan maradika), masing-masing mempunyai hak, kewajiban, tugas
tanggung jawab dan fungsi, akan tetapi saling membantu, saling mendukung dan
saling melengkapi sesuai norma-norma adat yang telah disepakati bersama.
Tradisi lisan kantola termasuk khazanah sastra yang penting sebagai bagian utama
133
dari budaya sastra masyarakat. Ungkapkan isi syair tentang asal-usul dalam
masyarakat yang mengandung maksud legitimasi yang berhubungan dengan
kekuasaan.
Realitas sosial di atas yang menyangkut legitimasi yang berhubungan
dengan kekuasaan dalam masyarakat menurut Syam (2005: 39), bahwa legitimasi
berfungsi untuk membuat objektivisi yang telah dilembagakan menjadi masuk
akal secara subyaktif. Subyektifitas menggiring masyarakat terpaku pada polapola
yang ditetapkan pemerintah daerah dan terus direproduksi sebagai perilaku
atau tindakan. Proses habitualisasi ini terus mengendap dalam masyarakat dan
memberikan pemahaman diri dan tindakan mereka, dalam konteks kehidupan
sosiokultural melalui proses pentradisian. Masyarakat Muna mengenal tradisi
lisan kantola sebagai bentuk tradisi sastra yang paling dominan. Melalui tradisi
lisan inilah masyarakat menjalankan fungsi sosialnya, dan mengembangkan
pengetahuan dan pola sikap atas kehidupannya.
6.3.1 Fungsi Pengendalian Sosial
Dalam tulisan ini akan membahas tentang keberadaan tradisi lisan kantola
sebagai alat pengendalian sosial pada masyarakat Muna. Dinamika masyarakat
dan kebudayaan membawa berbagai bentuk perubahan, seperti perubahan pola
hidup, gaya hidup dan pandangan hidup. Perubahan juga terjadi pada aktivitas
kultural termasuk perubahan pada sistem sosiokultural. Tradisi lisan kantola
sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang ada pada
masyarakat Muna yang menjadi pijakan kehidupannya.
134
Dalam melakukan interaksi sosial setiap komunitas sering terjadi
perbedaan pandangan. Tentunya diharapkan masalah tersebut dapat diselesaikan
dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula, sehingga terwujud
suatu keseimbangan (social equilibrium) upaya untuk mewujutkan kondisi
seimbang di dalam masyarakat disebut pengendalian sosial (social control).
Pengendalian sosial sebenarnya sudah ada semenjak awal kehidupan manusia.
Pada bentuk pergaulan hidup yang paling sederhana, pengendalian sosial
merupakan suatu sarana untuk mengorganisasikan perilaku sosial dan budaya.
Joseph S. Roucek (Soekanto, 1993: 205) dalam salah satu karyanya yang berjudul
Sosial Control menyatakan bahwa pengendalian sosial merupakan,
“….a collective term for those processes, planned or implanned, by
which individuals are taught, persuaded, or compelled to conform to the
usages and live-values of groups.
Pernyataan Roucek di atas merupakan hal yang menarik, bahwa dalam proses
pengendalian sosial terdapat unsur pemaksaan dalam menerapkan nilai-nilai
dalam hidup bermasyarakat suatu kelompok. Nilai-nilai yang mengikat
masyarakat dalam suatu kelompok dapat terlaksana jika penerapan nilai-nilai
tersebut diikuti dengan unsur pemaksaan melalui berbagai pendekatan dan
sosialisasi. Pendekatan dan sosialisasi ini umumnya dilakukan oleh pemegang
kekuasaan dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, pengendalian sosial tidak
lepas dari elemen penguasa dalam struktur budaya suatu kelompok masyarakat
tertentu.
Berkaitan dengan penjelasan di atas, simbol-simbol agama misalnya, tidak
hanya menjadi petunjuk arah dari suatu praktik yang berhubungan dengan
135
religiusitas, tetapi juga legitimasi atas keberadaan dan kepentingan. Agama
berfungsi mengesahkan keberadaan dan tindakan-tindakan yang bisa saja
menyimpang dari substansi yang hakiki karena simbolisasi agama telah mewakili
suatu realitas keagaaam itu sendiri. Agama dipraktikkan sebagai bahan dari proses
pengendalian sosial dan identifikasi diri untuk lebih menekankan pada pemosisian
individu, kelompok, dan institusi (Abdullah, 2006: 9).
Ada tiga prasyarat untuk melakukan pengendalian sosial yang
dikemukakan oleh Soekanto (1993: 208) yaitu, (1) suatu kelompok pengendalian
prilaku kelompok lain; (2) suatu kelompok mengendalikan perilaku anggotaanggotanya;
dan (3) pribadi-pribadi mempengaruhi tanggapan dari pihak lain.
Dengan demikian, pengendalian sosial berproses pada tiga tingkatan, yaitu dari
kelompok terhadap kelompok lainnya, kelompok terhadap anggotanya, dan
pribadi terhadap pribadi lainnya. Bentuk-bentuk sosiokultural masyarakat sangat
penting untuk menentukan arah pengendalian sosial. syair tradisi lisan kantola
berikut ini mencerminkan salah satu usaha untuk melakukan pengendalian sosial.
andoa naando, andoa naando
insaidi naando, insaidi naando
Artinya:
mereka punya, mereka punya
kita punya, kita punya
Syair di atas menggambarkan tentang masyarakat Muna sebagai masyarakat
tradisional, umumnya menggantungkan hidupnya sebagai petani ladang. Ladangladang
mereka berlokasi tidak jauh dari rumah mereka, tetapi juga ada yang
berlokasi di daerah pegunungan. Ladang-ladang tersebut, terutama di daerah
136
pegunungan, tidak terdapat batas-batas yang menegaskan antara pemilik yang satu
dengan pemilik lainnya. Namun, masyarakat tidak ada yang melanggar batasbatas
tertentu, apalagi menggarap ladang orang lain. Masyarakat Muna telah
memiliki kesadaran bahwa apa yang mereka miliki, itulah yang menjadi hak
mereka tanpa harus merebut sebagian atau seluruh ladang milik orang lain.
Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di alam ini, tentunya ada pemiliknya
masing-masing. Olehnya itu sudah saatnya masyarakat Muna menumbuhkan
kesadaran yang cukup mendalam pada diri mereka sendiri.
Fenomena ini, menurut Sulistyowati (2003: 104) ditentukan oleh faktor
eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah faktor pemimpin, baik pemimpin
pemerintah, adat, atau keluarga. Dalam hal ini, nama besar Witeno Wuna Barakati
dan lembaga adat sangat dominan dalam menentukan proses ketaatan dan
kepatutan masyarakat setempat. Sedangkan faktor internal adalah faktor
pemahaman diri terhadap apa yang sedang dan akan berlangsung. Hanya saja jika
ketaatan yang muncul berasal dari faktor eksternal, penghargaan terhadap orang
lain sulit dicapai. Tetapi jika ketaatan yang tumbuh dalam warga adalah karena
faktor internal, maka penghargaan terhadap nilai sosial budaya yang ada akan
tinggi, sebab mereka sudah memahami apa yang seharusnya dilakukan.
Ungkapan tradisi lisan kantola di atas mengisaratkan sikap kejujuran,
hidup bersih dengan tidak mengambil hak orang lain. Selain itu, ungkapan ini juga
dengan tegas mengungkapkan penghargaan terhadap kepemilikan seseorang atau
hak-hak individu. Jika mampu menerapkan sikap jujur ini dalam kehidupan
sehari-hari, maka perilaku korupsi menyebar di mana-mana, tanpa memandang
137
bulu siapa perilaku dan korbannya. Yang paling dirugikan adalah rakyat kecil
yang tidak memiliki daya saing dan kekuatan untuk melawan sikap ketiranian ini.
Saling klaim, caplok mencaplok, rampas-merampas milik orang lain bukan lagi
hal-hal yang tabu dan secara diam-diam dilakukan, tetapi sudah secara terangterangan
dilakukan di depan mata. Perilaku negatif akan berdampak negatif pula
pada orang lain. Selain menyengsarakan rakyat banyak, juga akan terjadi
kontinuitas perilaku pada orang lain. Sebagaimana terungkap dalam syair kantola
di bawah ini.
Setanga mate aewei kamotugha
Tamaka kawulehaku doalae bhaindo
Tamaka kamotugha kawulehamani
koemo motehi mada kaawu daeghawa dua dawu
Artinya:
setelah mati membongkar hutan
tapi hasilnya diambil orang
tetapi hutan kita punya lelah
tidak perlu takut kita akan peroleh bagian
Syair di atas mengungkapkan tentang segala upaya yang telah diusahakan dengan
bersusah payah dan bersimbah peluh namun hasilnya dirampas dan dijarah orang
lain. Salah satu hal yang hendak dicapai dalam pengendalian sosial adalah
terwujudnya keseimbangan sosial. Namun, masyarakat di belahan dunia mana
pun, tidak selalu taat dan patuh pada adat istiadat dan norma-norma yang berlaku
dalam masyarakat. Deviant, senantiasa menentang peraturan yang berlaku, selalu
timbul dalam suatu kelompok masyarakat. Fenomena ini sesuai dengan yang
138
dikemukakan oleh Kimball Young (Soekanto, 1993: 209) yang berpendapat
bahwa tujuan pengendalian sosial agar terjadi konformitas, solidaritas, dan
kesinambungan dari suatu kelompok atau masyarakat. Olehnya itu, desas-desuslah
merupakan cara yang ampuh untuk memaksakan terjadinya konformitas pada
masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat, (1998: 185-186) bahwa untuk menghindari
desas-desus masyarakat, orang akan berupaya untuk tidak berbuat sosial,
melanggar adat dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Tapi hal ini
tidak dapat diterapkan pada masyarakat heterogen. Efektivitas pengendalian sosial
senantiasa bergantung pada perubahan-perubahan organisasi sosial dan nilai-nilai
masyarakat yang bersangkutan. Perilaku negatif ini harus dikekang semaksimal
mungkin sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat yang dapat berakibat
pada macetnya tatanan sosial yang telah dibina selama ini. Untuk itu diperlukan
berbagai cara dalam mengendalikan ketegangan-ketegangan sosial, seperti yang
dikemukakan Koentjaraningrat, yaitu (1) mempertebal keyakinan akan kebaikan
dan manfaat adat istiadat; (2) memberikan ganjaran kepada warga yang taat
kepada adat istiadat; (3) mengembangkan rasa takut untuk menyeleweng karena
adaya ancaman; dan (4) mengembangkan rasa malu untuk menyeleweng dari adat
istiadat.
Pentingnya lembaga-lembaga atau pun sarana pengendalian sosial,
bergantung pada konteks sosiokultural di mana pengendalian sosial tersebut
beroperasi. Efektivitas pengendalian sosial juga bergantung pada perubahanperubahan
sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat. Muna, dengan karakteristik
139
masyarakat dan budayanya yang berbeda dengan wilayah lain di nusantara,
memiliki struktur adat yang bertumpu pada adat masing-masing. Konsep adat ini
membentuk atau nilai-nilai yang dilaksanakan oleh masyarakat. Nilai-nilai yang
mengikat masyarakat dalam suatu kelompok dapat terlaksana jika penerapan nilainilai
tersebut diikuti dengan unsur pemaksaan melalui berbagai pendekatan dan
sosialisasi. Pelanggaran terhadap nilai-nilai akan berakibat pada pemberian sanksi
kepada yang bersangkutan.
Aktivitas kultural dan adat istiadat dapat dideskripsikan menjadi acuan
terhadap hukum yang berlaku dalam masyarakat. Tradisi lisan kantola yang
merupakan landasan pijak bagi masyarakat Muna dalam menentukan kebenaran
juga menyisaratkan adanya aturan atau norma-norma hukum yang harus dipatuhi.
Adat istiadat merupakan dasar hukum yang dapat dijadikan alat pengendalian
sosial, artinya bahwa sistem pengendalian sosial masyarakat yang berupa hukum
ada dalam semua masyarakat, dan karena itu bersifat universal. Dalam suatu
masyarakat, tidak seluruh adat istiadat beribadat hukum, dan hanya pelanggaran
terhadap sebagian dari adat istiadat yang dapat berakibat hukum.
Hukum merupakan suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat
universal, dan dalam komunitas yang lebih kecil pengendalian sosial dilakukan
dengan kegiatan-kegiatan tertentu, dan tidak terutama karena ketaatan yang
mutlak kepada adat (Koentjaningrat, 1998: 188) Apabila terjadi pelanggaran adat
istiadat yang menimbulkan ketegangan, maka akan diupayakan pemecahannya
melalui pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang berkompoten untuk
menyelesaikannya.
140
Hukum yaitu suatu kegiatan kebudayaan yang berfungsi sebagai alat
pengendalian sosial. Menurut Pospisil (Koentjaraningrat, 1998: 190) hukum
memiliki empat ciri utama yaitu attributes of law, yaitu attribute of authority,
kegiatan kebudayaan yang disebut hukum adalah keputusan orang-orang atau
golongan yang berkuasa dalam masyarakat, yang dapat merendakan keteganganketegangan
dalam masyarakat; attribute of intention of universal application,
keputusan pemegang kuasa harus mengandung perumusan kewajiban pihak
pertama terhadap pihak kedua dan sebaliknya; attribute of sanction, keputusan
pihak yang berkuasa harus diikutkan dengan sanksi yang sudah ditetapkan.
Kebudayaan dalam kaitannya dengan pengendalian sosial bergantung pada
organisasi sosial dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Perkembangan hubungan
dalam organisasi sosial menyebabkan terjadinya pembentukan kebiasaan,
kerangka mentalitas, dan konteks pengalaman individual. Perkembangan
kepribadian, sebagai hasil pengalaman yang penting bagi pengendalian sosial
adalah timbulnya kesadaran sosial. Memahami pengendalian sosial diperlukan
pengetahuan tentang proses-proses dan unsur-unsur yang berpengaruh terhadap
pembentukan kepribadian. Dalam teori revitalisasi, tipe kepribadian dominan atau
karakter sosial, menjamin istilah erich Fromm dapat berperan dalam melestarikan
budaya. dalam setiap kebudayaan pasti ada kemungkinan-kemungkinan masuknya
unsur-unsur tertentu ke dalam kepribadian, hal ini mendorong individu untuk
menata ulang pengalaman kultural individu dalam pengembangan dan
pelestariannya.
141
6.3.2 Fungsi Kritik Sosial
Pada era modern seperti saat ini kecenderungan yang paling mencolok
adalah perubahan menuju globalisasi. Modernitas menimbulkan efek ambivalen,
selain menguntungkan, modernitas juga merusak, dan kerusakan itu bisa sangat
fatal. Globalisasi tidak hanya berdampak positif terhadap segala aspek kehidupan,
tetapi juga berdampak negatif dengan ditandainya berbagai bentuk hegemonisasi,
termasuk aktivitas kultur, yang menyebabkan tingkat ketergantungan dalam
segala aspek kehidupan sangat tinggi. Nilai-nilai lokal, yang menampilkan bentuk
kesederhanaan dan kebersamaan, mengalami pergeseran ke arah hedoisme dan
individualisme.
Masyarakat sudah terlalu jauh memisahkan diri dengan masa lalu, bahkan
ada yang ingin memberangus masa lalu. Jauhnya memisahkan diri dengan masa
lalu sehingga etika dan moral yang terkadang dalam tradisi lisan merupakan
bentuk kritik terhadap kondisi masyarakat saat ini, sudah mulai terlupakan.
Modernisasi berusaha menghancurkan kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang penuh
dengan kearifan lokal. Masyarakat tidak akan pernah menjadi masyarakat bila
kaitan dengan masa lalunya tidak ada. Menurut Sztompka (2007: 65), masyarakat
ada setiap saat dari masa lalu ke masa yang akan datang. Kehadirannya justru
memulai fase antara apa yang telah terjadi di masa lampau dan apa yang akan
terjadi. Apa yang terdapat saat ini merupakan warisan gagasan, keyakinan, norma,
dan nilai-nilai masa lalu. Hal ini berarti masyarakat tidak dapat menafikan
keterkaitan masa lalu dengan masa kini ataupun masa yang akan datang.
142
Masyarakat Muna merupakan masyarakat yang majemuk dengan berbagai
pola interaksi yang bermacam-macam pula. Perilaku masyarakat terikat pada tata
nilai dan norma-norma yang berlaku secara turun-temurun. Seiring dengan
perubahan pola hidup masyarakat tradisional manuju pola hidup masyarakat
modern, tata nilai yang bersumber dari kearifan lokal tidak lagi menjadi tuntunan
hidup dalam berinteraksi. Globalisasi mampu merontokkan segala bentuk
kebiasaan-kebiasaan yang berbau tradisional dan primordialisme. Perubahan pola
hidup masyarakat tradisional tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Tata
nilai yang bersumber dari adat istiadat tidak lagi mampu membendung terciptanya
pola-pola hidup yang dianggapnya modern. Segala hal yang berbau modernitas
diserap dan dianggap sebagai sesuatu yang menjadi keharusan dalam hidup ini.
Perkembangan globalisasi telah menciptakan produk global, yang
intensitasnya mampu melampaui akal sehat. Pada hakekatnya, budaya global
merupakan kebudayaan yang terbentuk akibat berbagai bentuk relasi ekonomi
berskala global, khususnya relasi kapitalisme global, yang memiliki otoritas
dalam menentukan dan mengontrol arah kebijakan (Piliang, 2005b: 375). Budaya
global telah memunculkan sikap kompromistik, individualistik, dan konsumtif.
Nilai-nilai tradisional, yang bersumber pada kearifan lokal, mulai tergantikan oleh
sistem yang dihasilkan oleh budaya global. Sebagai salah satu kearifan lokal,
tradisi lisan juga mulai tergantikan oleh produk-produk budaya global melalui
media yang sangat massive dalam pendistribusiannya, yang bertumpu pada mesin
kapitalisme yang sangat kuat. Sebagai aktivitas kultur, tradisi lisan, mampu
143
menghasilkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat didalamnya. Misalnya
dalam ungkapan tradisi lisan kantola berikut ini.
koise notolori kalangke
bahi taohala osampu
Artinya:
jangan kamu terlalu tinggi
nanti turunnya salah
Syair tradisi lisan kantola di atas merefleksikan pencapaian individu dalam
menapaki puncak tertinggi dalam kehidupan masyarakat, yaitu kekuasaan. Pada
dasarnya, manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang telah
diperolehnya. Menurut Durkheim (Sztompka, 2007: 65), sifat alami manusia
adalah buas, egoistis, individualistis, yang siap bertempur untuk mempertahankan
kepentingannya tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Fenomena ini lebih
jauh lagi ditegaskan oleh Piliang (2005b:119) yang mengemukakan bahwa
penguasaan terhadap orang lain, sikap mental merampas, hedoisme selalu saja
berkembang subur dalam masyarakat dengan mengahalkan berbagai macam cara.
Foucault (Piliang, 2005b: 112), mengungkapkan bahwa kekuasaan
tidaklah semata-mata dilanggengkan melalui cara-cara represif, akan tetapi
melalui berbagai tawaran-tawaran pengetahuan dan kesenangan. Kekuasaan selalu
berusaha menghasilkan sesuatu yang baru dalam rangka melanggengkan
ketergantungan setiap orang. Pelanggengan kekuasaan dilakukan dengan memberi
ruang hidup yang seluas-luasnya bagi pelepasan berbagai bentuk hasrat di dalam
144
kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan itu sendiri dianggap menghalangi prinsip
kebebasan yang mampu mengendalikan berbagai aktivitas kultural.
Untuk mencapai kehidupan sosial yang selaras dan harmonis, yaitu dengan
aturan kultural, norma, dan nilai yang harus diwujudkan. Segala aturan yang
bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun
ikatan sosial masyarakat yang tercerai-berai dalam alam perubahan yang
ditimbulkan oleh globalisasi. Tata nilai kehidupan masyarakat tradisional sifatnya
mengikat, bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dianut masyarakat modern
yang menuntut kompromistis dan kebebasan. Tata nilai ini bertujuan untuk
melestarikan dan memulihkan tatanan moral yang kuat pada masyarakat. Sebagai
bangsa yang berbudaya, tentunya tidak ingin menjadi masyarakat yang oleh
Durkheim disebut sebagai anomi atau masyarakat tanpa norma. Keadaan anomi
berlangsung ketika orang hidup tanpa kebimbangan, merasa terjungkir, dan
kehilangan pegangan hidup. Individu akan mencari jalan keluar dengan perilaku
menyimpang, melampaui batas-batas humanitas, menerabas, dan bahkan tidak
menghiraukan keberadaan individu lain yang berada disekitarnya.
Produk budaya global yang ditumpangi oleh kapitalisme global, bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa menghiraukan persoalanpersoalan
moral, ideologi, dan bahkan agama. Kapitalisme menciptakan
kebutuhan-kebutuhan baru, yang secara inovatif, terus berkembang dan tanpa
henti. Kondisi anomi, hedonistik, dan konsumerisme terus diciptakan dan
dibenamkan dalam benak masyarakat. Dengan demikian, kaum kapitalis akan
lebih mudah menentukan arah kebudayaan masyarakat tersebut. Produk-produk
145
budaya global sarat dengan muatan-muatan ideologi. Penanaman ideologi ini akan
menimbulkan proses penjiblakan bagi individu untuk menanamkan pengaruhnya
terhadap orang lain. Media elektronik, misalnya mampu menciptakan dan
menghadirkan ideologi kapan pun dan di mana pun juga.
Menurut Gramsci (Bacock, 2007: 122) mengungkapkan bahwa peran
lembaga kemasyarakatan ataupun lembaga adat yang merupakan perpanjangan
tangan kelompok yang berkuasa untuk menentukan ideologi yang mendominasi.
Bahasa misalnya, menjadi sarana penting untuk melayani fungsi hegemonik
tersebut, terutama dalam undang-undang, lembaga-lembaga pendidikan Negara,
masyarakat sipil, media massa, dan kesenian. Ideologi menjadi sumber pembuatan
aturan perilaku sehari-hari dan tindakan moral yang setara dengan agama. Bagi
Gramsci, agama merupakan wawasan dunia yang populer, dengan suatu sistem
nilai moral, suatu sistem kepercayaan, dan suatu sistem ritual/simbolik. Ideologi
merupakan pengalaman sehari-hari sekaligus juga sekumpulan ide sistematis yang
berperan untuk mengatur dan mengikat suatu blok elemen sosial yang beragam.
Kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat, baik struktur masyarakat
tradisional maupun struktur masyarakat modern.
Dalam masyarakat modern, orang akan kehilangan identitas individual dan
mulai diperlakukan tanpa nama (anonim), Sztompka (2007: 92-93). Kehormatan
individu atau kesetiaan terhadap kelompok terpaksa dikaburkan atau diabaikan
sama sekali. Akibatnya, ikatan antarpribadi, berdasarkan kesamaan lingkungan
tempat tinggal, kesukuan, dan agama menjadi terputus. Masyarakat yang terputus
ini dapat mengakibatkan munculnya kekuasaan otokrasi bahkan totaliter. Juga
146
mempermudah mobilitas berbagai jenis gerekan sosial sebagai pengganti ikatan
sosial yang hilang. Kekuasaan otokratis semacam ini dapat di gambarkan dalam
syair tradisi lisan kantola di bawah ini.
koise ihintu nodero podiu
koise ihintu mekalimbaki tida
omekona mie, mefewambaki mie
omie mina, intaidi kaawu foliuno kakantiba
koise pogau pontalabi-labi
dhunia nando naewanta
Artinya:
jangan engkau terlalu congkak
jangan kamu melewati batas
menyebut orang, mengumpat orang
orang tidak, kita saja yang paling benar
jangan berkata-kata takabur
dunia masih panjang
Syair di atas menggambarkan sikap yang tidak menghargai pendapat dan hak-hak
manusia yang melekat pada masing-masing individu. Hal ini jelas bertentangan
dengan prinsip demokrasi yang sangat membimbing tinggi kebebasan dalam
mengeluarkan pendapat dan prinsip keadilan. Hal ini akan menimbulkan
penguatan bentuk-bentuk penindasan dan opresi terhadap individu atau kelompok
sosial lainnya. Fenomena ini bertentangan dengan yang dikemukakan oleh Ife dan
Toseriero (2008: 116) yang beranggapan bahwa keadilan sosial adalah pandangan
kejujuran dan kesetaraan. Prinsip-prinsip ini diletakkan pada umumnya mencakup
147
beberapa acuan hak-hak yang dimiliki tiap individu untuk mengeluarkan
pendapat.
Untuk menentukan posisi individu dalam suatu masyarakat dibutuhkan
penghormatan terhadap keberadaan manusia. Pengakuan eksistensi manusia
sebagai mahluk ciptaan yang Maha Kuasa, sebagai makhluk sosial yang saling
berhubungan dengan satu sama lain. Penerapan konsep ini mampu menumbuhkan
prinsip menghormati perbedaan pendapat. Ia tidak perlu ngotot menyangkal
pandangan orang lain yang berbeda dan tak merasa takut bila ada orang lain yang
membangkang pandangannya. Ia pun kurang menyukai pendapat yang disodorkan
secara otokratis. Nilai etis dan moral dalam kearifan lokal ini memberikan ramburambu
dalam berintekraksi dengan sesama. Perbedaan pandangan selalu saja ada
itu sah-sah saja dalam kehidupan masyarakat. Kebijakan dan kematangan dalam
berprilaku dapat menumbuhkan sikap toleransi dalam menghargai kemajemukan.
Ungkapan tradisi lisan kantola di bawah ini patut menjadi renungan dalam
menyikapi sisi kelam modernitas saat ini.
Kopodiu peda kumbou
Tibaliu ko kambea
Koise peda kambea wekangkaha
Kokambea kaawu poko bhakea
Artinya:
Berlakulah seperti duku
Berbuah tanpa berbunga
Jangan seperti bunga di jalan
Hanya berbunga tanpa berbuah
148
Syair di atas ini mencerminkan eksistensi manusia dalam berinteraksi dengan
sesama manusia. Bahwa manusia sesungguhnya harus menumbuhkan sifat
mutualisme dan menghindari sikap parasitisme. Manusia harus dapat bermanfaat
bagi manusia lainnya, tidak mengisap keuntungan dari manusia yang lemah dan
tanpa daya. Hal ini tidak tampak dalam masyarakat modern. Fenomena ini
menurut Abdullah (2006: 169) bahwa masyarakat tradisional mengalami
pergeseran menuju masyarakat modern, melahirkan ideologi baru yang paling
mendasar, yaitu penegasan perbedaan dan kebebasan. Dalam era modernitas,
kapitalisme menjadi kekuasaan paling penting, tidak hanya mampu menata dunia
menjadi satu tatanan global, tetapi juga mengubah tatanan masyarakat menjadi
sistem yang bertumpu pada perbedaan-perbedaan yang berorientasi pada
pembentukan status dan kelas sosial.
Perilaku individualistis merupakan hasil ciptaan modernitas, yang
berdasarkan kebebasan, dan perilaku eksklusivisme, serta berdasarkan kebebasan.
Interaksi sosial dilakukan berdasarkan untung rugi. Masyarakat tradisional tidak
mengenal gaya hidup seperti ini. Dalam berperilaku, sifat pamrih harus
disingkirkan jauh-jauh, tidak menonjolkan keegoan dan materialistik. Perilaku
positif ini mencerminkan sikap kesederhanaan dan penghargaan terhadap sesama
manusia. Manusia harus diperlakukan sesuai dengan kodratnya, bukan eksploitasi
untuk kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan nilai-nilai hakiki kemanusiaan
yang terdapat dalam diri tiap manusia.
Perkembangan kesadaran manusia mengenai sisi suram modernitas dan
dengan meningkatnya kritik terhadap sifat anti-humanitas yang ditimbulkan oleh
149
arus globalisasi, maka muncullah pandangan bahwa jalan yang dilalui masyarakat
modern harus diubah secara radikal. Pandangan alternatif ini bersumber dari
penemuan kembali adanya aspek keharmoniasan dan keselarasan dalam
masyarakat tradisional. Saat ini timbul berbagai gerakan untuk membangun
kembali kehidupan komunitas, pemakaian kembali ikatan sosial primordial, dan
menghidupkan kembali lembaga-lembaga adat.
Semakin tingginya kecenderungan untuk kembali ke lokalitas, berarti
menunjukkan betapa penting dan sentralnya hal-hal yang berbau lokal. Potensipotensi
lokal sebelumnya diabaikan sekarang mulai dilirik lagi. Gejala ini
dianggap sebagai bagian dari kritik terhadap modernitasasi yang selama ini
mengusung universalisasi sehingga mengabaikan hal-hal bersifat parsial dan
lokalis. Sudah saatnya kembali menggali budaya sebagai sebuah pengalaman
hidup yang terbukti telah teruji menyelesaikan beragam masalah. Berbagai nilai
budaya yang dimiliki oleh komunitas lokal sangat signifikan untuk
mengembangkan kembali ikatan sosial pada masyarakat.
6.4 Fungsi Pelestarian
Untuk melakukan revitalisasi tradisi lisan dibutuhkan kepedulian berbagai
kalangan, baik dari pemerintah daerah, pemerhati budaya, maupun masyarakat.
Namun, yang menjadi persoalan utama dan kunci utama dari revitalisasi tradisi
lisan adalah adalah menyangkut sikap masyarakat pendukungnya. La Mokui
(wawancara 11 Maret 2011) menyatakan bahwa: “Masyarakat Muna saat ini
terdapat dualisme dalam menyikapi upaya pelestarian aktivitas kelisanan. Pada
satu sisi, harus disikapi dengan optimis, namun pada sisi lain masyarakat bersikap
150
pesimis dan menganggap tidak perlu lagi karena menjadi bagian dari masa lalu,
tidak memahami masa kini dan tidak mampu mengantisipasi langkah-langkah
yang harus di lakukan masa yang akan datang”.
Generasi muda harus terus diberikan dorongan yang sifatnya motivatif dan
provokatif serta menanamkan, menjaga, dan memelihara keberadaan kearifan
lokal sebagai identitas masyarakat lokal. Pemerhati budaya sering
mengungkapkan bahwa tradisi lisan merupakan bagian dari kebudayaan dan
hidupnya tradisi lisan mencerminkan hidupnya kebudayaan. Tradisi lisan kantola
yang tangguh ialah yang tetap hidup dalam komunitas, hadir dalam kegiatan
masyarakat dan menjalankan fungsinya dalam kehidupan, selain itu, penyebaran
dan penerusan kepada anggota masyarakat, baik segenerasi maupun antargenerasi
harus terus berlangsung serta tradisi lisan ini diharapkan tetap hidup dilingkungan
masyarakat pendukungnya.
Olehnya itu diperlukan pemahaman dan kesadaran baru terhadap upayaupaya
perubahan kehidupan masyarakat yang sudah menyimpang dari tradisitradisi
lama. Revitalisasi dapat berupa cara hidup yang sesuai dengan
perkembangan zaman dengan tetap mengikuti aturan-aturan yang diwariskan oleh
para leluhur ataupun tetap mengikuti pola kehidupan lama yang telah dituruntemurunkan
dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti ungkapan tradisi
lisan kantola berikut ini.
151
Kowasi kalatehano welo tehi
Taaka mina namandehaane kandalono tehi
Ghalo kalatehano welo sangku
Taaka anoa mina namandehaane kalalesano sangku
Maka Anoa mada kaawu nembali bubuno
Nokala nokodoho we tehi
Artinya:
ikan lele tempatnya di danau
tapi dia tidak mengetahui dalamnya danau
burung elang tempatnya dihutan
tapi dia tidak mengetahui luasnya hutan
maka dia akan menjadi buah langsat
hanyut sedalam-dalamnya di danau luas
Syair di atas dapat memberikan pemahaman dan kesadaran akan eksistensi
masyarakat dalam tata pergaulan global. Kondisi saat ini merupakan keberlanjutan
dari masa lalu. Tanpa masa lalu, masyarakat tidak akan mampu mereproduksi
kekuatan-kekuatan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman yang harus
berubah. Fenomena ini sesuai dengan pendapat Shils (Sztompka, 2007: 65) yang
menyatakan bahwa masyarakat tidak akan pernah menjadi masyarakat yang
memahami tradisi lisan bila kaitan masa lalunya tidak ada. Kaitan antara masa
lalu dengan masa kini merupakan basis tradisi, yang seharusnya dikembangkan
dari generasi ke generasi.
Budaya-budaya yang merupakan hasil dari masa lalu, terbukti mampu
bertahan melintasi zaman dan menjawab berbagai tantangan. Masyarakat yang
peduli terhadap nilai-nilai kearifan lokal menekankan pentingnya kesadaran
152
kultural terhadap pemahaman atas eksistensi diri sehingga dapat menempatkan
dan menyesuaikan diri dalam konteks global. Dengan demikian, arus perubahan
tetap meletakkan atau menempatkan tradisi sebagai pijakan utama masyarakat,
berupa akumulasi-akumulasi pengalaman di masa lalu yang berdampak pada
reproduksi kekuatan sosial.
Di saat masyarakat Muna mengalami berbagai guncangan perubahan,
tradisi lisan kantola mampu menyesuaikan struktur dan fungsinya sehingga dapat
hadir dalam wujud yang serasi dengan perilaku penggunanya. Namun, kenyataan
ini bertentangan dengan kondisi yang terjadi saat ini, di mana implementasi fungsi
tradisi lisan sering jauh melenceng dari yang seharusnya. Tradisi lisan tidak lagi
menjadi cerminan masyarakat pendukungnya. Malah sebaliknya, justru makin
menjauh dan tidak bisa menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya yang
disebabkan tidak lagi memiliki daya pikat tersendiri.
Sebagai warisan budaya lokal tradisi lisan kantola dan selanjutnya akan
menjadi sebuah lembaga otonom yang tercabut dari masyarakatnya. Tradisi tidak
mempunyai pesan sosial dan tidak merasa bertanggung jawab dalam menyuarakan
suara publik, sebagaimana fungsi yang diembannya sejak awal. Ini menyiratkan
bahwa karya sastra itu sendiri sudah kehilangan substansinya, yang seyogyanya
harus berfungsi untuk masyarakat. Dalam tatanan wacana, kedudukan, peran, dan
fungsi tradisi lisan sangat mulia dan strategis. Namun, hegemoni kapitalisme telah
mendorong proses homogenisasi produk budaya. Maka dengan demikian desakan
produk-produk budaya global, yang membuat produk budaya lokal semakin
terpinggirkan dan semakin dilupakan oleh pemiliknya.
153
Produk budaya global ditandai dengan adanya integrasi budaya lokal ke
dalam suatu tatanan global. Globalisasi yang ditandai oleh perbedaan-perbedaan
dalam kehidupan telah mendorong pembentukan definisi baru tentang berbagai
hal dan memunculkan praktik kehidupan beragam (Abdullah, 2006: 107). Budaya
global telah memunculkan sikap yang konsumtif, kompromistis, dan
individualistik. Siatem yang dihasil oleh produk budaya global telah mengantikan
nilai tradisional yang mengacu pada tradisi.
Kondisi sosiokultural masyarakat yang dihadapi dewasa ini, pada satu
pihak telah berkembang secara historis dan menjadi tradisi, dan pihak lain tengah
membuka diri terhadap perubahan-perubahan, sebagai dampak dari globalisasi,
yang ternyata telah mampu mengubah wajah dunia secara fundamental. Dalam hal
ini harus dijaga agar tidak terjadi cultural lags atau ketertinggalan budaya.
Cultural lags dapat mengabaikan kesadaran masyarakat dalam mempertahankan
dan mengembangkan nilai-nilai sosiokultural, di mana masyarakat dapat
menumbuhkan segala kemampuan yang dimilikinya, beradaptasi terhadap
perubahan-perubahan yang setiap saat muncul, dan merealisasikan secara optimal
potensi humanitasnya yang bertumpu pada nilai-nilai lokal pula. Pemahaman ini
sangatlah mendasar di tengah-tengah deru kapitalisme global yang terus
mendorong derap laju homogenisasi budaya. Globalisasi mampu membentuk
standar kehidupan, gaya hidup mondial, dan pola tingkahlaku yang berlaku pada
seluruh warga yang ada di dunia ini.
Pemahaman mengenai budaya global, diperlukan untuk memahami
keadaan sosiokultur masyarakat lokal. Pelestarian budaya lokal harus pula
154
dilandasi oleh kebudayaan masyarakat setempat. Kebudayaan bukanlah warisan
yang secara turun-turumun dipraktikkan secara kolektif. Akan tetapi, kebudayaan
bersifat situasional yang berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada strukturstruktur
sosial masyarakat pendukungnya. Kesadaran kultural mampu
membangkitkan memori kolektif masyarakat berdasarkan pengalamanpengalaman
masa lalu dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Hal ini harus
terus ditumbuh kembangkan dalam rangka menata-ulang pengalaman kultural dan
memberikan arah secara signifikan bagi perkembangan budaya lokal.
Menurut Ardana (2004: 99), dalam era globalisasi telah muncul upayaupaya
untuk mengembangkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan
pengembangan adat istiadat dan peran lembaga adat. Menggunakan nilai-nilai
budaya lokal untuk menjawab berbagai tantangan inilah sebagai wujud nyata dari
revitalisasi budaya lokal. Terjadinya pemutusan tradisi selama rezim Orde Baru
yang sangat hegemonik setralistik dan menekankan keseragaman, menuju proses
homogenisasi budaya, menghempaskan budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai
dan norma-norma dalam palung kepunahan. Menurut Griffin (2005: 25), proses
setralisasi berarti penghancuran komunitas dan institusi organik yang kecil dan
intim, yaitu masyarakat tradisional. Dalam kondisi perubahan budaya yang pesat
dan kontak budaya yang intensif, struktur institusional suatu masyarakat
cenderung macet dan ambruk.
Salah satu upaya untuk mengembangkan budaya lokal sehingga dapat
mengaktualisasikan diri dalam konteks global adalah dengan dilakukan
revitalisasi. Pengembangan budaya lokal, dapat dilakukan melalui pengenalan dan
155
pengajaran, dengan menciptakan ruang bagi pengembagan kreativitas lokal
sehingga mampu menumbuhkan kesadaran kultural tanpa mengorbankan nilainilai
dasar budaya lokal tersebut. Selain itu, revitalisasi harus menjadikan budaya
lokal sebagai kebutuhan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Tujuan gerakan revitalisasi adalah untuk memberikan arti pada masyarakat
dalam menyatukan kembali dunia yang cerai berai dan yang telah kehilangan
makna. Revitalisasi juga terutama ditujukan bagaimana memanusiakan manusia
sehingga menemukan kembali jati dirinya. Untuk itu diperlukan pemahaman
individu terhadap realitas budaya yang dihadapi saat ini. Kebudayaan sebagai
sistem pengetahuan tidak mampu menjelaskan realitas kehidupan masa kini yang
berubah dengan cepat karena kebudayaan sebagai cognitive map tidak mampu
menghasilkan sebuah peta realitas empiris (Abdullah, 2006: 60). Fredric Jameson
(Best dan Kellner, 2002: 189) mengemukakan pendapat menyangkut penciptaan
ruang pengembangan kreativitas lokal dan hubungannya dengan peta pemahaman
tentang
“postmodern space vitiates capacities to act and struggle. Postmodern
hyperspace has finally succueede in transcending the capacities of the
individual human body to locate itself, to organize its immediate
surroundings perceptually, and cognitively map ist position in a
mappable external world. Jameson arques that cognitive mapping does
not represent the world in the classical mimetic sence, but rather
transcodes it through historically conditioned frames”
Pendapat Jameson adalah ruang posmodernitas meniadakan kapasitas masyarakat
dalam bertindak, meniadakan ruang bagi penciptaan kreativitas lokal. Hyperspace
telah berhasil dalam meningkatkan kapasitas manusia dalam menempatkan
dirinya, mengorganisasikan lingkungan di sekitarnya secara nyata, dan memahami
156
posisinya di dunia luar dirinya. Menurut Terrence McKenna (Piliang, 2004b: 257)
hyperspace merupakan sebuah ruang informasi yang di dalamnya tidak ada lagi
batas antara realitas dan halusinasi, kenyataan dan mimpi. Pemosisian ini
berkaitan dengan kesadaran individu atau kelompok masyarakat yang berada di
tengah tata pergaulan global yang pluralistik. Masyarakat harus mampu menjaga
keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga jati diri
atau identitas senantiasa terus muncul dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruhpengaruh
negatif globalisasi. Jameson menilai cognitive map bukan merupakan
representasi dari dunia dalam pengertian mimesis, sebagai penggambaran, bukan
semata-mata tiruan dari realitas yang dihadapi saat ini. Cognitive map (peta
pemahaman) lebih tertuju pada pengalihan dalam ruang-ruang sejarah sesuai
dengan keadaan masa kini yang terkondisikan.
Keberadaan kebudayaan yang selalu bersifat situasional, berubah-ubah
dari waktu ke waktu. Dengan demikian individu-individu tertentu yang secara
aktif berproduksi dengan cara tertentu masuk ke dalam hubungan-hubungan sosial
dan politik tertentu. Struktur sosial dan Negara secara terus menerus menyusun
proses kehidupan individu-individu yang nyata, bukanya individu-individu yang
berada dalam imajinasi masyarakat, yakni mereka yang aktif di bawah batas-batas
material tertentu, prakiraan dan kondisi yang independen dari keinginan mereka
(Fromm, 2002: 257). Individu harus mengembangkan menata dan
mengorganisasikan pengalaman kultural dengan cara tertentu, yang tentu saja
memiliki makna. Bukan terjebak antara kenyataan dan mimpi, realitas dan
halusinasi.
157
Budaya-budaya lokal dan kebudayaan nasional selalu berada di dalam
suatu proses, di dalam kancah hubungan antarbudaya yang selalu terjadi tanpa
dapat dihindari. Kebudayaan nasional merupakan proses dari bawah, dengan
bertumpu pada dualistik antara kebudayaan lama dan kebudayaan baru.
Pelestarian kebudayaan lama, tentu saja tidak dapat menafikan keberadaan
kebudayaan baru yang terus menciptakan perubahan dalam berbagai segi. Hal ini
tidak terlepas dari arus globalisasi yang makin menembus batas-batas dan ruangruang
tanpa dapat dibendung sehingga membuat dunia seolah-olah terbuka dan
meniadakan sekat-sekat budaya. budaya global, dengan mesin kapitalismenya,
terus menekan budaya lokal. Budaya lokal syarat dengan nilai-nilai dan normanorma
yang dapat menangkal efek negatif globalisasi. Strategi kebudayaan
melalui revitalisasi, harus membuka akses partisipatif dan membangkitkan respon
mutualistis dari eksponen budaya yang beragam di negeri ini.
Strategi kebudayaan melalui revitalisasi terdapat dua hal pokok yang perlu
diperhatikan. Pertama, situasi kehidupan kini yang semakin mengglobal, tanpa
sekat. Bersamaan itu pula akan terbentuk nilai-nilai budaya baru yang bersifat
mondial, transnasional, atau pranata nilai budaya yang berada di jalur utama
(mainstream). Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan acuan dan tolak ukur yang
dapat diterapkan di mana-mana. Kedua, pemikiran yang bertolak dari
kekhawatiran akan munculnya dampak budaya yang disebabkan oleh globalisasi,
terutama tata ekonomi dan tata informasi yang dapat memberikan perubahan
mendasar pada segala aspek kehidupan masyarakat tradisional. Pemikiran kedua
ini mewaspadai berbagai akibat yang mungkin muncul dan tidak menguntungkan
158
bagi sektor-sektor kehidupan yang tidak berada di jalur utama. Masyarakat yang
tidak berada pada jalur utama adalah mereka yang tetap menghayati nilai-nilai
budaya lokalnya akan menjadi kaum marginal yang kurang dimunculkan dalam
kontelasi informasi dunia, dan seringkali kurang di untungkan secara ekonomi.
Adapun tujuan dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal diyakini
sebagai langkah untuk memberdayakan budaya lokal dalam mengantisipasi
tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik, dalam arti tidak
terikat dengan sifat ketergantungan pada globalisasi. Globalisasi bukanlah barang
suci yang dijunjung tinggi, diadopsi dan ditanamkan dalam benak setiap individu
karena memiliki prestise dan menjanjikan kesejahteraan bersama, Tidak seperti
halnya budaya lokal yang terkesan kaku dan tidak lagi sesuai dengan
perkembangan zaman. Penghargaan terhadap budaya lokal tidak akan mematikan
martabat bangsa, malah akan membangkitkan ikatan sosial yang kuat dan
penemuan jati diri dan identitas bangsa yang sesungguhnya kepada masyarakat.
159
BAB VII
MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
Kebudayaan lokal yang banyak bercerceran di tanah air, seolah-olah tak
bertuan. Kenyataan ini sangat ironis, di mana bangsa-bangasa lain mengagumi
kekayaan budaya Indonesia, akan tetapi masyarakat Indonesia sendiri enggan
untuk memelihara dan mengapresiasikannya. Tradisi lisan kantola misalnya,
produk budaya ini sebenarnya sangat sarat dengan pesan-pesan dan makna
kehidupan, makna folisofis, moral, dan sosial, namun sayangnya tradisi lisan ini
pun makin terpuruk dan tergilas oleh budaya global yang tumbuh dengan
sedemikian rupa. Kebudayaan lokal akan kehilangan maknanya seiring dengan
perubahan yang terjadi di dalam masyarakat yang kapitalistik, jika tidak dilakukan
upaya-upaya pelestarian. Seperti halnya, makna revitalisasi dalam tradisi lisan
kantola tentunya tidak dalam kekosongan, tetapi memiliki makna-makna yang
sangat dalam, juga berimplikasi pada menguatnya kembali budaya lokal dalam
gempuran budaya global. Berikut ini akan dipaparkan makna identitas, edukasi,
inovasi, dan pelestarian budaya dalam kaitannya dengan ketahanan budaya.
7.1 Makna Identitas
Menguatnya arus dan hegemoni budaya kapitalisme global, akan berimbas
pada mengecilnya daya hidup tradisi lisan kantola di tengah kehidupan
masyarakat Muna. Di balik proses pengerdilan tradisi lisan ini, tentunya bahasa
sebagai mediumnya dan sastra daerah sebagai penguatnya ikut pula menyertainya
dalam kekerdilan dan pada akhirnya akan punah. Dalam tradisi lisan kantola,
160
bahasa kantola yang khas, dan pertunjukannya tentunya merupakan bagian dari
identitas masyarakat Muna, di samping produk budaya masyarakat Muna lainnya.
Tak berlebihan apabila dikemukakan bahwa mengerdilnya atau punahnya tradisi
lisan kantola akan terjadi pemudaran identitas dan penghilangan seperangkat
sistem kebudayaan lokal yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat Muna yang
selama ini terkooptasi pada proses globalisasi yang menciptakan hegomonisasi
budaya, yaitu penyeragaman budaya dunia dalam satu bentuk. Globalisasi telah
menjadikan masyarakat sebagai warga dunia yang universal, warga sekat teritorial
dan tanpa batas.
Budaya-budaya lokal dan kebudayaan nasional selalu berada di dalam
suatu proses, di dalam kancah hubungan antarbudaya yang selalu terjadi tanpa
dapat dihindari. Masyarakat pemilik budaya tersebut maupun pemerintah harus
selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan
perubahan yang terjadi sehingga jatidiri dan identitas bangsa atau suku bangsa
senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruhpengaruh
globalisasi yang merambah dan berkecambah terus menerus.
Kebudayaan merupakan suatu yang sangat esensial untuk mengembangkan
sebuah identitas dalam masyarakat, dan sebuah masyarakat yang tidak
menghargai budaya lokal berarti menjauhkan kesempatan bagi anggota
masyarakat untuk memiliki identitas lokal yang kuat dan sangat penting.
Penghargaan dan dukungan terhadap budaya lokal merupakan sebuah komponen
esensial dari pengembangan masyarakat. Budaya juga sangat penting untuk
mendorong budaya lokal yang partisipatif. Kebudayaan yang partisipatif akan
161
cenderung menghargai budaya lokal, mengingat masyarakat akan mengungkap
identias budaya mereka dalam cara yang disesuaikan dengan konteks lokal (Ife,
2008: 518).
Menurut La Mokui (Wawancara 11 Maret 2011) mengungkapkan hal-hal
yang menyangkut dengan identitas lokal masyarakat Muna, yang harus terus
digali dan diangkat ke permukaan, yaitu salah satunya adalah tradisi lisan kantola,
di samping bahasa daerah, pakaian adat, dan sejarah. Penampakan bahasa daerah,
pakaian adat, dan pemahaman sejarah yang baik akan berpengaruh pada
penampakan identitas masyarakat Muna, nilai-nilai dasar kebudayaan ini dimulai
tergantikan oleh nilai-nilai yang berasal dari produk budaya global. Selama ini,
menurut Muhammad Idul (Wawancara 30 Februari 2011). Masyarakat Muna
sudah tidak lagi memiliki nilai-nilai dasar kebudayaan yang dapat ditampilkan
sebagai identitas masyarakat Muna. Untuk itu diperlukan berbagai upaya, seperti
pada kutipan berikut.
“Kita harus mencatat, mendata dan paling bagus dibukukan nilai-nilai
dasar kebudayaan Masyarakat Muna yang menjadi identitas masyarakat
pendukungnya. Kita harus membukukan, inti kebudayaan masyarakat
Muna karena bagian dari identitas kita, di antaranya tradisi lisan kantola.”
Ungkapan di atas menggambarkan bahwa pengembangan identitas pada
masyarakat Muna, yang belum terwujud dalam satu bentuk pemahaman, saat ini
masih memerlukan upaya untuk menemukan inti kebudayaan atau sistem nilai
budaya. Fenomena ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Storey (2007: 4)
bahwa sistem nilai budaya merupakan dasar atau pijakan bagi masyarakat untuk
mengembangkan potensi dan dinamika dalam kehidupan bermasyarakat. Budaya
membantu membangun struktur dan membentuk sejarah pada masyarakat.
162
Kebudayaan merupakan pertautan dinamis antara konstruksi sosial (social
construction) dan fakta sosial (sosial fact). Pertautan ini bersifar dinamis, bukan
sesuatu yang statis. Potensi dan dinamika kebudayaan yang sangat besar ternyata
terdapat dalam masyarakat dan sekaligus memberi jiwa dan semangat kepada
masyarakat dalam bentuk ide dan gagasan-gagasan yang saling berkaitan dan
berhungan satu sama lain sebagai suatu sistem yang disebut dengan nilai budaya
(Alqadrie, 2008). Apa yang dikemukakan La Mokui dan Muhammad Idul
mengenai nilai-nilai budaya harus mampu diwujudkan sehingga membangkitkan
jati diri dan identitas masyarakat Muna.
Menurut La Djehe Palola (Wawancara 1 Maret 2011), ada lima hal yang
mendasar yang tetap harus dikembangan dalam menampakkan identitas
masyarakat Muna, yaitu mitos, agama, sejarah, seni, dan budaya. Mitos menurut
Roland Barthes (2007: 295), adalah sebuah tipe pembicaraan atau wicara (a type
of speech). Mitos bukanlah pembicaraan atau wicara yang sembarangan; bahasa,
membutuhkan kode-kode khusus untuk menjadi mitos. Mitos merupakan sistem
komunikasi, yang di dalamnya berisi pesan. Mitos menurut masyarakat Muna,
mengandung kekuatan yang di luar realitas yang ada. Mitos berkaitan dengan
berbagai aktivitas masyarakat yang dapat memberikan jawaban-jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan, yang secara rasional tidak dapat dijawab. Menurut Levi
Strauss (Storey, 2007: 70), semua mitos memiliki fungsi sosiokultur yang sama
dalam masyarakat, termasuk agama, sejarah, seni, dan budaya. tujuannya adalah
membuat dunia bisa dijelaskan, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dunia
yang bersifat kontradiksi.
163
Kelima hal tersebut saling terkait dalam menumbuhkan kembali kesadaran
bermasyarakat. Jika unsur-unsur ini tidak dikembangkan, maka sulit bagi
masyarakat Muna untuk mengembangkan identitas mereka. Apa yang menjadi
dasar pembentukan identitas ini sulit ditentukan dalam masyarakat Muna.
Kesadaran ini harus ditumbuhkan pada diri pribadi masyarakat itu sendiri.
Menurut Teeuw (Pradopo, 2007: 207) bahwa tradisi lisan sangat erat
kaitannya dengan penikmat/penyambut dan masyarakat, ditunjukan untuk
penikmat/penyambut dan kepentingan masyarakat penikmat/penyambut. Tradisi
lisan tidak mempunyai nilai tanpa ada masyarakat penikmat/penyambut yang
menilainya karena masyarakatlah yang menentukan makna dan nilai suatu tradisi
lisan. Kemudian Ratna (2006: 165) mengemukakan bahwa peranan masyarakat
sangat penting walaupun mereka sama sekali tidak memiliki relevansi dalam
kaitannya dengan proses kreatif penciptaan suatu tradisi lisan.
Sebagai aktivitas kultural tradisi lisan kantola, menggunakan bahasa Muna
sebagai mediumnya. Bahasa Muna sebagai bahasa Ibu mulai ditinggalkan dan
masyarakat semakin bisa dan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, baik dari
ranah pertuturan sesama mereka maupun dengan orang tua mereka. Situasi
kebahasaan seperti menunjukan adanya pola pergerakan atau pergeseran, mulai
meninggalkan bahasa ibu ke bahasa kedua yang dikuasainya, yaitu bahasa
Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak lagi menganggap aktivitas
kelisanan dengan menggunakan bahasa ibu merupakan suatu kewajiban,
melainkan beranggapan bahwa Muna tidak lagi sesuai dengan tuntutan
164
modernisasi yang menggiring perubahan pola hidup dan bermasyarakat yang lebih
maju dan modern.
Kenyataan seperti inilah yang menjadi perhatian utama bagi pemerhati
budaya di wilayah Kabupaten Muna. Bahasa Muna harus dihidupkan kembali
sebagai bahasa ibu, sebagai bahasa paten untuk bahasa ibu dan tidak dicapur
adukan dengan bahasa Indonesia. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa ada
semacam kegelisahan dari berbagai kalangan, terutama mereka yang tetap konsen
dengan warisan budaya lokal, penggunaan bahasa Muna yang asli tidak lagi
digunakan oleh masyarakat Muna itu sendiri. Hal ini dipertegas oleh La Ode
Kape (Wawancara 7 Maret 2011), yang menyatakan bahwa bahasa Muna yang
diucapkan di masyarakat bukan lagi bahasa Muna yang sesunguhnya, namun
sudah tercampur oleh bahasa Indonesia. Masyarakat, terutama generasi muda,
merasa malu menggunakan bahasa Muna di daerahnya sendiri. Mereka lebih
bangga menggunakan bahasa di luar bahasa Muna, yang menurut mereka lebih
modern dan prestisius, apalagi jika disertai dengan bahasa asing. Hal ini tentu saja
sangat mengkhawatirkan apabila tidak disikapi dengan sigap, akan berakibat fatal
bagi aktivitas kelisanan yang mengarah kelangkaan pengguna bahasa daerah
Muna itu sendiri dan bahkan akan mengakibatkan kepunahan.
Segala bentuk aktivitas kultur yang berlangsung di Muna, diucapkan
dengan menggunakan bahasa Muna. Pemahaman warisan budaya ini tentu harus
dibekali dengan pemahaman bahasa yang baik. Menurut teori resepsi, keindahan
dan manfaat karya sastra bagi masyarakat bukanlah keindahan (bahasa) yang
sudah pasti defenisinya. Tetapi, bergantung pada situasi latar belakang sosial
165
budaya penikmatnya, yang melalui keindahannya masyarakat dapat menggali dan
memahami aktivitas kultural secara berbeda-beda.
Penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi, dan sikap masyarakat Muna
terhadap kandungan makna yang terdapat dalam syair-syait kantola tidak lagi
tampak di permukaan, apabila memahaminya. Kantola hanya dikenal sebagai
tradisi lisan tetapi masyarakat tidak lagi mengetahui bentuk tradisi lisan itu
sendiri. Pada masyarakat Muna, tradisi lisan kantola hanya dikenal oleh
sekelompok kecil orang, itu pun mereka yang sudah berusia lanjut. Generasi
muda, bersikap pesimis terhadap keberadaan tradisi lisan. Ada semacam
keengganan untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman makna-makna
yang terkandung dalam tradisi lisan ini. Padahal, menurut Hans Robert Jauss
(Pradopo, 2007: 206), apresiasi masyarakat terhadap sebuah karya sastra akan
diperkaya melalui tanggapan-tanggapan lebih lanjut dari generasi ke generasi.
Dengan cara ini makna histori karya sastra akan ditentukan dan akan terungkap
nilai estetikanya.
Berbeda-bedanya tanggapan dan pemahaman masyarakat mengenai karya
sastra, dari satu periode dengan periode yang lainnya. Perbedaan inilah yang
disebut oleh jauss (Pradopo, 2007: 206) sebagai horison harapan. Horison harapan
ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan dalam
menanggapi karya sastra. Oleh karena itu, menurut Sayuti (2008: 25-26), masalah
pemahaman tradisi lisan tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus
diaktualisasikan dan diimplementasikan dengan cara apapun yang dipandang baik,
dan tetap mengacu pada konteks masyarakat lokal.
166
Mengaktualisasikan dan mengimplementasikan budaya lokal dapat
dilakukan melalui pengenalan dan pengajaran budaya lokal. dengan menciptakan
ruang bagi pengembangan kreativitas lokal sehingga mampu menumbuhkan
kesadaran kultural tanpa pengorbanan nilai-nilai dasar budaya lokal tersebut. Hal
yang paling mendasar dari revitalisasi tradisi lisan kantola adalah bagaimana
menumbuhkan semangat keberagaman dan menciptakan harmonisasi hidup antara
manusia dengan lingkungannya. Nilai-nilai budaya lokal harus tetap
dipertahankan sehingga dapat menumbuhkan kemampunnya dalam menangkal
berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi.
Untuk mempertahankan eksistensi nilai-nilai budaya lokal, maka langkah
yang tepat dilakukan adalah segala aktivitas kultural masyarakat yang mendiami
wilayah Kabupaten Muna menggunakan bahasa Muna sebagai mediumnya.
Namun pada kenyataannya, penggunaan bahasa Muna telah menggalami
pergeseran yang sangat jauh. Pergeseran ini telah berada pada titik krusial.
Masyarakat Muna tidak lagi mengenal bahasanya sendiri, dalam arti
penggunaannya secara baik dan benar, namun telah dipengaruhi oleh produkproduk
bahasa yang berasal dari luar, terutama bahasa asing. Proses internalisasi
juga tidak diterapkan dalam keluarga, sehingga generasi muda tumbuh tanpa
mengenal identitas kebahasaan mereka. Kondisi ini sangat berpengaruh pada
persepsi dan pemaknaan aktivitas kultural. Masyarakat sudah enggan untuk
mempelajari budaya-budaya lokal karena mereka tidak mengetahui nilai-nilai apa
yang sebenarnya terkandung dalam aktivitas kultural tersebut. Demikian pula
halnya dengan pemahaman sejarah yang memberikan wacana identitas pada
167
masyarakat. Penampakan sejarah menjadi bagian penting untuk menampakkan
identitas dalam masyarakat.
Dalam era globalisasi, identitas masyarakat mendapat banyak terpaan dari
luar. Globalisasi telah membuat segala hal di dunia ini terkait satu sama lain. Apa
yang dulunya dianggap tidak saling terkait, saat ini secara amat mencolok tampak
saling berkaitan (Kristiatmo, 2007: 77). Melalui globalisasi, tiap kebudayaan
berinteraksi. Dengan semakin hilangnya batas, hidup pun tak lagi memiliki ruang
dan sekaligus mengalami poligami tempat pada deteritorialisasi. Deteritorialisasi,
merupakan perpindahan yang berlangsung terus-menerus entitas, wujud, identitas,
subjek, kelompok atau komunitas dari satu tempat ke tempat lainnya (Piliang,
2005b: 158).
Nilai-nilai modernitas yang terus bergerak akan selalu mempengaruhi
nilai-nilai dasar kebudayaan. Jika nilai-nilai dasar kebudayaan ini tidak lagi
memiliki keterikatan dengan masyarakat Muna, maka sesungguhnya masyarakat
Muna akan kehilangan pegangan dari terpaan globalisasi. Beranjak dari pemikiran
ini, masyarakat harus berperan aktif dalam pembangkitan dan menumbuhkan
kembali, baik aktivitas kelisanan dengan menggunakan bahasa daerah,
pertunjukan tradisi lisan, dan pemahaman sejarah yang baik. Dengan demikian,
pemunculan kembali nilai-nilai dasar kebudayaan mampu memberikan arah bagi
pengembangan kekuatan sosial menuju perubahan kearah yang lebih baik. Hal ini
menjadi sangat penting karena selama ini masyarakat berkiblat pada hal-hal yang
berbau global, yang kering dan tanpa makna. Jika masyarakat terus terkooptasi
168
pada modernitas, maka masyarakat Indonesia gagal menampakkan diri sebagai
bangsa yang berbudaya dan bermartabat.
Produk budaya kelisanan dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan
identitas lokal. Tradisi lisan kantola, sebagai aktivitas kultural yang berbentuk
lisan, merupakan bukti kreativitas masyarakat pada masa lalu, yang secara
tekstual, tidak mengalami perubahan hingga saat ini. Hal ini mengindikasikan
bahwa tradisi lisan kantola mampu bertahan melintasi zaman, yang dengan
sendirinya memberikan identitas pada masyarakat pendukungnya dalam hal ini
masyarakat Muna. Tradisi lisan kantola mampu diinternalisasi begitu mendalam
pada masyarakat setempat sehingga saat ini masih hadir di tengah-tengah
derasnya arus globalisasi yang melanda masyarakat.
Menurut Jauss (Newton, 1994: 158) bahwa karya sastra ada hanya jika ia
telah diciptakan kembali atau dikonkretkan dalam otak masyarakat penyambut.
Proses internalisasi menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian warisan
budaya lokal. Muara internalisasi ini mengarah pada pemahaman makna dan nilainilai
moral yang tertanam dalam sastra lisan. Pemahaman makna berwujud pada
implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh Jauss mengungkapkan
hubungan suatu karya sastra dengan masyarakat berikut ini.
“Fungsi sosial sastra hanya dapat dimungkinkan apabila pengalaman
kesastraan pembaca masuk ke dalam horizon pengharapan dari praktek
yang dihidupinya, membentuk pemahamannya tentang dunia dan dengan
demikian juga mempengaruhi tingkahlaku sosialnya.”
Sebagai pelaku dan penikmat budaya, masyarakat berperan dalam
memberikan makna terhadap keseluruhan aspek-aspek kultural yang terdapat
dalam suatu karya sastra. Penerimaan, persepsi, dan pemahaman terhadap sastra
169
lisan berkaitan erat dengan tingkat pendidikan dan kondisi yang terjadi pada saat
ini. Tanggapan-tanggapan seseorang mengenai karya sastra akan menimbulkan
perbedaan-perbedaan pandangan berdasarkan tingkat pendidikan dan pengalaman
penafsiran. Sehingga hal ini setidaknya memberikan pengaruh yang sifatnya
subyektif dalam pembentukan pola pikir tertentu.
Para pemerhati budaya yang menjadi perhatian utamanya adalah
bagaimana proses internalisasi yang melibatkan berbagai pihak. Kepedulian ini
memberikan arah bagi keberlanjutan tradisi lisan yang telah tertimpa berbagai
macam produk budaya global. Menurut Palmer (2003: 277), apa yang dibutuhkan
dalam interpretasi sastra adalah penalaran dialektis yang tidak menginterigasi teks
tetapi menyediakan sesuatu yang dikatakan pada teks untuk menginterogasi balik,
untuk mengajak horizon penafsiran ke dalam pertanyaan dan melakukan
transformasi pemahaman seseorang terhadap subjek. Trasformasi pemahaman ini
sangat mendasar dalam penerimaan dan tanggapan masyarakat terhadap suatu
tradisi lisan.
Menghidupkan kembali kebudayaan lokal sama artinya dengan
menghidupkan kembali identitas lokal, oleh karena itu identitas merupakan unsur
yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan (Piliang, 2004b: 279). Identitas itu
sendiri menjadi sebuah persoalan saat warisan masa lalu diambil alih oleh
pengaruh-pengaruh globalisasi yang menciptakan hegemoni budaya. krisis
identitas muncul ketika warisan budaya yang telah melekat dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat lokal tidak dapat dipertahankan lagi karena ia telah
direnggut oleh nilai-nilai lain yang berasal dari luar. Oleh karena itu, menurut
170
Tilaar (2007: xxv) untuk dapat bertahan dari terpaan globalisasi yang inhuman,
maka individu atau masyarakat harus memiliki, mempertahankan, dan
mengembangkan identitasnya sendiri. Kondisi yang inhuman ini merupakan
identitas bagi masyarakat modern, yang tidak lagi menaruh minat pada sisi
kemanusiaan.
Pergeseran besar yang terjadi akibat modernitas dari pemahaman diri
kondisi komunal ke pemahaman diri individualistik. Modernitas tidak melihat
masyarakat atau komunitas sebagai yang utama, melainkan menganggap
masyarakat hanya sebagai kumpulan individu-individu bebas yang secara sukarela
bergabung demi tujuan-tujuan tertentu (Griffin, 2005:18). Kelompok-kelompok
masyarakat ini telah menggiring ke sebuah bentuk identitas baru yang mereka
ciptakan sendiri berdasarkan kepentingan masing-masing. Tidak lagi
mencerminkan identitas sesungguhnya yang menjadi ciri khas suatu kelompok
masyarakat. Bahkan, ada kelompok-kelompok masyarakat yang melaksanakan
kegiatan bersama dan merevitalisasi ikatan-ikatan primordial yang kemudian
disalurkan melalui kelompok-kelompok politik. Fenomena ini tidak lagi menjadi
rahasia umum dikalangan masyarakat Muna, bahkan kelompok etnis tertentu
menjadi ikatan-ikatan primordial untuk merebut melanggengkan kekuasaan.
Masyarakat Muna tidak lagi memikirkan bagaimana membangun suatu entitas
yang mengarah pada pembentukan identitas yang khas sebagai modal budaya
masyarakat itu sendiri.
171
7.2 Makna Edukasi
Pelestarian tradisi lisan kantola oleh masyarakat Muna sendiri dan juga
pemerintah memiliki makna edukatif. Hal ini terjadi karena dengan
dilaksanakannya upaya pelestarian tradisi lisan kantola seperti yang dijelaskan di
atas, maka masyarakat yang selama ini kurang memahami tradisi lisan tersebut
diharapkan mendapat pemahaman baru serta mengerti akan hak dan kewajibannya
sebagai pewaris suatu tradisi lisan. Adapun bagi pemerintah sendiri akan
memperoleh masukan-masukan yang dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam
melaksanakan tugas-tugas selanjutnya.
Proses edukatif itu merupakan proses penanaman nilai-nilai, sikap serta
keyakinan-keyakinan yang mungkin sistem budaya tetap diyakini keberadaanya
dan berfungsi sebagaimana mestinya. Proses edukatif, di samping mengandung
proses penanaman nilai-nilai pembaruan seperti dikatakan Redfield dalam Widja
(1993: 53). Dengan kata lain dalam proses ini ada penekanan fungsi diskontinuitas
(perubahan), tetapi tersirat juga fungsi pelestarian nilai budaya yang dimiliki suatu
masyarakat.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa makna edukatif dalam revitalisasi tradisi
lisan kantola sejalan dengan proses regenerasi dalam masyarakat Muna.
Revitalisasi tradisi lisan kantola mengarah pada pemberian peran-peran baru bagi
generasi muda untuk tetap mempertahankan warisan budaya mereka meskipun
menjadi aspek-aspek perubahan dalam kehidupan kulturalnya. Hal ini sejalan
dengan konsep pelestarian yang secara intrinsik mengandung unsur dinamika
budayanya.
172
Sesuai dengan teori dekontruksi bahwa dalam dekontruksi terjadi
pengurangan, atau penurunan intesitas bentuk yang sudah tersusun, sebagai
bentuk yang baku. Sebaliknya unsur-unsur yang semula selalu terlupakan,
terdegradasi dan termarginalisasi, seperti kelompok minoritas, kelompok yang
lemah dapat diberikan perhatian yang menandai bahkan secara seimbang dan
proporsional. Dekontruksi melakukan semacam pembongkaran, tetapi tujuan
akhir yang hendak dicapai adalah penyusunan kembali ke dalam tatanan dan
tataran yang lebih signifikan, sesuai dengan hakekat objek, sehingga aspek-aspek
yang dianalisis dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin (Ratna, 2005: 250).
Dekontruksi dalam hubungannya dengan revitalisai tradisi lisan kantola
dalam era globalisasi adalah merupakan usaha untuk memberikan arti pada
kelompok yang lemah yaitu masyarakat Muna, yang selama ini kurang
memperoleh pengertian, bahkan diabaikan sama sekali. Tujuan dekontruksi adalah
tetap kontruksi yang dengan sendirinya dalam bentuk yang berbeda, kontruksi
yang seimbang sekaligus dinamis, bukan kontruksi yang statis.
Proses regenerasi adalah suatu proses alih generasi yang biasanya akan
menimbulkan goncangan-gocangan sebagai akibat dari gejala yang disebut
generation gap. Proses edukatif modern, terutama sistem persekolahan formal
tanpa disertai dengan penanaman nilai-nilai budaya tradisional sering dianggap
sebagai faktor yang menyebabkan melebarnya jurang antar generasi. Proses
edukatif semacam ini dengan sendirinya akan membawa dislokasi pada pola-pola
hidup dan hubungan interpersonal yang ada dalam lingkungan masyarakat
sebelumnya. Dalam situasi demikian lembaga pendidikan seperti kurang bertautan
173
secara struktural dengan masyarakat lingkungannya. Ketidakadaan tautan
struktural ini pula yang bisa menjadikan sumber bagi berkembangnya
kesenjangan generasi dan kesenjangan budaya.
Meskipun selama ini sebagian masyarakat Muna masih memegang kuat
tradisi leluhur, kemungkinan akan adanya perubahan pandangan di kalangan
generasi muda perlu diantisipasi. Tanggung jawab revitalisasi tradisi lisan yang
selama ini dilakukan oleh generasi masa kini suatu ketika akan menjadi tanggung
jawab generasi selanjutnya. Kondisi seperti itu kelihatan seperti berjalan
wajar/otomatis, tetapi dalam prosesnya sering tidak sederhana itu. Proses
regenerasi berarti alih generasi, dari generasi tua ke generasi muda. Proses ini,
secara biofisik begitu wajar terjadi pada setiap kelompok manusia karena
menyangkut perkembangan alamiah yang mau tidak mau harus dilalui manusia.
Hanya secara sosial budaya persoalannya sering menjadi begitu kompleks, karena
menyangkut gagasan-gagasan mendasar mengenai harkat hidup masyarakat di
masa yang akan datang.
Proses transformasi budaya bisa dilihat dari dua sudut, yaitu sudut
generasi tua yang merasa bertanggung jawab menyiapkan generasi muda untuk
hidup di masa yang akan datang sesuai dengan yang diidealkan oleh generasi tua.
Di pihak lain generasi muda sendiri tentunya memiliki cara pandang tersendiri
tentang peran serta tanggung jawabnya dalam proses alih generasi tersebut.
Apabila diperhatikan secara umum, maka regenerasi tidak lain dari pada proses
transmisi kultur (cultural transmission) yang dalam bentuk lebih nyata berupa
proses edukatif (pendidikan dalam arti luas).
174
7.3 Makna Inovasi
Suatu produk kebudayaan termasuk tradisi lisan, apabila terus melakukan
perubahan melalui inovasi yang berkelanjutan, maka beberapa jenis pertunjukan
tradisional akan mampu bangkit dan merebut kembali hati publik setelah diinovasi
dan terobosan baru dilakukan. Di satu sisi, kreativitas baru dalam berbagai
bentuknya perlu terus didorong, tetapi di sisi lain perubahan zaman juga harus
dibaca dengan cermat. Perkembangan zaman yang antara lain didorong oleh
kemajuan dan teknologi tidak dapat dihindari. Benturan antara kepentingan
pemodal, idealisme, dan kreativitas selalu menimbulkan tegangan dan tarikmenarik,
namun tetap perlu dijaga keseimbangannya. Perkembangan zaman tidak
mungkin dicegah atau menghindari perkembangan teknologi pasar. La Mokui
(Wawancara pada 11 Maret 2011) berharap tradisi lisan kantola dapat dipentaskan
dan dikreasikan. Hasil pementasan harus diinovasi atau didokumenatasikan dalam
kepingan-kepingan CD/DVD lalu disebarkan ke setiap jenjang pendidikan di
Muna. Sehingga tradisi lisan kantola akan dikenal oleh generasi muda dan proses
pewarisannya tetap terjaga.
Pada aspek penampilan atau pertunjukannya, pelestarian tradisi lisan
memang sangat sedikit yang melakukan sebuah upaya inovasi, terutama inovasi
yang muncul dari kalangan seniman tradisi itu sendiri. Kalau pun ada, kerja
inovasi terhadap tradisi lisan sebagai seni pertunjukan, maka inovasi itu muncul
justru dari seniman modern atau seniman akademis, dan jarang dari kalangan
struktural dan birokrasi daerah memikirkan langkah-langkah menginovasi tradisi
lokal untuk menjadi tradisi yang bisa bersaing dengan budaya global. Tradisi lokal
175
semakin terhimpit dan terjepit oleh perilaku masyarakat pemilik tradisi yang tidak
berpihak pada tradisi lokal. Bahkan para pelaku budaya atau penerus aktif
terkesan berjalan di tempat dan tidak mampu mengembangkan daya
kreativitasnya dalam mengemas dan menampilkannya menjadi lebih atraktif, tidak
monoton dan membosankan. Inilah yang dirasakan oleh sebagian penduduk Muna
yang menilai bahwa tradisi lisan kantola tidak lagi memenuhi unsur estetikanya
ketika dimunculkan publik. Kesan yang ditangkap oleh penulis bahwa tradisi lisan
ini terkekang oleh aturan yang diterapkan oleh pihak pemerintah daerah sehingga
sangat sulit untuk dipentaskan dan dikreasikan oleh pelaku budaya ataupun
penerus aktif tradisi lokal ini.
Tradisi lisan kantola ini, sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang
mengatur tata hidup masyarakat. Proses inovasi harus tetap mempertahankan
nilai-nilai dan norma-norma tradisi yang terdapat di dalamnya. Tradisi lisan dan
masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam menggambarkan
realitas, seniman tidak semata-mata melukiskan keadaan yang sesungguhnya,
tetapi mengubah sedemikian rupa sesuai dengan kualitas kreativitasnya. Dalam
hubungan ini, menurut Teeuw (Ratna, 2003: 7), ada empat cara yang mungkin
dilakukan, yaitu 1) afirmasi, menetapkan nilai-nilai dan norma-norma yang sudah
ada; 2) restorasi, sebagai ungkapan kerinduan pada nilai dan norma yang sudah
usang; 3) negasi, mengadakan pemberontakan nilai dan norma yang sedang
berlaku; dan 4) inovasi, mengadakan pembaruan nilai dan norma yang ada pada
masyarakat.
176
Berdasarkan hubungan antara pemahaman dan tanggapan atas tradisi lisan,
di mana tidak terdapat batasan antara fiksi dan realitas, apa yang dikemukakan
Teeuw di atas, berhubungan dengan horison harapan yang tertuang dalam teori
resepsi Hans Robert Jauss, yaitu, pertama, ditentukan oleh norma-norma yang
terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; kedua, ditentukan oleh
pengetahuan dan pengalaman atas sebuah teks yang telah dibaca sebelumya;
ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan. Proses pemahaman, bagi teori
resepsi, selalu bersifat dinamis sepanjang waktu. Inovasi membuka peluang
terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan
kekinian yang serba temporer.
Hubungan dialektis antara masa lalu dan masa kini, tradisi lisan
merupakan proses imajinatif yang hidup di masa lalu hingga masa kini memiliki
tujuan dan ekspresi yang jelas. Nilai-nilai kesastraan tetap hidup dan inheren di
dalamnya, namun nilai lain dapat masuk sesuai dengan kondisi sosiokultural
masyarakat masa kini. Kita tidak menafikan adanya proses kreatif inovatif dalam
sastra lisan. Inovasi ini menuntut perubahan, baik memanfaatkan yang lama atau
dalam bentuk yang lain, tanpa menghilangkan tipikalitas sastra lisan tersebut
(Endraswara, 2009: 246).
Derasnya arus modernisasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang
melanda kehidupan masyarakat, tradisi lisan untuk zaman sekarang ini bukan lagi
sebagai aktivitas kultural di mana perwujudannya tidak mampu memenuhi cita
rasa estetika serta hiburan bagi masyarakat saat ini. Maka boleh jadi, masyarakat
dengan gaya hidup modern sekarang ini, pertunjukan tradisi lisan sudah bukan
177
zamannya lagi. Artinya, penuturan tradisi lisan saat ini sudah tidak bisa lagi
dikonsumsi dan harus menghilang dari peredaran. Itu sebabnya sebagian orang
banyak yang cemas dengan lenyapnya tradisi lisan. Sebagian orang sepertinya
memandang tradisi lisan sebagai sesuatu yang terancam seperti etnis atau
masyarakat pendukungnya yang telah melahirkan dan membesarkan tradisi lisan
tersebut.
Tradisi lisan kantola ini sebenarnya telah mengalami proses inovatif,
ketika tradisi lisan ini diintegrasikan ke dalam makna pertunjukkan yang lebih
menyesuaikan dengan keadaan. Namun, inovasi ini tidak cukup mendobrak sifat
monoton dan kekakuan tradisi lisan ini. Kecenderungan masyarakat lebih tertuju
pada aspek hiburan yang dipentaskan. Masyarakat tidak lagi menaruh perhatian
pada lantunan syair-syair tradisi lisan kantola yang dibawakan pelantun yang pada
saat itu dibawakan.
Dalam rangka menanamkan sikap positif masyarakat untuk berprilaku,
maka proses inovasi tradisi lisan yang harus dikembangkan. Inovasi akan
memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika yang dapat
menuntun ke arah yang lebih bermakna, jika dikemas secara tepat dan sistematis.
Pemahaman, tanggapan dan reaksi masyarakat atas esistensi tradisi lisan akan
berubah pula sehingga nantinya tidak lagi menjadi produk budaya minoritas yang
tersobordinasi. Tradisi lisan mampu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai
solusi alternatif, dalam mengatasi persoalan-persoalan yang membelit di dunia
yang telah carut marut saat ini.
178
Dikotomi dengan masuknya modernisasi yang biasa dikemas antara
modern dan tradisional, menyebabkan penghargaan kepada tradisi lisan jauh dari
yang sebenarnya. Bahkan, pemikir kebudayaan Sutan Takdir Alisyahbana, pernah
menyebut kebudayaan tradisional (dengan Borobudur sebagai contoh yang
diajukannya) sebagai kebudayaan dari zaman jahiliyah. Penilaian Alisyahbana ini
didasarkan pada retrospeksi, menunjukan kekaguman apa yang dinamakan
modernitas, bukan pada pengertian yang memadai tentang kompleksitas dan
kekayaan kebudayaan tradisional. Kebudayaan tradisional tetap relevan bahkan
pada masa yang paling modern sekali pun. Lebih dari itu, semakin disadari bahwa
adanya kontradiksi dalam kebudayaan modern, telah dipecahkan justru dengan
cara-cara tradisional (Kleden, 2004: 342).
Sebagai warisan budaya tradisional, tradisi lisan kantola terbukti mampu
melintasi zaman dan terbukti pula mampu memberikan solusi terhadap berbagai
persoalan terutama berkaitan dengan pendidikan budi pekerti, nasehat-nasehat,
dan informasi tentang pembangunan. Tingkat keberlanjutan tradisi lisan kantola,
dengan berbagai unsur di dalamnya, harus perlu dipikirkan dan direncanakan
dengan baik. Hal ini sangat penting, mengingat tingkat pemahaman dan
penghargaan masyarakat terhadap warisan tradisi lisan ini belum menunjukan
perkembangan yang berarti akhir-akhir ini, malah semakin jauh. Generasi muda
tidak lagi mengetahui bentuk, apalagi fungsi dan maknanya, tradisi lisan itu
sendiri. Generasi muda lebih gandrung menikmati budaya pop, sebagai produk
budaya global yang mengglobal. Mengenai revitalisasi tradisi lisan kantola,
menurut Ardana, (2004: 101), bahwa sebenarnya revitalisasi itu sendiri bukan
179
hanya menyangkut nilai-nilai lama, akan tetapi merupakan kombinasi antara yang
lama dan baru dalam beberapa hal dapat dilihat sebagai respon terhadap proses
modernitas.
Tradisi lisan kantola perlu diinovasi secara kreatif, kalau perlu
dikembangkan, reinovasi untuk menemukan formula nilai-nilai baru yang lebih
segar dan atraktif dalam memberikan inspirasi bagi kehidupan kekinian dan masa
depan. Sebagai ungkapan yang berisikan nilai-nilai dan norma-norma, kelahiran
tradisi lisan kantola bersifat anonim. Lahirnya tradisi lisan kantola tentunya
bermula dari proses dan pengumulan dan perpaduan ide, perasaan, dan intelektual
yang diwujudkan dalam lantunan syair-syair yang indah, dan sarat makna. Hasil
pengumulan proses kreatif ini tertuang dalam suatu rangkaian kata-kata yang
mencerminkan masa depan sehingga menjadi local genius yang pantas dijadikan
acuan hidup dalam masyarakat masa kini.
Perkembangan tradisi lisan kantola dapat lebih bervariasi, lebih luas
penyebarannya pada masyarakat Muna, dan menemukan posisi yang lebih baik
dalam konteks kehidupan. Masalah dasar kebudayaan yang dihadapi sebagai
bangsa adalah perlunya kesatuan visi mengenai hakekat pembangunan
kebudayaan. Pada satu sisi kebudayaan, terdapat kebutuhan yang terus menerus
atas penciptaan, kreativitas, eksplorasi, perenungan, serta pendalaman nilai-nilai.
Sedangkan pada sisi yang lain terdapat pengemasan dan penyebarluasan informasi
budaya terkait dengan segi pemasaran finansial. Kedua hal ini memerlukan
penanganan yang terintegrasi dengan visi kebudayaan itu sendiri, yaitu
pemberdayaan diri yang keberlanjutan dengan ditopang oleh keberpihakan
180
semuan pihak, pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama untuk
menyatukan visi dalam melaksanakan pembangunan kebudayaan.
7.4 Makna Pelestarian Budaya
Di dalam ungkapan tradisi lisan kantola terdapat nilai-nilai budaya
masyarakat Muna yang menjadi pedoman dan menjadi tuntunan hidup, sehingga
perlu untuk dilestarikan. Memahami isi dan makna budaya yang terkandung di
dalam tradisi lisan kantola terutama para generasi muda masyarakat Muna, maka
sama pula memahami pandangan hidup, dan sikap hidup yang dianut oleh nenek
moyang mereka. Dengan demikian para generasi muda dapat memahami esensi
dari makna yang terkandung dalam tradisi lisan kantola.
Upaya melestarikan suatu kebudayaan merupakan sebuah keindahan dan
kesempurnaan, tetapi upaya itu di hadapkan pada kenyataan hilangnya satu per
satu tradisi-tradisi yang ada di tanah air. Melestarikan suatu kebudayaan tidak
hanya cukup diwacanakan dengan mengemukakan berbagai indikator
keberhasilannya, akan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan seharihari
dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Proses pelestarian ini
hendaknya tidak bersifat temporal dan sesat semata, sehingga nantinya tercipta
alih generasi pendukung aktif kebudayaan lokal. Upaya pelestarian tetap selalu
dimunculkan namun produk budaya lokal tetap saja terpendam dan lambat laun
mengalami kepunahan dan juga akan terlupakan.
Kondisi ini dipicu oleh faktor internal adalah masyarakat itu sendiri dan
faktor eksternal adalah kondisi di luar masyarakat, yang saling terkait satu sama
lain. Masyarakat mulai tidak percaya diri dengan budaya lokal yang dimilikinya.
181
Mereka beranggapan budaya tersebut sudah usang, kaku, dan menjemukan.
Mereka menginginkan perubahan, dan itu dihadirkan oleh budaya global dengan
berbagai produknya yang dinamis, atraktif dan mampu menghadirkan suasana
yang lebih menyenangkan dan mengembirakan. Akhirnya, masyarakat lokal mulai
meninggalkan warisan budaya masa lalu yang sangat kaya dengan nilai-nilai dan
norma-norma kehidupan yang dapat menuntun ke arah yang lebih baik dan
dinamis.
Untuk menanamkan pemahaman akan pentingnya kedudukan dan fungsi
warisan budaya lokal, maka yang harus ditumbuhkan kembali adalah kesadaran
atau pemahaman di kalangan masyarakat sebagai individu yang berada pada tata
pergaulan dan tata kehidupan yang tanpa batas, saling berinteraksi dengan
masyarakat luar. Kesadaran budaya yang tinggi dapat menimbulkan pengaruh
positif masyarakat dalam menilai keberadaan warisan budaya yang dimilikinya.
Penilaian itu berkaitan dengan apresiasi, tanggapan atau pun penerimaan warisan
budaya sehingga tidak mudah tergiring oleh gelombang globalisasi yang telah
merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat saat ini.
Wilayah dimuka bumi ini tidak satu pun yang terbebas dari dampak
globalisasi. Perubahan zaman terjadi begitu cepat dan tidak terhindarkan lagi.
Pergeseran nilai-nilai kehidupan juga berlangsung dengan sangat cepat.
Pergeseran nilai yang sudah pada taraf mengkhawatirkan tampak nyata di depan
mata. Menurut Sutarto (2004: 179), yang menyebabkan pergeseran nilai ini adalah
sebagai berikut 1) Tuhan terasa jauh dan uang terasa dekat; 2) nilai moral lebih
murah dari nilai materi; 3) kekerasan sering digunakan untuk menyelesaikan
182
berbagai persoalan dalam masyarakat; 4) produk-produk budaya global lebih
digandrungi dibanding budaya lokal; 5) kepentingan agama, politik, dan ekonomi
dicampuradukkan sehingga batas-batasnya menjadi tidak jelas.
Saat ini masyarakat terjebak dalam perangkap kapitalisme global, dan
kaum kapitalisme telah berhasil mengubah dan bahkan mengatur perilaku
sosiokultur masyarakat. Padahal, kapitalisme tidak memberikan sistem nilai yang
pasti. Sistem nilai yang selama ini ditawarkan bertumpu pada materi. Kehidupan
yang dilandasi oleh konsumerisme, tidak akan menumbuhkan pilihan dan
keputusan yang benar-benar tulus karena selalu mengacu pada segi materi yang
serba duniawi. Perilaku masyarakat tradisional yang sederhana dan menanamkan
semangat kebersamaan yang berlandaskan kebudayaan lokal, tidak lagi tampak
dipermukaan karena ditenggelamkan oleh nilai-nilai yang dibawa oleh produkproduk
budaya global.
Sztompka (2007: 157), dampak negatif telah ditimbulkan oleh modernisasi
yang menyebabkan kehancuran lembaga dan cara hidup tradisional sering
menimbulkan disorganisasi, kekacauan, dan anomi. Perilaku menyimpang dan
kenakalan meningkat. Ketidakselarasan di sektor ekonomi dan tak sinkronkannya
perubahan di berbagai subsistem. Padahal, visi awal modernisasi berkaitan dengan
keunggulan inovasi atau terobosan kesadaran, moral, etika, dan tatanan sosial
yang berguna bagi umat manusia untuk meningkatkan kesejateraannya.
Kehidupan tatap muka pada masyarakat tradisional yang sudah mulai
hilang, dan tergantikan dengan sikap hidup modern yang individualistis, telah
membuat saluran penerusan nilai-nilai budaya dari gerasi ke generasi berikutnya
183
menjadi terputus. Sebagai gantinya generasi muda dan juga berkat mediasi media
massa yang lebih berorientasi pada budaya-budaya luar yang pancaran informasi
makin melemah, Sedyawati (2008: 42). Hal ini, akan menghasilkan sindrom
modernitas secara menyeluruh, akan menghasilkan kesamaan atau keseragaman
yang melanda berbagai masyarakat dan melenyapkan perbedaan lokal, Sztompka
(2007: 155).
Upaya pemberdayaan masyarakat lokal dilakukan dengan cara
menyediakan fasilitas agar masyarakat bersangkutan mempunyai ketahanan
budaya. Ketahanan budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jati diri dan
kekuatan budaya sendiri, sehingga dengan begitu tidak perlu merasa rendah diri
jika berhadapan dengan kebudayaan lain. Untuk mencapai ketahanan budaya,
diperlukan pengetahuan untuk memahami serta menghayatinya, dan pengetahuan
itu perlu disampaikan dengan sengaja melalui upaya terarah dan terancam
(Sedyawati, 2008: 106). Masyarakat Muna, berdasarkan wawancara dengan La
Mokui (11 Maret 2011), telah memiliki suatu ketahan budaya yang bersumber
dari falsafah damowanu liwu, yang membentuk tata nilai kehidupan yang
memiliki kekuatan budaya, seperti pada kutipan berikut ini.
“Ketika orang memahami falsafah damowanu liwu maka dia secara
individu sudah tumbuh suatu ketahanan dalam dirinya, ketahanan
keluarga, dan ketahanan nasional. Ketahanan berarti orang memahami
sesuatu yang betul-betul harus dipertahankan”.
Falsafah damowanu liwu, mampu memberikan arah bagi kehidupan
bermasyarakat. Konsep ini lebih mengarah bagaimana individu menempatkan
dirinya, timbulnya kesadaran akan diri yang sebenarnya. Ketahanan budaya
dimulai dari diri sendiri, kemudian berkembang diteruskan pada keluarga dan
184
masyarakat. Pada hakekatnya, ketahanan budaya merupakan akumulasi
pengetahuan yang diperoleh berdasarkan proses internalisasi dan sosialisasi dari
segala sesuatu yang diamati secara empiris. Fenomena ini sesuai dengan pendapat
Sedyawati (2008:170) yang mengemukakan bahwa nilai-nilai budaya
diinternalisasikan melalui berbagai pembelajaran, baik yang terstruktur maupun
yang bersifat meneruskan tradisi atau mengikuti adat. Dalam mengertian, adanya
kesinambungan antara pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Pengetahuan
yang bersumber dari warisan budaya masa lampau sangat diperlukan untuk
memberikan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai kehidupan dalam
bermasyarakat.
Berbagai bentuk warisan budaya, termasuk di dalamnya tradisi lisan
kantola mempunyai nilai-nilai sosiokultural yang terdapat di dalamnya, kiranya
perlu terus dipelihara dan dikembangkan karena merupakan acuan bagi
pengembangan tatanan sosial bermasyarakat yang berlaku secara umum. Nilainilai
ini harus mampu berkompetensi dan kompoten terhadap dinamika
perkembangan global, yang dapat terwujud sebagai modal sosial dan modal
budaya. Demikian pula halnya tradisi lisan kantola tidak terlepas keterkaitannya
dengan kebudayaan lokal. Kebudayaan lokal belum tergantikan kedudukannya
untuk menata kehidupan yang beretika dan berahlak. Kebudayaan lokal
membentuk individu-individu yang santun, dapat menjadi panutan bagi individuindividu
yang lainnya.
Masyarakat akan mampu mempertahankan identitas budayanya dan
merespon berbagai gejolak globalisasi, apabila adanya upaya untuk membangun
185
ketahanan budaya. Tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh dan
berkesinambungan, masyarakat akan kehilangan produk budaya lokal. Melalui
penggalian kembali produk-produk budaya lokal yang bernilai-tinggi, masyarakat
akan mampu membangun ketahanan budaya yang telah terkoyak-koyak akibat
kelalaian masyarakat itu sendiri dalam memeliharanya, serta desakan produkproduk
budaya global yang kian hari kian kuat daya cengkramannya. Kesadaran
budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya
lokal, yang selanjutnya mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat
terwujud melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada
konteks lokal. Segala sesuatu harus dimulai dengan niat baik, diamini oleh hati,
dan dilaksanakan dengan wujud yang nyata.
Refleksi
Tradisi lisan kantola, merupakan bagian dari warisan budaya yang
intangible, telah berada dalam tahap kepunahan. Keberadaan tradisi lisan kantola
saat ini, menimbulkan banyak kekhawatiran bagi para pemerhati budaya lokal,
dan juga sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, dan
lembaga non-pemerintah, termasuk para tokoh masyarakat, dan tentu saja
masyarakat Muna sendiri yang menjadi pendukung utama tradisi lisan kantola.
Hal ini menjadi krusial karena keberadaan tradisi lisan kantola tidak
didokumentasikan, untuk itu perlu diupayakan pelestarian warisan budaya lokal.
Revitalisasi budaya lokal, terutama tradisi lisan kantola harus terus digali,
diperkuat, dan dikembangkan dalam rangka menangkal arus globalisasi yang
186
begitu gencar mempengaruhi eksistensi, legitimasi, dan keberlanjutan budayabudaya
lokal saat ini.
Olehnya itu, untuk melestarikan tradisi lisan kantola harus dilakukan
secara sistematis dan terencana, dengan tetap bertumpu pada prinsip berkeadilan,
karena keberadaan warisan budaya ini sudah semakin dilupakan masyarakat
pendukungnya. Pelestarian yang dilakukan selama ini belum memenuhi rasa
keadilan, hanya bertumpu pada wilayah-wilayah yang secara politis dan
ekonomis, memberikan manfaat bagi sektor finansial pemerintah. Sehingga
menimbulkan sikap apatis bagi pelaku budaya untuk terus memelihara produkproduk
budaya mereka. Hal ini sangat terpampang jelas dengan banyaknya
produk-produk budaya lokal yang punah, dan juga yang dirasakan oleh pelaku
aktif kebudayaan yang berada di wilayah Kabupaten Muna yang selama ini
terabaikan oleh pemerintah selaku penentu kebijakan. Para pelaku ini bergerak
sendiri-sendiri, tertatih-tatih dalam mengembangkan budaya lokal tanpa uluran
tangan dari pemerintah dengan memanfaatkan segala sumber daya yang mereka
miliki.
Merupakan sebuah ironi melihat wilayah lain yang perkembangan
budayanya sangat pesat karena terus mendapat bantuan dari pemerintah.
Sementara, di wilayah lain di Nusantara, produk-produk budaya lokal mereka
hanya tinggal menunggu waktu proses kehancurannya. Padahal, kebudayaan
nasional bukan hanya bersumber dari wilayah tertentu, melainkan kolektivitas
budaya-budaya lokal yang terdapat di tanah air. Hal ini diperparah lagi dengan
makin maraknya produk-produk budaya global yang terus berkembang dan
187
bertransformasi mengikuti selera masyarakat yang semakin jauh meninggalkan
budaya lokal mereka. Suatu hal yang tidak mengherankan jika pola-pola hidup
masyarakat juga semakin jauh meninggalkan pola-pola hidup yang berlandaskan
pada tradisi masyarakat lokal, yaitu ikatan sosial yang kuat dan sederhana yang
semakin memudar.
Menghargai keberadaan lokalitas berarti akan memberikan ruang untuk
mengembangkan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional bertumpu pada
kolektivitas budaya-budaya lokal, warisan budaya bangsa yang timbul sebagai
usaha bersama rakyat Indonesia secara keseluruhan. Warisan budaya tidak selalu
terpisahkan, tetapi dilihat sebagai bagian yang nyata dari kehidupan masyarakat.
Jika hal ini terlaksana, tradisi yang bersifat budaya lokal dapat menjadi poin
sentral untuk interaksi sosial, keterlibatan masyarakat dan partisipasi yang luas,
dan dapat menjadi poros penting dalam mengembangkan aspek kehidupan yang
lain, seperti pengembangan sosial dan ekonomi. Selain itu, mampu menumbuhkan
ketahanan budaya sebagai rasa memiliki jati diri dan kekuatan budaya sendiri.
Dengan membangun ketahanan budaya. masyarakat akan mampu
mempertahankan identitas budayanya dan merespon berbagai gejolak globalisasi.
Tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan dalam
melestarikan produk-produk budaya lokal, masyarakat akan kehilangan produk
budaya mereka yang telah diwariskan secara turun-temurun.
188
BAB VIII
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan data yang ditemukan di lapangan pada
saat penelitian, dapat diungkapkan berbagai fakta yang menyangkut dengan
revitalisasi tradisi lisan kantola, yang merupakan aktivitas kultural masyarakat
Muna. Fakta-fakta ini menunjukan bahwa telah terjadi pergeseran dan perubahan
persepsi masyarakat terhadap keberadaan tradisi lisan ini. Tradisi lisan kantola
semakin terhempaskan dengan maraknya produk budaya global yang terus
merambah berbagai aktivitas keseharian masyarakat Muna. Berikut ini akan
dipaparkan beberapa simpulan dan saran, yang berlandaskan atas temuan dan
analisis data dengan menggunakan paradigma kajian budaya.
8.1 Simpulan
Deskripsi mengenai bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola, dapat
disimpulkan bahwa keberadaan tradisi lisan ini mulai tergantikan dengan produk
budaya global. Kondisi ini akan berakibat pada pemutusan pewarisan budaya,
yang secara faktual, memang sedang berlangsung. Jika hal ini terus dibiarkan,
maka salah satu produk budaya lokal yang tak ternilai harganya ini akan hilang.
Untuk itu diperlukan upaya dalam mempertahankan keberadaan tradisi lisan ini
melalui pertunjukan tradisi lisan kantola secara periodik. Masyarakat dan
pemerintah harus menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara
keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan kantola senantiasa
terus muncul di permukaan. Peningkatan apresiasi masyarakat akan membuka
189
peluang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan kantola yang
semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan kantola
memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi rancang bangun kebudayaan
nasional karena tradisi lisan kantola merupakan produk estetis simbolis
masyarakat yang berakar pada pengalaman sosio kultur masyarakatnya. Upaya
pelestarian bukan hanya sesaat tetapi harus dilakukan secara bertahap, yaitu
melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan implementasi.
Analisis fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola, dapat disimpulkan bahwa
tradisi lisan kantola dapat menumbuhkan semangat solidaritas masyarakat lokal
yang bertumpu pada tradisi, di mana masa lalu dan masa sekarang sering terkait.
Tradisi selalu melibatkan aspek moral dan etika. Aspek moral dan etika, berfungsi
untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang melekat pada
masyarakat lokal. Penyampaian pendapat melalui komunikasi verbal dengan
menggunakan kantola dapat menumbuhkan sikap santun dan penghargaan
terhadap orang, selain itu juga dapat mempertahankan kecermatan berbahasa.
Memudarnya tradisi lisan di masyarakat merupakan indikasi telah memudarnya
ikatan sosial sehingga terjadi proses dehumanisasi dan terciptanya masyarakat
yang anomi.
Analisis makna revitalisasi tradisi lisan kantola, dapat dikemukakan
bahwa produk budaya global telah mengikis nilai-nilai kehidupan masyarakat
tradisional. Arus kapitalisme global semakin kuat, esistensi tradisi lisan makin
terpinggirkan. Menghidupkan kembali budaya lokal akan berpengaruh terhadap
pengembangan identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan kantola memiliki
190
kekuatan dasar, yaitu kekuatan bermakna edukasi yang berlandaskan nilai-nilai, di
mana nilai-nilai sangat kaya dengan keyakinan-keyakinan yang dapat dijadikan
titik tolak untuk membentuk pribadi yang kuat. Untuk itu proses inovasi terus
dilakukan untuk dapat mempertahankan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi
lisan sehingga membuka peluang pemahaman warisan tradisi masa lalu yang
mampu menjawab persoalan kekinian. Dengan demikian, pelestraian budaya
dapat terlaksana, mampu mempertahankan identitas budaya dan merespon
berbagai akses negatif globalisasi.
8.2 Saran
Mencermati realitas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna,
hasil kajian ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi semua pihak yang
terkait untuk dapat membangkitkan kembali dan melestarikan warisan budaya
lokal yang sangat sarat dengan pesan-pesan filosofis, moral, dan sosial. Saransaran
ini hendaknya mampu diterapkan oleh pihak-pihak yang merasa
berkompeten. Maka langkah-langkah strategis yang diterapkan dalam masyarakat
Muna adalah sebagai berikut.
1. Seyogyanya pemerintah memikirkan secara arif, terencana dan sistematis
langkah-langkah yang diperlukan untuk melestarikan budaya-budaya
lokal, seperti tradisi lisan kantola, yang sudah semakin dilupakan
masyarakat pendukungnya dengan tetap bertumpu pada prinsip
berkeadilan. Pelestarian selama ini hanya bertumpu pada produk-produk
budaya dan wilayah-wilayah yang secara finansial memberikan manfaat
bagi sektor keuangan pemerintah.
191
2. Para pelaku kebudayaan dan pemerintah harus mengatisipasi secara
komprehensif terhadap memudarnya apresiasi masyarakat terhadap
keberadaan tradisi lisan dan memikirkan langkah-langkah strategis dalam
menguatnya kembali sikap apresiatif masyarakat. Hal ini sangat krusial
karena perkembangan produk-produk budaya global begitu cepat dan
langsung diserap masyarakat. Langkah-langkah ini diharapkan mampu
mendorong timbulnya kesadaran budaya akan pentingnya peran yang
diemban warisan budaya lokal.
3. Perlunya mendorong pemerhati budaya dan peneliti untuk terus melakukan
penelitian sastra lisan, yang selama ini terkesan diabaikan oleh peneliti.
Sastra tulis hendaknya tidak dijadikan prioritas penelitian sehingga
menimbulkan kesan seolah-olah sastra lisan menjadi karya sastra
minoritas. Sastra lisan saat ini hanya menjadi onggokan tanpa makna jika
tidak dilakukan penelusuran dan penelitian secara mendalam.
192
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Aderlaepe, dkk. 2006. Analisis Semiotik Sastra Lisan Kantola: Sastra Lisan
Daerah Muna. Kendari: Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara
Departemen Pendidikan Nasional.
Alqadrie, Syarif Ibrahim. 2008. “Identitas Budaya, Identitas Etnis dan
Keagamaan, Kesadaran Etnis, dan Hipotesis Kekerasan 2020an di
Kalimantan Barat. “Makalah disampaikan dalam Kongres Kebudayaan
Indonesia 2008. Bogor, 10-12 Desember 2008.
Ardana, I Ketut. 2004. “Kesadaran Kolektif Lokal dan Identitas Nasional dalam
Proses Globalisasi” dalam I Wayan Ardika dan Darma Putra (ed). Politik
Kebudayaan dan Identitas Etnik. Bali: Fakultas Sastra Universitas
Udayana dan Balimangsi Press.
Arivia, Gadis. 2004. “Mencari Kesadaran Baru untuk Mendapatkan Peradaban
Baru”. Dalam: Jalan Paradoks visi Baru Frijof Capra tentang dan
Kehidupan Modern. Penyunting: Budi Munawar R dan Eko Wijayanto.
Jakarta: Teraju.
Astra, I Gde Semadi. 2004. “Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Upaya
Memperkokoh Jati Diri Bangsa” dalam I Wayan Ardika dan Darma Putra
(ed). Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik. Bali: Fakultas Sastra
Universitas Udayana dan Balimangsi Press.
Astra, I Gde Semadi. 2009. “Epigrafi, Historiografi, dan Kearifan Lokal dalam
Perspektif Multikultural” dalam Pemikiran Kritis Guru Besar Universitas
Udayana Bidang Sastra dan Budaya. Denpasar: Udayana University Press.
Bardia, La Ode. 2006. “Kantola di Kabupaten Muna dalam Prespektif Linguistik
Kebudayaan”. Denpasar: Tesis Program Magister PPs Unud. Denpasar;
Tidak diterbitkan.
Barker, Chris. 2009. Cultural Studies: Teori dan Praktek. (Nurhadi, Pentj).
Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa: Semiotika atau
Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. (Ikramullah Mahyuddin,
Pentj). Yogyakarta: Jalasutra.
Burhan, Bungin. 2010. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, dan Ilmu sosial lainnya. Jakarta: Prenada Media Group.
193
Culler, Jonathan. 1981. The Pursuit of Sign: Semiotik, Literature Deconstrukction.
London: Rouldge & Keagan Paul Ltd.
Culler, Jonathan. 1996. Saursure, Penerjemahan Rodyah dan Siti Suhayati.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Penyumbangan Bahasa.
Dhavamony, M. 1995. Fenomena Agama. Yogyakarta: Kanisius.
Djelantik, M.A.A.. 2008. Estetika Sebuah Pengantar. Jakarta: Masyarakat Sebi
Pertunjukan Indonesia (MSPI).
Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. (Harfiah
Widyawati dan Evi Setyarini, Pentj). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Endraswara, Suwardi. 2005. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media
Pressindo.
Endraswara, Suwardi. 2009. Metodologi Penelitian Foklore: Konsep, Toeri, dan
Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.
Fairclough, Norman. 2003. Language and Power: Relasi Bahasa, Kekuasaan dan
ideology. (Indah Rohmani, Pentj). Malang: Boyan Publishing.
Fakih, Mansour. 2000. Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pengelolaan
Ideologi di Dunia LSM Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fromm, Erich. 2002. Konsep Manusia Menurut Marx. (Agung Prihantoro, Pentj).
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Foucault, Michel. 1977. Dicipline and Punish: The Birth of the Prison. Alih
bahasa: Alan Sheridan. New York: Vintage Books.
Gibbons, Michael T. 2002. Tafsir Politik: Telaah Hermeneutis Wacana Sosial-
Politik Kontemporer. Yogyakarta: Qalam.
Giddens, Anthony. 2003. Masyarakat Post-Tradisional. Penerjemah: Ali Noer
Zaman. Yogyakarta: IRCiSoD.
Giddens, Anthony. 2005. Konsekuensi-konsekuensi Modernitas. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
Griffin, David Ray. 2005. Visi-visi Postmodern: Spritualitas dan Masyarakat.
(A.Gunawan Admiranto, Pentj). Yogyakarta: Kanisius.
194
Hadirman. 2009. “Fungsi Sosial Budaya Bahasa Muna dalam Konteks Katoba”.
Tesis Program PPs Unud. Denpasar: Tidak diterbitkan.
Hendarto, Heru, 1993. Mengenal Konsep Hegemoni Gramsci, dalam: Diskursus
Kemasyarakatan dan Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia.
Ife, Jim, 1997. Community Development, Creating Community Alternatives-
Vision, Analysis and Practice. Melbourne: Addison Wesley Longman.
Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002. Teori Kebudayaan (Landung
Simatupang, Pentj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer.
(Samuel Gunawan, Pentj). Jakarta: Erlangga.
Kristiatmoko, Thomas. 2007. Redefenisi Subjek dalam Kebudayaan: Pengantar
Memahami Subjektivitas Modern Menurut Perspektif Slavoj Zizek.
Yogyakarta: Jalasutra.
Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra
dan Budaya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press.
Koentjaraningrat. 1998. Sejarah Teori Antropologi 11. Jakarta: UI Press.
Koentjaraningrat. 1981. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:
Aksara Baru.
Maliki, Zainuddin. 2004. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. Surabaya:
LPAM.
Marafat, La Ode Sidu. 2008. “Seni Pantun Kantola Dalam Konteks Budaya
Nusantara” Makalah disajikan pada Seminar lntemasional tanggal 2
Desember 2008 di Wanci, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi
Tenggara.
Marafat, La Ode Sidu. 2009. “Seni Kantola dalam Konteks Masyarakat Muna”.
Makalah yang di sampaikan pada Seminar Nasional Bahasa Ibu II
diselenggarakan oleh Universitas Udayana Denpasar, 27-28 Pada Bulan
Februari 2009.
Maryaeni. 2005. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara.
Newton, K.M. 1994. Menafsirkan Teks: Pengantar Kritis Kepada Teori dan
Praktek Penafsiran Sastra. (Soelistia, Pentj). Semarang: IKIP Semarang
Press.
195
Parmer, Richard E. 2003. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interprestasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pilliang, Yasraf Amir. 2004a. Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-Tuhan”
Digital. Jakarta: Grasindo.
Piliang, Yasraf Amir. 2004b. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-
Batas Kebudayaan. Yagyakarta: Jalasutra
Piliang, Yasraf Amir. 2005a. “Menciptakan Keunggulan Lokal untuk Merebut
Peluang Global: Sebuah Pendekatan Kultural”. Makalah disampaikan
dalam Seminar Membedah Keunggulan Lokal dalam Konteks Global
diselenggaran oleh ISI Denpasar, 26 Juli 2005.
Piliang, Yasraf Amir. 2005b. Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era
Virtualitas. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra.
Pozzolini, A. 2006. Pijar-Pijar Pemikiran Gramsci. (Eko PD, Pentj). Yogyakarta:
Resist Book.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan
Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pudentia, MPPS. ed., 2008. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: ATL.
Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan
Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari
Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2008. “Teori Wacana Naratif”. Makalah disampaikan
dalam Matrikulasi Program Doktor (S3) Linguistik. Program Pascasarjana
Universitas Udayana, 12 Agustus 2008.
Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu
Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
196
Sardar, Zianuddin dan Borin Van Loon. 2001. Mengenal Cultural Studies For
Beginner (Alfathri Aldin, Pentj.) Bandung: Mizan
Sayuti, Suminto A. 2008. “Bahasa, Identitas, dan Kearifan Lokal dalam Perspektif
Pendidikan” dalam Mulya (ed). Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah
dalam Kerangka Budaya. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sedyawati, Edi. 2008. Keindonesiaan dalam Budaya. Buku 2. Jakarta: Wedatama
Widya Sastra.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik: Antropologi Linguistik atau Linguitik
Antropologi. Medan: Penerbit Poda.
Simon, Roger, 1999. Gagasan-Gagasan Politik Gramsci. Yogyakarta: INSIST dan
Pustaka Pelajar.
Sobur, Alex. 2003. Semotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Steger, M., B.. 2006. Globalisme Bangkitnya Ideologi Pasar. Yogyakarta: Lafadl
Pustaka.
Stokes Jane. 2007. How to do Media and Cultural Studies: Panduan untuk
Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya. (Santi Indra
Astuti, Pentj). Yogyakarta: Bentang.
Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. (Laily Rahmawati,
Pentj). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Suastika, I Made. 2011. Tradisi Sastra Lisan (Satua) di Bali Kajian Bentuk
Fungsi dan Makna. Denpasar: Pustaka Larasan bekerjasama dengan
program S2 dan S3 Kajian Budaya.
Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya: Citra
Wacana.
Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfebeta.
Sulistyowati, Tutik. 2003. “Proses Institutionalizations Nilai-nilai Sosial Budaya
Masyarakat Tengger dalam Nurudin dkk (ed). Agama Tradisional: Potret
Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Yogyakarta: LKIS.
Surbakti, Ramlan A. 2005. “ Teori dalam Penelitian Ilmu Sosial” dalam Bagong
Suyatno dan Sutibah (ed). Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Prenada
Media.
Sutarto, Ayu. 2004. Menguak Pergumulan antara Seni, Politik, Islam, dan
Indonesia. Jember: Kopyawisda.
197
Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. (Alimandan, Pentj). Jakarta:
Prenada.
Tilaar, H.A.R. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia:
Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Triguna, IBG Yudha. 1996. Arti dan Fungsi Karya Agung Eka Bhuwana di Pura
Besakih. Denpasar: Peradah Indonesia Propinsi Bali.
Widja, I Gde. 1993. “Pelestarian Budaya: Makna dan Implikasi dalam Proses
Regenerasi Bangsa”. dalam kebudayaan dan Kepribadian Bangsa.
Denpasar: PT. Upada Sastra.
Wijaya, Putu. 2008. “Seni Pertunjukan”. Makalah disampaikan dalam Kongres
Kebudayaan Indonesia 2008. Bogor, 10-12 Desember 2008.
Yusuf, Iwan Awaluddin. 2005. Media, Kematian dan Identitas Budaya Lokal:
Representasi Etnit Tionghoa dalam Iklan Dukacita. Yogyakarta: UI Press.
Zaid, Nashr Hamid Abu. 2004. Hermeneutik Inklusif: Mengatasi Problematika
Bacaan dan Cara-cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan.
(Muhammad Mansur dan Khorian Nahdliyin, Pentj). Jakarta: ICIP.
Zamroni. 1999. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Fairclough, Norman. 2003. Language and Power: Relasi Bahasa, Kekuasaan dan
Ideologi. (Indah Rohmani, Pentj). Malang: Boyan Publishing.
198
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara
A. PERTANYAAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
1. Apa yang anda ketahui mengenai sejarah kabupaten Muna?
2. Dalam berinteraksi sosial, bahasa apa yang paling sering digunakan?
3. Tahukah Anda bentuk-bentuk tradisi lisan yang masih sering dipentaskan
ataupun yang sudah tidak lagi dipentaskan?
4. Bagaimana dengan sistem mata pencaharian dan tingkat pendidikan
masyarakat?
5. Apakah terdapat sistem kekerabatan pada masyarakat dan bagaimana
bentuknya?
6. Bagaimana pula dengan sistem religi dan kepercayaan yang dianut
masyarakat?
B. PERTANYAAN BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN
KANTOLA PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
DALAM ERA GLOBALISASI
1. Sejak kapan tardisi lisan Kantola diciptakan, oleh siapa, dan bagaimana
perkembangannya hingga saat ini?
2. Pada mulanya, tradisi lisan Kantola diperuntukkan untuk siapa?
3. Dalam perkembangannya, apakah tradisi lisan Kantola mengalami
perubahan? Jika ada, mulai kapan dan mengapa? apa saja yang menyebabkan
perubahan tersebut? Jika tidak ada, apa yang membuatnya tidak berubah?
4. Pernahkan anda melihat Pertunjukan Kantola? Kapan dan bagaimna bentuk
pementasannya?
5. Apakah tradisi lisan Kantola itu merupakan identitas budaya masyarakat
Muna?
6. Apa saja yang harus dilakukan untuk melestarikan tradisi lisan Kantola dan
bagaimana cara melestarikan hal tersebut?
7. Apakah saja peran tradisi lisan kantola?
199
C. PERTANYAAN FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
1. Apakah saja fungsi kantola yang anda ketahui
2. Apakah fungsi-fungsi tersebut masih diterapkan oleh masyarakat ataukah
telah terjadi penyimpangan fungsi
3. bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat Muna dalam upaya pelestarian
tradisi lisan kantola
4. Apakah upaya pelestarian tradisi lisan kantola sudah sesuai dengan
diharapkan? Bagaimana fungsinya terhadap kehidupan bermasyarakat?
5. Adakah campur tangan pemerintah yang bertentangan dengan upaya
pelestarian tersebut
D. PERTANYAAN MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN
KANTOLA
1. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari penguatan kembali identitas budaya
pada masyarakat Muna?
2. Nilai-nilai budaya apa saja yang dapat diperoleh dari penguatan tradisi lisan
kantola?
3. Makna apa saja yang dapat diperoleh dari upaya pelestarian tradisi lisan
kantola
4. Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap pelestarian budaya di era
reformasi ini? Apakah mengarah pada kesadaran ataupun ketahanan budaya?
200
Lampiran 2 Daftar Informan
No. Nama Usia Pekerjaan Pendidikan
A. Informan Kunci (Key Informan)
1. Drs. La Mokui
(Pemerhati Kesenian
Tradisional Muna)
65 Pensiunan Guru Sarjana
2. La Djehe Palola
(Guru Tari Kabupaten
Muna)
63 - SMA
3. La Ode Kape
(Pelaku Kantola)
71 Petani SR
4. Drs. Muhammad Idul
(Pelaku Kantola)
62 Pensiunan Guru Sarjana
5. La Giy
(Tokoh Adat Muna)
70 - SR
No. Nama Usia Pekerjaan Pendidikan
B. Informan Biasa
1. La Ode Halumi 71 Petani SR
2. La Ode Samuri 65 Petani SR
3. La Ode Karimu 63 Petani SR
4. La Vulu 57 Petani -
5. Wa Dae 65 Petani SR
6. Wa Mangke 70 Petani -
7. Wa Ode Pae 70 Petani -
8. Wa Ode Siti 68 Petani -
9. Wa Ode Hamola 65 Petani -
10. La Kore 60 Pensiunan PNS -
11. La Ode Bouh 62 Petani SR
12. La Dharangku 60 Petani SR
201
Lampiran 3 Peta Lokasi Penelitian
PETA SULAWESI TENGGARA DALAM SULAWESI
202
PETA KABUPATEN MUNA DALAM SULAWESI TENGGARA
203

Tinggalkan Balasan